Breaking News

02 February, 2012

Senyum Adinda

 
Senyum Adinda

Jarum jam belum lagi sampai di angka 7, saat Ken melihat Adinda berjalan menyusuri koridor kampus. Awan mendung masih leluasa menutupi cahaya matahari di pertengahan Bulan Februari. Kampus masih sepi. Entah karena jarang ada kuliah sepagi ini atau memang para mahasisiwa lebih suka menarik selimut dan melanjutkan mimpi, daripada kuliah pagi.
Hmmm… Ken melirik jam yang melilit pergelangan tangannya, masih 30 menit lagi sebelum kuliah di mulai. Adinda memang selalu datang lebih awal daripada teman-teman kuliahnya.
“Nda, aku pinjam catatan Pengantar Manajemen dong! Untuk persiapan ujian minggu depan nih,” Adinda tersentak kaget. Tubuh Ken yang menjulang tinggi, berdiri tepat di depan pintu kelas. Mau tak mau Adinda menghentikan langkahnya. Ia segera merogoh-rogoh tasnya dan mengulurkan buku tulis bersampul biru. Antusias, Ken menyambut buku itu. Menerimanya dengan dua tangan penuh hormat, seperti menerima buku pusaka yang maha penting. Tak ada ekspresi di wajah Adinda melihat tingkah Ken yang kocak. Tak ada senyum atau sapa didapat Ken.
“Thanks ya, Nda. Besok aku kembalikan deh. Janji gak pakai lama,” dua jari Ken terangkat tanda berjanji. Tak peduli dengan ekspresi dingin Adinda, Ken tetap berceloteh riang. Sekali lagi Adinda tak menjawab. Membuat Ken penasaran.
Adinda memang mahasiswi yang antik. Irit kata-kata. Sejak pertama kali masuk kuliah, dia tidak pernah bicara. Semua pertanyaan dan candaan teman-teman di kampus hanya dijawab dengan anggukan dan gelengan. Wajahnya anggun dan tenang. Jarang sekali tampak ekspresi tergambar di wajahnya. Padahal kalau Adinda mau tersenyum sediki…..t saja, Ken yakin wajah Adinda bisa 100 kali lebih cantik. Matanya yang bundar akan menyipit, serupa biji almond. Bibir mungilnya akan membentuk busur, lengkap dengan dua lesung pipit di sudut bibir. Setidaknya begitu bayangan Ken, karena dia belum pernah melihat Adinda tersenyum. Sumpah. Canda yang paling lucu pun, yang bisa membuat teman-teman lain terpingkal-pingkal berurai air mata, tidak mampu memancing senyum Adinda. Membuat Ken gemas. Penasaran. Kenapa Adinda yang cantik dan punya prospek jadi primadona kampus ini jarang sekali bicara
Jangan-jangan dia bisu, begitu gosip yang beredar. Tapi gosip itu segera dipatahkan begitu Adinda dengan lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen yang kebetulan ditujukan padanya.
“Besok aku kembalikan langsung ke rumah mu, ya?” Ken bertanya sok akrab. berusaha mencari kesempatan untuk berkunjung ke rumah Adinda. Pssst… sebenarnya sejak pertama kali melihat Adinda, Ken sudah suka. Berkali-kali dia mencoba PDKT, tapi selalu mentok. Seperti membentur dinding. Ajakan Ken untuk mengantar pulang, makan siang bareng sampai ajakan yang agak “ajaib” seperti, olah raga bersama pasti ditolak Adinda dengan halus. Adinda selalu menjaga jarak. Misterius. Tapi Ken pantang mundur. Prinsip maju tak gentar pun, Ken terapkan untuk mendekati Adinda. Seperti kali ini, Adinda tetap menggeleng pelan. Ken menghela nafas. Mengerti. Tapi masih penasaran.
“Kenapa Nda? Aku tahu kok alamat rumahmu. Aku nggak bakalan nyasar. Boleh yaa… aku ke rumahmu? Ken masih mencoba sekali lagi. Siapa tahu kali ini keberuntungan ada di pihaknya. Dan Adinda berubah pikiran lalu mengijinkan Ken mengembalikan buku ke rumahnya. Tapi… Adinda menggeleng lagi, rambutnya yang indah sebahu melambai seiring gerakan kepalanya. Harum shampoo Adinda menyentuh hidung Ken. Dia memutuskan tidak mendesak lebih jauh. Tapi lain kali pasti kucoba lagi.  Aku gak akan menyerah Adinda, janji Ken dalam hati.
***
Akhirnya kesempatan buat Ken datang juga. Seluruh semesta bekerjasama memberikan kesempatan. Sore itu, selepas kuliah terakhir, seperti biasa Adinda tergesa melangkah pulang. Saat menuruni tangga, Adinda terpeleset anak tangga yang licin karena air tergenang. Terjun melewati tiga undakan sekaligus, membuat mata kakinya bengkak. Adinda meringis-ringis sambil mengusap mata kakinya yang membiru. Ken segera berlari mendekati Adinda. Memeriksa mata kaki Adinda, dan membantunya berdiri. Baru kali ini Ken merasa sedih dan gembira sekaligus. Sedih karena tidak tega melihat Adinda kesakitan, tapi juga gembira karena Ken melihat ada setitik kesempatan baik.
