Breaking News

10 February, 2012

Senjata Rotan Bapak


 
Inna nakhoo fu min robbina...

(Sungguh, kami takut akan azab Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan : 10)

Terbata-bata kulafalkan ayat-ayat surat al-insan  dengan lirih

(Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan : 11)

Hatiku gerimis, mataku mengembun..

Lanjut ayat  ke 12

(disana mereka duduk bersandar diatas dipan, mereka tidak merasakan teriknya matahari dan dingin yang berlebihan : 13)

Air mataku menetes

Haru  yang  menyeruak dikedalaman hati , kenangan yang menari dalam memori kerinduan.

Apa kabarmu, pak?? Sedang apa disana??
Semoga rahmat dan ampunan selalu menyelimutimu dalam tiap dinginnya malam, dan memberimu kesejukan di teriknya siang…

Pak..hari ini, hapalanku  baru sampai di surat al insan, jika tak ada halangan, satu surat lagi lanjut ke juz 28.  Moga Allah memberikan kemudahan untukku menghapalkannya ya pak?

Pak masih ingat tidak, saat senjata “rotanmu” begitu bernyawa saat pertama kali mengenalkanku  huruf demi huruf Al-qur’an,dulu ,saat aku TK. Kadang aku begitu bahagia saat kau terlambat pulang dan tak sempat mengajariku baca qur’an.


Masih ingat kah pak,saat aku berlari memelukmu saat kejadian itu
kukatakan bahwa aku sayang padamu, Seketika itu juga tangismu pecah. Ah,sosok tegar, tegas dan  kokoh itu, kini berurai air mata,hanya karena sebuah pelukan permintaan maaf dari puterinya yang seringkali membantahnya, puterinya yang selalu berbeda pendapat dengannya,yang tak pernah mampu membuatnya bangga.

Masih ingatkah kau pak. Saat tatapan matamu,  seketika mampu membuatku berhenti menangis saat aku sedang merintih kesakitan,kau selalu bilang, “jangan cengeng,anak bapak nggak boleh cengeng”, begitu katamu.

Masih ingatkah,saat kita menang main bulutangkis melawan ibu dan yusuf  kala itu. Kau pun berkata"….ananda,kau memang hebat."

Pak, masihkah ingat saat kau masuk kekamarku, dan menyelipkan uang gaji pensiunmu dibawah sajadahku saat ku sedang shalat??dan berpesan “nih jatahmu,.semoga berguna ya." 


Masih ingatkah kau pak,saat dalam sakitmu,kau masih menungguku di teras rumah, dengan penuh kecemasan,saat aku telat sedikit saja pulang dari kantor.
Meski khawatir itu terekspresi dalam bentuk marah,ku tau,kau begitu ingin menjagaku.


Masih kuingat getar tangan kokohmu saat menjabat calon menantumu,saat kau berkata”Fulan…aku nikahkan kau dengan puteriku ……..”
dan kau dengan ikhlas mengantar puteri – puterimu menuju perjanjian agung itu,meski dengan titik-titik airmata.

Masih kuingat jelas, saat malam di 27 ramadhan, saat tubuhmu mulai melemah, dan kulantunkan talqin pelan di telingamu, kau masih mengucapkannya dengan jelas, saat tatapanmu menerawang, aku takut pak, takuut sekali saat itu, takut jika kau benar-benar pergi saat itu. Dan takdirmu pun berhenti saat itu.


Pak,masih kuingat saat ramadhan di 1426 itu, aku sempat mengikuti dauroh janaiz,dan alhamdulillah ilmunya terpakai saat mengantarmu pergi,aku ikut mengafanimu pak,dan sempat membelai wajahmu dalam pangkuanku, saat tubuhmu telah berbalut kafan. Saat itu kukatakan..."pak,aku ikhlas..selamat jalan ya.."
dan itu,membuat orang disekitarku menahan isak.

saat malam takbiran pertama tanpamu, syawal pertama tanpamu, idul fitri tanpamu, perih..  saat aku tak sempat memelukmu dan memintakan maaf.

Sedih,tatkala uang gajiku, tak sempat membuatmu bahagia, tak sempat membelikanmu baju baru, celana baru, sarung baru, atau baju koko baru.

Laraaa sekali, saat sekalipun aku tak pernah sempat mengajakmu makan dirumah makan padang favoritmu, atau mengajakmu jalan-jalan ketempat-tempat  indah, sekedar hiburan melepas penat.

Hari dan tahun-tahun selanjutnya, adalah hari dan tahun-tahun untukku memompa semangat. Puncaknya adalah ramadhan, idul fitri dan syawal adalah gerbang untuk kerja beratku selanjutnya,kerja berat memompa semangat untuk terus memperbaiki diri agar kebaikannya terus mengalir untukmu. Ya, hanya dengan cara itu aku bisa membahagiakanmu pak, melalui amalan terbaik tanpa henti, melalui huruf demi huruf al qur’an yang kuhapal, ayat demi ayat, lalu surat demi surat, untukmu. Agar kemuliaanmu terjaga oleh perbaikan akhlakku hari demi hari.

Wajahmu yang pertama kali hadir saat lamat-lamat kuucap doa indah tulus,hanya untukmu, ”Maka…kuatkanlah ikatan pertaliannya ya Allah…abadikanlah kasih sayangnya…”

Pak, belum terlambat kan?? Jika didunia aku tak sempat membahagiakanmu, ijinkan aku membuatmu bahagia dengan memberikanmu mahkota cahaya dan memakaikanmu jubah kemuliaan kelak (Amiiin), melalui huruf demi huruf, ayat demi ayat, surat demi surat Al Qu’an Al kariim (moga Allah memudahkan dan mengistiqomahkan..amiin)


Pak,apa kabarmu diidul fitri kali ini..???
berjuta doa dan AyatNya kukirim untuk menyinari dunia kecilmu disana,seiring dengan rasa sesalku,seiring dengan rasa takzimku.

berjuta rindu untukmu,pak. Smoga Allah menyatukan kita kembali dalam satu keluarga utuh kelak, dengan naungan maghfirahNya.


Dedicated to Almarhum : Rachman Zein Bin Zainal Abidin Lintang

0 komentar:

Post a Comment