Breaking News

15 February, 2012

Shalat, Sang Pelancar Persalinan



Oleh : Eva Fauziah Mawardi
            Sejak pukul 20.00 perutku mulai celekat-celekit. Semakin lama semakin hebat sakitnya. Waktu rasanya merayap lambat. Ketika Jam dinding berdentang 10 kali. Hatiku tersentak belum shalat Isya. Segera aku mengambil air wudlu. Selama kehamilan aku selalu memperbanyak shalat sunat. Sebelum shalat Isya, aku shalat Syukrul Wudlu  sebanyak 2 rakaat, dilanjut shalat Isya 4 rakaat, shalat sunnat Rawatib  2 rakaat, Shalatul Lail 8 rakaat dan ditutup shalat Witir 3 rakaat. Saat ruku sengaja bacaanku kueja perlahan. Dengan posisi seperti itu, rasa sakit yang menekan perut bawah agak berkurang. Begitu pula saat sujud. Aku perpanjang sujudku sambil kupanjatkan doa-doa.  Aku mohon pengampunan atas segala khilaf dan dosa yang kulakukan. Terselip khawatir saat persalinan nanti aku tak sempat melihat anakku. “Ya Allah... jika Engkau takdirkan aku mati, semoga aku mati syahid seperti  yang dinyatakan Nabi Muhammad Saw...”. Tak lupa, aku panjatkan doa untuk  ibu ayahku tercinta dan semua yang terlintas dalam benakku. Sekitar pukul 12 malam lebih, shalatku baru selesai. Aku merasa doaku tidak dikabulkan. Buktinya,  sakitku semakin mendera hebat. Anakku mendesak perut bawahku seolah tak sabar  segera melihat dunia luar. Aku semakin sering ke toilet untuk buang air kecil. Terakhir kali ke toilet, kulihat lendir merah sudah mulai keluar. Aku mulai agak panik. Kubangunkan suami dengan agak susah payah karena tidurnya pulas sekali habis melakukan perjalanan jauh. Aku perlihatkan noda itu. Suamiku sama seperti aku, kebingungan. Apa yang harus dilakukan malam-malam begini?. Adakah bidan yang mau menerima kami di tengah malam buta?

            Berdua kami susuri malam tanpa bintang.  Sesekali senter batre dinyalakan. Gang kecil menuju rumah bidan kami tapaki perlahan. Kurang lebih pukul 01.00 sampailah di rumah bidan. Rasa mulas semakin menjadi, tapi kami tak kuasa mengetuk pintu rumahnya. Khawatir mengganggu tidurnya. Selama sejam kami menunggu di bangku panjang yang disediakan di teras. Suamiku sudah gelisah melihat kondisiku. Kulihat dia  ingin segera menggedor pintu rumah bidan. Tapi kularang,  karena takut mengganggu tidur bidan. Saat tak kuat lagi kutahan, barulah kami beranikan diri untuk sedikit menggedor pintunya.  Lama tak kunjung  dibuka. Ketukan ketiga sudah dilakukan. Aku ingat sebuah hadis yang menyatakan jika bertamu dan sudah tiga kali mengucap salam atau mengetuk pintu, lalu pintunya tak kunjung dibukakan hendaknya pulang saja. Tapi  aku abaikan hadis tersebut, karena aku hendak berobat bukan untuk bertamu, dalihku dalam hati. Akhirnya setelah digedor agak keras, alhamdulillah pintunya dibuka. Langsung aku disuruh berbaring untuk diperiksa.  “Wah.. Neng, ini mah sudah pembukaan 8.  Bibi..!, Bibi..!! Cepat jerang air panas dan tolong siapkan alat-alat persalinan!. Ibu.. tahan ya bu.., tahan..., jangan diedan-edankan! Nanti tenaga ibu bakal habis..! Atur napas dan embuskan perlahan-lahan yaa..”, ujar Bidan.

           Aku mengangguk pasrah, menuruti saran Bidan. Tepat pukul 2.36 hari Kamis, 29 November 2009 bidadariku lahir selamat dengan berat badan 3 kg dan panjang 51 cm. Rasa mulas yang mendera seketika sirna berganti kebahagian bagaikan kemarau sepanjang tahun, hilang tak berbekas diguyur hujan sehari. Terima kasih ya Allah.., ternyata Engkau kabulkan doaku. Persalinan anakku yang pertama ternyata lancar. Aku jadi teringat kembali pada bacaan yang menerangkan pengaruh ruku dan sujud dalam shalat terhadap kelancaran persalinan. Terima kasih kembali kudesiskan untuk penyebar ilmu tersebut, semoga sejumput ilmu yang ditebar berbuah pahala berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.


0 komentar:

Post a Comment