Breaking News

15 February, 2012

Selamat pagi, Pecandupagi ...!





10 bulan sudah "Norvan Pecandupagi" (Komikus Supercondom, Narkomika, Komik Pamali, pendiri Minor Bacaan Kecil dan Minor Books, Ilustrator, Fotografer, Videografer, Pemusik, Art Teacher dan The Pecandupagi Artworker) meninggalkan dunia, menyisakan tangis dan kerinduan yang dirasa oleh orang-orang yang mencintainya, sahabat-sahabatnya, kerabat dan tentunya kami, orangtua dan kakak satu-satunya. Kedua anaknya yang belum mengertipun hanya mampu termangu menatap kosong pada nisan yang membisu.

Kanker Ganas Pankreas Stadium 4  telah merenggut keceriaan dan kesehatannya. Bukan, kematian Norvan bukanlah dikarenakan oleh kanker itu, melainkan karena memang hingga disinilah Allah memberikan waktu baginya untuk hidup di dunia. Kanker hanyalah sebagai pengantar baginya menuju kepada Sang Pencipta, yang meniupkan ruh padanya sebelum mengirimnya terlahir ke dunia.
Begitu banyak teman, sahabat dan kerabat yang mengantar ke peristirahatan terakhirnya. Sebuah pemakaman sederhana, sesederhana hidup dan pola pikir yang senantiasa dilakoninya hingga akhir hayat.

Norvan, atau Cumi, Nornyed, Jim, dan seabreg nama panggilan lain selain panggilan kesayangan di keluarga yaitu Ipang, adalah sosok misterius yang senantiasa membawa kesegaran pada kesehariannya. Kenapa disebut misterius ? karena moodnya yang seringkali naik turun tak mampu ditebak. Kadang dia tampak begitu gembira ada di tengah-tengah sahabatnya, namun kegembiraan itu bisa seketika lenyap entah karena apa dan mendadak ia mengurung diri dalam kamar kesunyian miliknya.

Namun ternyata mood yang hilang timbul itu tak menyurutkan para sahabatnya untuk tetap mencintai dia apa adanya. Begitu banyak canda yang tercatat hingga akhir hayat, sebanding jumlahnya dengan sepi yang senantiasa dirasakannya pula.

Sepi dan Pagi, adalah dua sahabat terdekatnya. Namun begitu, ia sangat mencintai para sahabatnya, itu ia buktikan dalam kata-kata yang sempat ia ucapkan menjelang saat-saat terakhirnya, “Ipang sayang banget sama semua temen-temen Ipang”, begitu ujarnya sebelum sesaat kemudian ia kembali tak sadarkan diri.

Catatan ini saya kumpulkan untuk mengingat kembali sosok Norvan Pecandupagi yang lekat dalam benak kita. Kenangan yang terserak, coba saya raih dan ikat menjadi satu kisah manis yang mungkin bisa jadi bahan perenungan bagi kita, bahwa sesungguhnya hidup itu teramat sederhana dan gak perlu dibikin rumit. Aha ! 
Penyusun,

Lygia Nostalina




Saat-Saat Manis Itu (Kumpulan Statusku di Hari-Hari Terakhir Almarhum Adik)

20 November 2010
Status           : “Sungguh tak sanggup aku melihatnya seperti itu. Dengan kondisi yang makin luar biasa. Ya Allah, kalau boleh kupinta,  izinkan aku menanggung sebagian rasa sakitnya. Allahu Akbar, Dik... bersabarlah, engkau sedang dicintai-Nya”

28 November 2010
Status           : “Kemarin malam ketika habis aku bantu buang air kecil di tempat tidur, adikku mengusap lenganku dan mengatakan : sabar ya, Gi.. sing ikhlas.. gak akan lama kok.... Deg! Perasaanku langsung gak karuan. Semangad, Dik ! Ayo usir kepiting itu dari tubuhmu dengan semangad dan tekad kuat !”

06 Desember 2010
Status           : “Sudah sulit bernafas, sudah kehilangan kesadaran. Sudah sering tidak mengenali orang2 yang ada di sekitarnya. Ya Rabb, berikan yang terbaik. Apapun.. kami ikhlas...”

07 Desember 2010
Status           : “Mamah jangan nangis. Ipang jadi pusing liatnya. Ipang Cuma mau pulang...” igaunya sambil matanya tak lepas menatap dan tangannya mengelus2 wajah Mamah.

08 Desember 2010
Status           : “Norvan Pecandupagi, kuatlah kau menjalani takdirmu. Kami semua ikhlas apapun yang terbaik untukmu. Kami semua mencintaimu. Untuk seluruh sahabat dan rekan2nya mohon bukakan pintu maaf atas semua kesalahan dan kekhilafan yang mungkin pernah dilakukan oleh Norvan. Semoga jalan yang hendak ditempuhnya sempurna dan penuh cahaya”.

13 Desember 2010
Status           : “Harum baumu masih bisa kusesap dari baju yang terakhir kau pakai ketika ‘pulang’. Masih sangat merindukanmu seperti dulu. Ayo kita acak-acak lagi surabi Mamah ! Semoga Allah mengirimkan lentera padamu agar terang tempatmu tertidur di sana”.

