Breaking News

23 February, 2012

Siapakah Ibu yang Bahagia?

*ikutan nampilin tulisan, diambil dari notes pribadi. Maaf kalo masih kacaw tulisannya, masih pemula, boleh banget kalo ada yang mau ngasi kritik dan sarannya ^^ ***

Tak sengaja, sebuah insiden mempertemukanku dengan seorang teman lama, seniorku saat aku masih mengajar TK, 8 tahun yang lalu. Lama sekali ya.
Ia tak hanya senior bagiku, tetapi sekaligus sebagai kakak dan juga pembimbingku, tempatku bertanya tentang banyak hal.
Dari obrolan ringan, kami bertukar kabar dan informasi tentang kehidupan kami saat ini. Ia dengan 3 orang anaknya, masih menjalani aktivitasnya sebagai tenaga pendidik di Yayasan yang sama, sejak lebih dari 10 tahun tempat ia bekerja. Kabar baik kudapat, Alhamdulillah, ia tak lagi mengontrak rumah, kini telah tinggal di rumah sendiri, walaupun masih kredit.

Aku tengah menceritakan tentang diriku, tentang aktivitasku, saat ia berujar, “aku sebenarnya ingin berhenti kerja, capek kerja terus. Rasanya aku juga ingin sepertimu, berada lebih banyak di rumah, beraktivitas untuk keluarga, untuk suami dan anak-anak.”
“ya sudah, ibu berhenti saja.”
“ga bisa, Bu. Nanti rumahku ga kebayar…”

Ah, sedih juga mendengarnya. Mungkin ia adalah satu dari sekian ibu, yang terpaksa bekerja membanting tulang untuk menunjang ekonomi keluarga. Mereka meninggalkan rumah dan anak-anaknya, hanya ditemani seorang khadimat (pembantu) karena sang ayah pun sibuk bekerja. Beruntung, kupikir dengan ilmu kependidikan yang bagus, dan manajemen waktu yang lumayan, kulihat sekilas anak-anaknya tidak kurang mendapat perhatian dan bimbingan. Anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas.

Aku pun teringat pada seorang kawanku yang lain. Ibu dari 2 orang anak, yang saat ini (memilih) untuk tetap bekerja.
Suatu ketika, ia pun ‘curhat’. Tentang betapa sebenarnya hatinya tidak tenang meninggalkan anaknya dengan seorang pembantu. Bahkan beberapa kali kudengar anaknya sakit, sementara ia tak bisa menemaninya karena harus bekerja. Ia memanfaatkan waktu istirahat untuk pulang ke rumah. Ah, kupikir betapa sangat melelahkan.

Lalu kusarankan agar ia pun berhenti kerja, bukankah gaji sang suami menurutku sudah lumayan. Namun ia enggan berhenti, karena menurutnya, status kepegawaian sang suami yang masih kontrak, belum bisa diharapkan sebagai jaminan masa depan mereka.

Tanpa sadar aku pun membandingkannya dengan keadaanku sendiri. Aku tahu, gaji suamiku berada di bawah gaji suaminya. Status kepegawaian suamiku pun masih belum jelas, entah kontrak apalagi pegawai tetap. PHK mengancam sewaktu-waktu.
Lalu kenapa aku ‘nekat’ berhenti kerja? Tepatnya, kenapa suamiku ‘nekat’ memberhentikanku?
Entah berapa kali aku memberontak, bahkan marah pada keputusan itu. Tetapi inilah jawabannya. Aku berada di dalam rumahku, menjalani aktivitasku sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya.
Dan saat kumemandang pada 2 orang ibu di atas, dan entah ada berapa lagi ibu-ibu yang mungkin mengalami hal sama dengan 2 orang ibu itu, aku merasa sangat beruntung, aku kini merasa sangat bersyukur. Aku merasa menjadi ibu yang sangat bahagia.

Aku bisa menyaksikan tumbuh kembang anakku, membesarkannya dengan tanganku, melimpahinya dengan kasih sayang, mengajarkannya tentang banyak hal. Aku menjadi satu-satunya orang yang ia cari saat ia ingin tidur, atau saat ia bangun tidur. Tak perlu risau bahwa anakku tumbuh tanpa pengawasan, tak perlu risau akan kehilangan perhatiannya saat ia tumbuh besar nanti, tak perlu risau harus berebut perhatian dengan pembantu.

Mungkin aku tak dapat melimpahinya dengan materi, bahkan mainan pun kubuat sendiri. Tetapi aku dapat melimpahinya dengan kasih sayang, dan pendidikan yang baik, setiap saat, setiap detik, tanpa ada sedikit pun jeda terlewati.

Bagaimana dengan masa depan kami? Bukankah rumah kami masih ngontrak? Bukankah suamiku bukan pegawai tetap? Bukankah gajinya masih standar?
Ah biarkan Allah saja yang mengatur. Kami hanya diharuskan untuk berusaha dengan sebaik-baiknya. Mungkin menurut hitungan matematis, target kami untuk punya rumah harus mundur, but there is always the invisible hand on our lifes. Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.

3 komentar:

Dr Driving said...

Great post,Thanks for providing us this great knowledge,Keep it up.

sushi-cat2.com

Thu Lê said...

I was very impressed by this post, this site has always been pleasant news. Thank you very much for such an interesting post. Keep working, great job! In my free time, I like play game: imgtaram. What about you?

ngocanhng said...

I like your all post. You have done really good work. Thank you for the information you provide, it helped me a lot. I hope to have many more entries or so from you.
Very interesting blog.
minecraft2.com.br

Post a Comment