Breaking News

21 February, 2012

Sikuncung shyshycat: Jodoh


Saya ingin sekali menuliskan sebentuk tulisan yang indah tentang Bapak, ayah saya, seperti halnya teman-teman yang memposting tulisan indah tentang ayah mereka.  Tapi sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat.  Bukan karena ayah saya tidak indah, tetapi akan kurang pas bila karakter Bapak saya kemas menjadi cerita yang mengharu biru keungu-unguan, *halagh. 
Demikian pula dengan ibuku, rasanya sedikit kesulitan mengemas cerita tentang beliau kedalam kertas kado berwarna merah muda. 
Silver mungkin lebih pas. 

Hehe.. jangan hiraukan, paragraf diatas hanyalah pembenaran dari kebalelolanku mendramatisasi tulisan.
Apa yang dikatakan mantan pacarku yang sekarang sudah menjadi bapak dari kedua anakku waktu pertama kalinya ia kuizinkan singgah di rumahku?. “Keluarga yang ideal” katanya.  
Ende what? Ende what? (baca: ape? Kage sale bro?).  Kok bisa kalimat itu meluncur dari mulutnya?.  Rupanya si mantan pacarku itu mendengar gelak ibu, bapak (eh tadi ayah ya? Dasar tidak konsisten! *menggetok diri) dan adikku dari kamar sebelah.  “Ha?” kataku (baca: belon tau die.. wekwew).

Ayah dan ibuku, kadang aku bertanya apakah mereka dulu menikah karena dijodohkan?.  Sepertinya 1001 alasan dari 101 kejadian, selalu siap mendukung ketakcocokan itu.  Di dapur, di ruang tv, di beranda, selalu saja ada keributan kecil yang dibuat mereka. 
Seringnya yang mereka ributkan adalah hal-hal remeh bahkan konyol. 
Kalau sudah begitu mereka saling mengadu padaku, yang seringnya sih kujawab dengan senyum atau ngakak, tergantung dari level kebodorannya (kripik Mak Icih ngkalee pk level, qqq). 
Lain halnya dengan adikku yang lebih ekspresif dan masih mahasiswi itu, dia sering terlibat dalam percekcokan rutin tersebut, bahkan bukan jarang akhirnya jadi percekcokan segitiga, nggubrakkkk!.
Kenapa sih tuhan menjodohkan mereka?  Pertanyaan retorik itu seringkali menggelitikku.
 Aku sangat tahu kalau itu sangat tak penting untuk dipertanyakan.  Bukankah perbedaan itu hal yang pasti terjadi dari dua kepala yang diserumahkan?.  Bukankah aku dan suamikupun kadang begitu?.  Iya sih.. tapi ga gitu-gitu amat duehhhh! Wakaka!.

Percekcokan terakhir yang mereka adukan adalah tentang lokasi menanam tanaman Binahong, tanaman obat dengan banyak khasiat.  Ibu ingin tanaman itu ditanam di perbatasan antara garasi dan teras, sedangkan bapak lebih setuju kalau tanaman itu ditanam dipinggir halaman dekat tembok saja. 
Ibu bilang kenapa harus disitu agar tanamannya nanti merambat ke pilar di perbatasan situ, bapak bilang nanti ngagokin keluar masuk mobil. 
Hadeuuuuuuhhh! Aku yang sore itu sedang bad-mood langsung ngeloyor ke ruang depan sambil menggerutu “begituan aja diributin!”. 
Tapi biasanya tidak berapa lama, paling lama dua hari (eh lama ya itumah?, qqq) mereka sudah saling mentertawakan lagi, catet..: Mentertawakan *nepok jidat.  Seperti juga malam itu, mereka sudah sama-sama lagi nonton Nazaruddin.  (Plis degh agh…!).

Ayahku seorang yang lurus dan kaku, mungkin kebanyakan lelaki seperti itu ya?,180  ͦ dari situ adalah ibuku yang supedupe nyeni abiss, kadang membuatku melongo karna ide-idenya yang tak biasa. 
Bapak adalah jenis sesuai aturan sedangkan ibu adalah pendobrak aturan.  Sepertinya itu yang membuat si Bocah Tua Nakal (sebutan untuk bapak) dan si Mc.Gyver (sebutan untuk ibu) kerapkali ribut.

Ah, jodoh..

Itulah yang menyebabkan rumahku tidak seperti cerita di buku pelajaran Bahasa Indonesia, dimana ayah Badu sedang membaca Koran dan Ibu Badu memasak di dapur.  Di rumahku, Bapak tak kalah enak nasi gorengnya, Bapak yang memasak gulai lebaran, bapak yang “mengusir” anak-anaknya dari dapur karena kekakuan kami memegang wajan dan sinduk. 
Ibu hampir bisa segalanya, kecuali urusan listrik dan mobil.

Sekarang mantan pacarku sudah tahu itu,  tapi ia masih berkomentar “asyik”..hmm syukurlah.  Buatku mereka yang terbaik, karena sudah menyayangi suamiku seperti anaknya sendiri. Bagiku mereka yang terbaik walaupun aku kesusahan mengangkat cerita tentang mereka menjadi tulisan bergenre chicken soup.  Mereka yang terbaik karena sudah bermilyar kali memberiku pelajaran tentang bagaimana Memaafkan.

Maka lupakanlah kertas kado ungu kepinkpinkan, atau merah keoranyeoranyean.
Silver juga bolehlah,
atau hejo tai kuda metallic?



*Maafkan saya pak JS. Badudu.. Maafkan saya Kamus Besar Bahasa Indonesia..




0 komentar:

Post a Comment