Breaking News

06 February, 2012

Sepenggal Cerita di Suatu Sore di Sekolah Anakku


  Saat itu aku sedang menunggu anakku  Thoriq dan Iqbal yang asyik bermain sepak bola di lapangan kecil yang masih berada di lingkungan sekolahnya. Aku duduk di saung-saung kecil yang  terletak di sekeliling lapangan. Saung-saung itu biasanya digunakan anak-anak untuk belajar mengaji pada saat mata pelajaran Al-Quran. Tetapi jika sedang kosong seperti saat itu (waktu pulang sekolah) banyak ibu-ibu yang menjemput anak menjadikan saung-saung itu sebagai ruang tunggu, alias tempat numpang duduk sambil menunggu anak-anak keluar dari kelas masing-masing. Aku pun memilih untuk duduk di salah satu saung sambil menunggu anakku selesai bermain bola, biasanya  Thoriq dan Iqbal memang selalu menyempatkan diri untuk bermain dulu dengan teman-teman sekelasnya, jarang sekali mereka mau langsung kubawa pulang, walaupun sekolah sudah bubar dan satu persatu anak-anakmulai meninggalkan sekolah,  pulang ke rumah masing-masing.
Di saat menunggu itulah tiba-tiba seorang pedagang sepatu keliling menghampiriku. Aku agak heran juga sebenarnya, biasanya tidak setiap orang diperbolehkan masuk ke lingkungan sekolah. Entah kenapa pada hari yang spesial itu Bapak penjual sepatu keliling itu kog bisa-bisanya menyelinap masuk ke lingkungan sekolah tanpa diketahui oleh satpam yang menjaga pintu depan.
"Bu...silahkan dilihat-lihat sepatunya bu....," tegurnya padaku.
"Bagus-bagus dan tidak mahal kog Bu,"tambahnya lagi.
Hmmm...aku membuka mulut untuk menolak dengan halus tawaran Bapak si penjual sepatu. Tetapi belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata, Bapak itu sudah nyerocos mempromosikan barang dagangannya. Sepatunya asli buatan Indonesia, kuat, tahan lama dan awet, modelnya juga bagus-bagus. Dan tanpa kuminta ceritanya melebar sampai ke masalah dia yang datang merantau dari Bandung  ke kota Medan (saat itu kami sekeluarga kebetulan tinggal di Medan) membawa dagangan sepatu demi menyambung hidup. Bagaimana dia harus kost di Medan, mengirim uang buat keluarga di Bandung dan seterusnya dan seterusnya yang ujung- ujungnya cerita ditutup dengan kalimat, " Tolong ya Bu...dibeli satuuuu saja sepatunya, seharian ini belum ada yang laku Bu....buat makan dan ongkos pulang ke kost-kostan...", ucapnya memelas.
Aduh....aku jadi salah tingkah mendengar kalimat penutup ceritanya itu.
Aku sama sekali tidak tertarik (dan memang tidak berencana) untuk membeli sepatu dagangannya. Tetapi aku juga merasa tidak enak mendengar ia belum berhasil menjual sepasang sepatu pun seharian itu (terlepas dari apakah ia jujur atau tidak). Rasanya iba juga membayangkan ia telah berkeliling-keliling hampir sehari penuh tanpa hasil apapun.
Syukurlah aku mendapat ide.
"Pak...saya tidak ada rencana beli sepatu, karena sepatu saya kebetulan masih bagus, masih bisa dipakai Pak, selain itu saya juga kebetulan  tidak bawa uang....", ucapku.
"Tapi ini....saya bantu buat ongkos pulang ke kost-kostan insya Allah cukup Pak,"tambahku sambil mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan kepadanya.
Bapak pedagang sepatu itu terpaku memandangku.
Aduh..., aku jadi merasa tidak enak, jangan-jangan ia tersinggung ya dengan pemeberianku itu...kenapa tadi aku tidak bertanya dulu ya....sesalku.
"Bu, kalau sepuluh ribu sih masih kurang...kalau mau ngasih sekalian dua puluh ribu aja kenapa....", ucapannya membuat aku kaget bukan kepalang.
Sontoloyo.... kurang asem.....dan bermacam kalimat sumpah serapah bekelebatan di benakku,
Masya Allah....bukan reaksi ini yang kuharapkan darinya.
"Aduh Pak, saya minta maaf, saya punyanya cuma segitu...dan saya ikhlas memberinya, kalau lebih dari itu tidak ada, jika Bapak tidak mau tidak apa-apa," jawabku menahan jengkel sambil bermaksud memasukkan kembali uang sepuluh ribuan ku itu ke dalam dompet.
"Eh....eh.....bukan menolak Bu....., kalau adanya cuma sepuluh ribu ya gak pa pa...saya terima kog Bu", sambil berkata begitu cepat -cepat diambilnya uang yang hampir saja kumasukkan ke dalam dompet.


0 komentar:

Post a Comment