Breaking News

16 February, 2012

SMART WOMEN DRIVE SMART




By Ibu Embun 

Sama seperti hari hari biasa tahun lalu, hari pertama kerja di tahun 2012 ini diawali dengan mengantar ketiga buah hati saya ke sekolahnya masih masing yang terletak di 3 kecamatan yang berbeda di kota Tangerang. Perjalanan harian yang cukup jauh, sehari saya bisa menempuh 90 - 120 km hanya untuk memutari wilayah Tangerang mengantar dan menjemput anak anak saya di sela kesibukan kerja. Praktis waktu saya memang banyak dihabiskan di jalan raya. Lalu lintas Tangerang yang padat dan macet pada jam sibuk menjadi makanan harian saya sekaligus menjadi area pelatihan sabar dan kecerdasan emosi.Jadi sebenarnya bukanlah hal yang istimewa bila beberapa kali dalam sehari saya melotot gemas pada supir angkot yang berhenti seenaknya, pada anak SMA yang ngebut ugal-ugalan, pada pengendara motor yang sms-an sambil melaju oleng kiri kanan.
Sepertinya saya sudah kebal dengan segala perilaku buruk mayoritas warga Tangerang dalam berkendara di jalan raya meski dalam hati saya ingin sekali membuat kursus smart defensive driving buat sopir sopir angkot.

Seperti juga pagi ini , saya harus menginjak rem mendadak yang menyebabkan Jasmine putri ketiga saya terantuk sandaran jok mobil. Pasalnya seorang pengendara motor matic perempuan dengan balutan baju yang super ketat dengan santainya memotong jalur berkendara saya tanpa memberikan sinyal lampu sign. Duh gusti, bukan kali pertama juga saya gregetan dengan pengendara wanita. Stigma perempuan tidak bisa berkendara dengan baik telah ditunjukan biker berambut panjang tergerai tadi.
No hard feeling  bila untuk hari ini saya mengiyakan stigma berbau diskriminasi gender tersebut meski saya juga perempuan tulen karena siangnya saya kembali mengalami kejadian tidak mengenakan dengan seorang ibu bersedan mewah yang memarkir kendaraannya agak ke tengah jalan sehingga menghalangi pengemudi yang lain, kabar sumir santer mengatakan perempuan tak bisa parkir mobil apalagi paralel..hehe..

Saya sendiri juga tak sempat membuktikan kebenaran isu kecerdasan pengendara wanita di jalan raya, namun dari pengalaman saya memang sering bermasalah dengan para wanita yang ragu mengambil keputusan di jalan raya tapi data statistik juga mengatakan jumlah pengendara wanita yang mengalami kecelakaan lebih kecil dari pengendara laki laki.Meski demikian aman dan cerdas berkendara harusnya menjadi syarat wajib seorang warga negara mendapatkan Surat Ijin Mengemudi. Pengetahuan yang cukup tentang kondisi kendaraan ( yang ini masih jadi PR saya karena sampai saat ini saya masih belum bisa mengganti ban mobil sendiri padahal saya beberapa kali mengemudikan mobil sendiri ke luar kota yang jaraknya lumayan jauh dan melewati jalan tol yang panjang dan sepi ), cara cara mengemudi yang benar, memahami rambu lalulintas akan membuat tak hanya pengendara tersebut yang aman namun juga pengguna jalan yang lain.

Faktor yang tak kalah pentingnya adalah masalah kecerdasan emosi. Sering kali kita menemukan pengendara laki laki yang menjadi "panas hati" ketika jalur berkendaranya dipotong seenaknya lalu kemudian melajukan kendaraannya dengan tidak bertanggung jawab hanya untuk memberi pengemudi lawan "pelajaran" padahal perilaku yang ditunjukn tak jauh berbeda.  Faktanya perempuan juga kerap menunjukan perilaku kurang cerdas emosi di jalan raya dengan takut takut melajukan kendaraannya dengan kecepatan standar, saya yakin banyak yang sering menemukan mbak mbak yang menyetir santai namun mengambil jalur di tengah padahal rambu jalan menunjukan angka 60 km pada batas kecepatan minimal dan itupun harus dilajur kiri karena lajur kanan hanya untuk mendahului. Belum lagi teramat sering saya menemukan ibu ibu dengan anak balita yang memegai anaknya yang berdiri memegang bahu ayahnya yang mengendarai motor atau ibu ibu pengendara motor yang menggendong bayinya di depan dada. Ampuuun..!! Ingin rasanya saya berteriak " sayang anak bu..sayang anak..!".

Kadang saya berpikir sebenarnya tak perlu psiko test untuk mengukur kecerdasan seseorang, cukup lihat saja perilaku sehari hari seseorang di jalan raya. Seberapa besar tanggung jawab yang ditunjukkan mestinya berkorelasi juga dengan kecerdasan seseorang dalam memahami aturan, keselamatan dan menata emosi tak sekedar memikirkan diri sendiri namun juga orang lain.
Sederhananya kalau mau melihat seberapa cerdas seorang perempuan lihat saja bila ia menyetir mobil atau mengendarai motor atau ketika ia menjadi pengguna jalan lain misalnya sebagai penumpang angkot dengan tidak menyetop angkot disembarang tempat. Jalan sedikit menuju tempat tujuan toh juga sehat bagi tubuh dan aman juga bagi pengguna jalan yang lain.
So Ladies..Smart Women Drive Smart !
 

0 komentar:

Post a Comment