“Aduh… sakit ya, Nda? Ayo aku bantu berdiri. Bisa?” Ken membimbing lengan Adinda. Dengan  bertumpu pada Ken, Adinda berusaha berdiri sambil menahan sakit.
“Ayo, aku antar kamu pulang.”
“Nggak usah Ken, aku bisa pulang sendiri kok. Aduh…,” Adinda mengaduh saat mencoba berjalan tanpa bantuan. Hampir ia terjatuh lagi. Untung Ken sigap menangkap lengannya.
“Nggak mungkin kamu pulang sendiri, Nda! Kaki kamu terkilir parah gini. Gimana kamu bisa jalan?”
“Aku nggak pa-pa Ken. Tolong panggilkan taxi saja.”
“Taxi? Jalan ke gerbang kampus kan jauh, Nda. Ayolah…, kamu duduk di sini aja. Aku ambil mobilku dari lapangan parkir, ya. Biar mobilku jelek dan sudah tua, aku jamin gak bakalan mogok di jalan. Aku antar saja ya? Aku juga sudah jinak kok nggak akan menggigit,” Adinda meringis (paduan antara menahan sakit dan ingin tersenyum mendengar canda Ken).
Ahh… Adinda tidak melihat kemungkinan lain yang lebih baik. Kakinya berdenyut-denyut, sekarang kepalanya juga ikut-ikutan. Sakit sekali. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, dan beristirahat di tempat tidur. Terpaksa dia menerima bantuan Ken, mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, Adinda diam saja. Ken jadi cemas. Berulang kali dia bertanya, “Kamu gak pa-pa, Nda? Kenapa diam saja? Kakimu sakit sekali ya? Mau diperiksa di rumah sakit?” Semua pertanyaan Ken dijawab Adinda hanya dengan anggukan dan gelengan. Akhirnya Ken membiarkan Adinda dalam diam.
Tepat di depan rumah Adinda, Ken tertegun. Dia tahu rumah Adinda memang berada di komplek perumahan elit. Tapi Ken tidak menyangka kalau rumah Adinda benar-benar megah seperti istana. Tamannya luas, indah dan terawat. Kalau rumah Adinda begitu megah mengapa dia enggan teman-temannya berkunjung? Bukankah seharusnya Adinda merasa bangga?
“Sampai disini saja ya Ken, maaf bukannya tidak sopan tapi aku gak bisa mengajak kamu masuk,” akhirnya Adinda bicara juga. Tangannya sudah membuka pintu mobi.
“Gak pa-pa Nda, aku memang orang miskin. Gak pantas menginjakkan kaki di istanamu ini.”
Adinda kaget mendengar kata-kata Ken, “Ken, maaf, bukan begitu maksudku!”
“Lalu apa alasannya aku tidak boleh masuk ke rumahmu? Selain karena aku tidak pantas berkunjung.”
Adinda terdiam, raut mukanya sedih sekali. Ken juga diam, sambil berharap.
“Baiklah, yuk kita masuk,”
Ken lega. Yess…! Aku bisa masuk ke rumah Adinda. Satu kesempatan sudah terbuka. Adinda menelepon dan gerbang pun terbuka otomatis. Ken menjalankan mobilnya perlahan sampai ke pintu masuk. Pintu kayu yang megah dengan pegangan pintu berwarna emas. Seorang wanita, kelihatannya pekerja rumah tangga, membuka pintu. Ken memapah Adinda melewati beberapa undakan, melintasi teras dan masuk ke ruang tamu yang besar. Setelah Adinda duduk di sofa kulit yang super empuk,  Ken duduk di sampingnya. Pandangan Ken menyapu ruangan yang megah, menikmati setiap sudut ruang tamu itu. 2 buah lukisan besar yang indah tergantung di dinding. Lampu hias kristal besar di langit-langit memancarkan sinar kuning temaram. Membuat suasana jadi romantis, setidaknya dalam angan-angan Ken.
Tiba-tiba dari ruang dalam berlari seorang anak laki-laki kecil ke arah Adinda. “Mama….!!!” jeritnya. Ken terkejut setengah mati. Terlebih ketika Adinda mengembangkan kedua lengannya. Sesaat Adinda dan anak berumur sekitar 2 tahun itu berpelukan erat.
“ Mamaaa… kok lama sih, pulangnya?” bocah itu bertanya dengan logat khas anak-anak yang lucu.
Wajah Ken pucat pasi. Belum pernah dia sekaget itu dalam hidupnya. Otaknya masih belum bisa mencerna adegan di depannya.
“Iya mama ada tugas kuliah, jadi lama sayang... Terus mama jatuh di tangga. Nih lihat kaki mama bengkak,”
“Aduh… kasihan, Mama. Sakit ya?” sambi bertanya tangan mungil bocah itu terangkat dan membelai-belai pipi Adinda.
