Breaking News

06 February, 2012

SENYUM RARA


  Bola matanya yang bulat,terus mengamati barang yang ada digenggaman tangannya.”Bunda ini apa?” sambil diacungkan ke arahku barang tersebut
“Oh itu namanya maskara sayang”, jawabku tanpa memalingkan muka dari cermin,karena sibuk mengoles pipiku dengan blush on,selang beberapa menit dia bertanya  lagi.”Kalau ini apa?”,sambil memegang benda lain ditangannya.”Itu eyeliner sayang”,jawabku cepat  masih  tanpa kulirik dia, kulirik jam dinding  yang terlihat dalam cermin,yah telat deh gumamku, jam didinding menunjukkan pukul  delapan kurang seperempat,sementara itu Rara putri sulungku masih sibuk dengan pertanyaan – pertanyaan seputar isi tas kosmetikku,sampai akhirnya kujawab dengan sahutan “Teteh cepetan pake sepatu,sisir rambut terus pakai kerudung,jangan acak – acak tas kosmetik bunda”,selalu kata – kata itu yang terucap dari mulutku setiap pagi.
Kulihat Rara  mengendap  - endap ke kamarku,kubuntuti dari belakang,dia masih belum menyadarinya kalau kubuntuti,kuberdiri di mulut pintu kamar,sambil mengamati apa yang akan dilakukannya,kulihat dia memasukan tangannya ke dalam tas kosmetikku yang selalu terbuka,dan dia menggenggam lipstik, begitu kulihat dia mau membuka tutupnya,aku mendehem pelan,kulihat dia kaget sekali.
“Bunda ,teteh cuma pegang aja kok”,itu kata-kata yang keluar dari mulutnya,dan wajahnya kelihatan kaget sekali,ada perasaan bersalah dibenakku,belum hilang perasaan bersalahku,tiba-tiba.”Bunda teteh pengen pake lipstik ini”,kuambil benda ditangannya dengan perlahan.
“Teteh lipstik itu buat bunda,kalo teteh sudah sebesar bunda baru boleh pakai,ya sayang”, jelasku ,
tetapi kulihat sorot matanya masih penasaran.”Kenapa teteh waktu pentas nari di Sumedang kok boleh pakai lipstik?”,tanyanya dengan nada tinggi.
“Kalau ada acara tertentu seperti pentas menari,menyanyi dan sebagainya,teteh boleh memakai lipstik,tapi kalo tidak ada acara seperti yang bunda sebutkan tadi,teteh tidak boleh memakai lipstik”,jelasku pelan sambil kuraih benda di tangannya itu.
“kenapa bunda selalu pakai setiap hari,meskipun bunda gak ada pentas menari atau menyanyi,mau ke warung aja harus pakai lipstik?”,aku diberondong oleh pertanyaannya yang lucu sekali,kaget juga nadanya meninggi,terus mulutnya jadi manyun.
“Sayang bundakan sudah bilang,bunda sudah besar,teteh kalau suah besar boleh pakai lipstik,mascara,blush on dan sebagainya, seperti yang selalu bunda pakai...oke”, jelasku sambil kebelai rambut ikalnya,tetapi belaianku tidak membuat dia jadi tenang malah sebaliknya.
“Pokoknya mulai sekarang,bunda tidak boleh pakai lipstik mau pergi kemanapun,teteh  tidak mau lihat bunda pakai lipstik,kalau teteh tidak boleh pakai”,teriaknya sambil melepaskan belaian  tanganku dari kepalanya,dan berlari keluar dari kamarku.
Ketika malam tiba, Rara kelihatan masih marah padaku,setiap kutanya dia selalu menjawab dengan ketus,bocah empat tahun ini telah hilang manjanya kepadaku,kebiasaannya yang selalu bergelayut ditanganku,dan merajuk jika menginginkan sesuatu,sekarang berubah menjadi bocah yang mandiri,dan tidak mau bergantung lagi kepadaku,celotehnya yang tidak pernah berhenti,jika dia ingin tahu sesuatu juga telah hilang,malam itu Rara lebih banyak diam.
Hari libur yang cerah,suamiku pulang dari luar kota masih lama,minggu depan baru pulang,kulihat kedua buah hatiku masih tertidur pulas di tempat tidur masing-masing,jam menujukkan pukul tujuh pagi,sinar mentari dengan malu-malu masuk melalui jendela kamar Rara,kemudian pas sekali sinar hangatnya mengenai muka Rara,kuintip di balik daun pintu,kulihat Rara memicingkan matanya,karena silau oleh sinar mentari,perlahan Rara bangun,mengucek-ngucek matanya,kemudian diam termangu memandang sesuatu yang tidak jelas,tanpa ragu kumasuk ke kamarnya,tetapi begitu melihatku dia langsung merubah posisi duduknya membelakangi aku,ternyata dia masih marah padaku.
Kupeluk tubuh mungilnya dari belakang,dia meronta tanpa suara minta dilepaskan,perlahan kulepaskan pelukanku.
“Kita jalan – jalan yuk ke Jatos”, suaraku dibuat bergairah supaya dia tertarik,dan usahaku berhasil,dia merespon ajakanku.
“Asyiiik...tapi pulangnya nanti beliin teteh lipstik  yah” ya ampun ini anak keras kepala sekali batinku,dengan berat dan senyum yang dipaksakan kuanggukkan kepalaku.
“Teteh nggak akan pakai sekarang kok,nanti kalau ada acara pentas baru pakai,tapi buat persiapan bunda harus beliin sekarang”, dia seperti membaca raut mukaku yang keberatan.
Sepanjang perjalanan Rara terus mengingatkan aku untuk membeli lipstik yang dia mau, sampai akhirnya sampai ke tempat yang dituju,yang dia cari bukan lagi permainan yang selalu dia sukai yaitu mandi bola atau naik odong-odong,tetapi dia langsung membawaku ke counter kosmetik,akhirnya aku mengalah,tapi aku akalin,aku beliin dia pelembab bibir yang bisa membuat bibir jadi berwarna merah muda,ya Allah malaikat kecilku ini girangnya bukan main,setelah aku belikan pelembab bibir yang menurut dia lipstik.
Sesampainya di rumah ,pelembab yang menurut Rara lipstik itu langsung dia pakai,senyum dibibirnya tidak pernah berhenti terukir.”Bunda teteh cantik ga?” sambil goyangkan badannya di hadapanku,berbagai pertanyaan terus meluncur di bibir mungilnya itu.
Tiba waktuya tidur benda itu tidak lepas dari genggamannya,kuambil dengan perlahan dari  tangannya,ada perasaan bersalah menyelimutiku,dengan mengatakan kalo pelembab itu lipstik,tapi biar senyum kamu terukir lagi terpaksa bunda berbohong,kamu belum waktunya memakai lipstik sayang....
Sumedang, 18 Agustus 2011..21:54

















0 komentar:

Post a Comment