Breaking News

15 February, 2012

Singgah Ke Bintang


 By Ara Dwiadi 
Singgah Ke Bintang

Malam belum begitu larut, Rani membuka jendela kamarnya. Ssssh, angin sepoy-sepoy mengelus rambutnya. Udara malam terasa segar. Matanya menyapu seluruh halaman depan rumahnya. Rerumputan tampak tertunduk lesu, kelelahan karena sepanjang siang diterpa angin dan panasnya mentari. Bunga-bunga anggrek dan mawar yang sedang berbunga bergoyang-goyang mengikuti irama angin.
Tiba-tiba  tatapannya tertuju pada sebuah pohon mangga besar dan sudah berumur yang tumbuh tepat di tengah halaman. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, lalu membukanya pelan-pelan. Rupanya ia merasa ngeri melihat pohon tersebut. Batang pohon mangga itu sangat besar bak tubuh raksasa yang menyeramkan. Cabang-cabangnya kokoh menjulang ke angkasa seperti lengan- lengan raksasa yang hendak merangkul langit.
Setelah rasa takutnya hilang, Rani mengalihkan pandangannya ke arah bintang –bintang yang bertebaran di angkasa. Satu, dua , tiga,…..Ia tak melanjutkan hitungannya.Ia menggosok matanya berkali-kali. Ya, rupanya ia sudah tak kuat menahan kantuknya. Namun ia mencoba bertahan. Ia sangat penasaran dengan bintang. Ia sangat ingin melihat Puteri Bintang. Ibunya sering bercerita bahwa di atas bintang-bintang itu ada puteri-puteri yang sangat cantik. Mereka memiliki kulit yang sangat halus, rambut yang indah bergelombang , bersuara merdu dan senyum menawan. Mereka sangat menyukai anak-anak yang baik hati dan rajin belajar .
“Wuaaaah, Rani menguap berkali-kali hingga akhirnya jatuh tertidur di dekat jendela.
“Hai, Rani, bangun! Sebuah suara membangunkannya. “Eh, siapa kamu?” Tanyanya sambil menacari-cari asal suara tersebut.”Ini aku pohon mangga di halaman” . Rani terhenyak,
“Ada apa kamu memanggilku?” tanyanya lagi penasaran.
“Ayo, ku antar kau bertemu Puteri Bintang .Aku sering melihatmu berdiri di jendela dan menatap bintang, pasti kau mau ke sana ,kan? Kata pohon mangga sambil
menggerak-gerakkan salah satu cabangnya.
Rani tak segera menjawab, ia berdiri menatap pohon mangga seolah tak percaya. Tiba-tiba, siuuuups, tubuhnya diangkat oleh pohon mangga itu, tinggi, tinggi dan semakin tinggi. Akhirnya , wow, ia sudah berada di sebuah tempat yang indah.
“Halo, sayang, kamu pasti Rani, gadis yang kerap menatapku dari balik jendela di bawah sana”, tiba-tiba seseorang berwajah cantik menyapanya. Rani tertegun sejenak dan tiba-tiba ia merasa sangat riang. “Aaah, Puteri bintang”,teriaknya.
“Ya, akulah Puteri Bintang yang ingin kamu temui. Ayo, ikut aku , kita pergi berjalan-jalan dan berkenalan dengan teman-temanku”, ajaknya sambil tersenyum manis.
Tanpa membuang waktu, Rani mengikuti Puteri Bintang menemui teman-temannya.
“Puteri ,apakah semua bintang di sini baik dan hidup rukun?” Tanya Rani sambil menggenggam erat tangan Puteri.
“Ya, kami hidup rukun. Kami tidak pernah saling menyakiti. Kalau kami bermusuhan tentu akan hancur seisi bumi ini.”
“Dan , bagaimana dengan Puteri Bulan, apakah kalian juga rukun?” tanyanya lagi, sambil menatap mata Puteri yang indah bercahaya.
“Tentu, kami rukun dan bekerja sama menerangi bumi yang kita cintai ini”, jawab Puteri Bintang seraya menarik tangan Rani “Ayo kita pulang hari sudah semakin larut. Temanmu akan menjemputmu. Dan Uuuuups, dalam sekejap Rani sudah kembali berada di rumah Puteri Bintang yang besar dan sangat indah.. Lalu, oooow, pohon mangga raksasa tiba-tiba menariknya kembali ke bumi.
Rani menggaruk-garuk keningnya. Rupanya seekor nyamuk menggigitnya. Ia mengangkat kepalanya dan menggosok-gosok matanya. Rupanya baru saja ia bermimpi singgah ke bintang dan bertemu dengan sang Puteri. Sebuah mimpi yang sangat indah dan tidak akan terlupakan.
Sebelum menutup jendela sekali lagi Rani menatap bintang yang bersinar kerlap-kerlip di angkasa. “Selamat malam Puteri?” gumamnya. Lalu sambil tersenyum ia menyapa pohon mangga, “Terima kasih atas segala kebaikanmu. Aku tidak akan merasa takut lagi olehmu
Top of Form

         

0 komentar:

Post a Comment