”Sakit sedikit sayang, tadi sudah diobati teman Mama ini. Namanya Om Ken. Ayo Faris kasih salam,” Faris mengangkat mukanya dari pelukan Adinda. Menatap Ken sejenak dengan mata bersinar, lalu mengulurkan tangannya yang mungil. Ken gemetar menangkap tangan mungil itu.
“Nah Faris main lagi sama mbak dulu ya?
“Ya ma…”
Setelah Faris pergi, hening terasa lebih nyata di ruang tamu yang megah tadi. Lukisan yang sama, lampu hias yang sama, dengan temaram cahayanya. Tapi Ken merasa ada yang berbeda dalam hatinya. Perlahan-lahan dia mengerti mengapa Adinda begitu tertutup. Mengapa dia tidak mau teman-temannya berkunjung ke rumahnya yang seperti istana ini.
Tidak seperti biasa, kali ini Adinda memulai percakapan,” Ken kamu baik-baik saja?” Ken hampir tertawa pahit mendengar kalimat yang tadi bolak-balik ditanyakannya pada Adinda di mobil, ditanyakan balik oleh Adinda kepada dirinya.
“Aku gak  pa-pa. Maaf Nda, boleh aku bertanya?” hati-hati Ken berkata. “Karena Faris-kah selama ini kamu selalu menjaga jarak?
Adinda menghela nafas. “ Ya Ken, inilah rahasia kecil ku. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat dari siapapun.”
“Kenapa, Nda?”
“Kenapa Ken?” Adinda bertanya getir. Pandangan matanya memancarkan luka. Seperti hewan yang tertembak. Suaranya pelan dan gemetar. “Masih perlu kamu tanya mengapa. Kamu tahu seperti apa pandangan orang-orang. Sudah cukup aku dicela dan dihina, Ken. Singgle parent not married bukan status yang terhormat. Itulah salah satu alasanku pindah kampus.”
Ken terdiam. Adinda melanjutkan ceritanya: “Aku pernah salah jalan Ken. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Karena kepolosanku aku percaya kalau Randy adalah cinta pertama dan terakhirku. Tapi waktu dia tahu Faris ada di rahimku, dia malah pergi begitu saja. Padahal ujian akhir SMA sudah di depan mata. Aku hancur, Ken,” air mata menitik di pipi Adinda
“Sudahlah, Nda. Gak usah kamu ceritakan,” Ken tidak tega melihat Adinda menangis. “Aku mengerti. Aku gak mau kamu sedih lagi. Yang lalu gak usah kamu ingat-ingat lagi.”
“Gak pa-pa Ken. Aku mau cerita sama kamu. Aku menyesal sekali. Rasanya itu kesalahan terbesar dalam hidupku. Papa sama mama marah besar. Sahabat-sahabatku menjauh. Orang-orang di sekitarku selalu menghina dan memandangku rendah. Setahun aku diungsikan ke rumah nenek di kampung.”
“Kadang-kadang aku berpikir hidupku akan lebih mudah kalau Faris tidak kulahirkan dulu. Semua orang menyarankan begitu. Papa, mama, nenek Tapi aku gak mau. Aku gak mau berbuat kesalahan dua kali. Akhirnya Papa mendukung keputusanku. Sekarang aku bersyukur mengambil keputusan ini. Faris adalah kado terindah buatku. Penghibur hatiku,” Ananda menyusut air mata. “Nah, kamu tahu kan sekarang kenapa aku gak pernah mau kamu atau teman-teman lain datang ke rumah. Ada rahasia kecil yang harus kujaga.”
Ken termenung mendengar penjelasan Adinda, tidak terbayangkan olehnya beban penderitaan Ananda. Dia salut dengan ketabahan Ananda.
“Nda, kamu tahu aku sayang sama kamu. Kenapa kamu selalu menghindar? Kenapa tidak kamu ceritakan saja kondisimu?”
“Kamu tidak marah? Tidak jijik padaku?”
“Kenapa harus jijik?!?!” Ken kaget mendengar pertanyaan Adinda. “Aku tidak serendah itu, Nda. Aku malah kagum dengan perjuangan mu melawan badai kehidupan.”
“Terima kasih, Ken. Maafkan aku menuduhmu seperti ini. Aku pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan teman cowokku.”
“Oh ya…?”
“Ya, begitu dia tahu kondisiku, dia marah sekali. Dia mengganggap aku penipu karena tidak berterus terang dari awal.” Adinda menunduk.
Ken terharu. Diraihnya jemari Adinda. “Aku tidak sepicik itu Nda. Aku tidak peduli masa lalumu. Jangan kau ingat-ingat lagi. Masa depan lebih penting. Aku mau jadi masa depanmu, Nda.”
Adinda terkejut menatap mata Ken yang tampak tulus. “Kamu serius Ken?”
“Serius, dua rius, dua ribu rius. Aku sayang kamu, Nda. Dan tidak ada apapun yang bisa merubah itu. Sudah cukup kisah sedihmu, ya. Jangan menangis lagi. Kita mulai cerita baru dengan senyum. Tahu nggak, kamu manis sekali kalau tersenyum.”
“Dengan Faris, Ken?” gemetar Adinda bertanya.
“Dengan Faris,” Ken menjawab tegas.

0 komentar:

Post a Comment