Status-status di atas hanyalah gambaran, betapa dekatnya aku dengan adik satu-satunya yang kumiliki itu di saat-saat terakhir kehidupannya. Setiap malam sejak Oktober 2010 hingga 10 Desember ketika kuantar ia menuju tempat tidurnya yang abadi, nyaris kami tak terpisahkan siang dan malam.

Aku tahu persis apa yang ia rasakan setiap detiknya, hingga bisa kupastikan bahwa ketika rasa sakit menyerangnya sedemikian rupa, tak sedikitpun ia pernah mengeluh. Tak sekalipun kata “aduh” keluar dari bibirnya. Sungguh, hal itu menyadarkanku bahwa berapa sering kita mengeluhkan hal-hal kecil padahal hal itu tak seberapa sakitnya dibanding kesakitan yang ia rasakan akibat kanker pankreas itu ?

Setiap makanan yang masuk ke perutnya senantiasa diawali dengan doa. Ketika makanan yang ia makan terasa enak, ia akan mengunyahnya perlahan-lahan penuh dengan syukur sambil berucap “Subhanallah.. Alhamdulillah nikmat Ya Allah..”.
Sungguh, hal itu membuatku malu karena berapa sering kita mengucap syukur atas apa yang kita makan hari itu sesederhana apapun makanan itu ?

Setiap perbuatan baik yang dilakukan orang lain terhadapnya, ia balas dengan ucapan “terima kasih ya...”, padahal seringkali kitapun lupa mengucapkan terima kasih untuk hal-hal besar yang dilakukan orang lain.

Ah, begitu banyak pelajaran berharga yang aku peroleh ketika menemaninya sepanjang hari. Begitu banyak kenangan yang kami berdua gores kala itu.

Kesukaannya memindahkan saluran TV pada hari Sabtu dan Minggu ke acara-acara kuliner kemudian mendiskusikan makanan apa yang kira-kira enak dimakan untuk hari selanjutnya pada tengah malam ketika yang lain terlelap, panggilannya yang masih terngiang di telinga ketika ia ingin buang air, mengingatkanku ketika sudah waktunya makan dan minum obat herbal, ngobrol berdua dari malam hingga pagi menjelang hanya supaya aku tak jatuh tertidur dan tetap menemaninya terjaga, Tuhan.... aku begitu kehilangan dia !

Betapa adrenalinku terpacu begitu cepatnya dan nyaris tak tidur berhari-hari ketika pada suatu hari Minggu kesadarannya menurun drastis. Ia mulai lebih banyak tidur daripada terjaga, padahal selama ini tidur adalah hal yang paling sulit ia lakukan karena nyaris sepanjang waktu ia harus menahan sakit yang tak terkira. Ketika ia terjagapun, yang ia lakukan hanya memandang sekeliling, seolah seperti ada yang dicarinya, ada yang ditunggunya. Kemudian matanya menutup kembali.

Antara ingin menangis dan tertawa, ketika pada saat-saat terakhirnya pun ia masih saja berusaha menyenangkan orang lain dengan gurauan-gurauan yang dilakukannya ketika ia tersadar. Gurauan yang dilontarkan dengan kata-kata yang sudah terdengar kaku karena lidahnya yang mulai pelo.

Sesungguhnya, aku sama sekali tak kuat menahan tangis, ketika 2 hari sebelum meninggal, Norvan menarik badanku mendekat ke arahnya. Dengan bibir yang ia dekatkan ke telingaku, susah payah ia mencoba mengatakan sesuatu, terbata-bata, “Nanti lu simpen semua foto-foto. Rekening lo pegang. Lu ngerti kan ? ngerti ?”
Dan dia mengelus kepalaku ketika pada akhirnya aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kembali ia masuk ke alam bawah sadarnya, meninggalkan aku meneteskan airmata sendirian karena sesungguhnya aku tak mengerti apa maksudnya, kenapa ia harus mengatakan itu.

Kalimat itu, adalah kalimat terakhir yang sempat dia ucapkan padaku. Tak ada kata-kata manis, tak ada ucap kesedihan dan tak ada airmata sama sekali. Ia begitu diam hingga sayap Malaikat Izrail merengkuhnya dalam dekapan, membawanya kembali kepada Sang Maha Pemilik, Allah SWT.

Tuhan, kalau masih boleh aku mengatakan sesuatu untuknya, tolong sampaikan pada adikku, aku mencintainya. Mungkin dulu kami tak terlalu dekat, mungkin dulu kami tak pernah saling melontarkan kalimat-kalimat manis penuh sayang, tapi aku sangat mencintainya. Tak mudah untuk menjadi salah satu orang yang disayanginya, tapi aku yakin, di saat-saat terakhir itulah jiwa kami terasa amat dekat. Dia ada di sini, hingga detik ini, dekat di jantungku.

Selamat jalan, Ipang.... Allah akan menjagamu senantiasa, memberikan tempat terang agar dirimu bisa leluasa menggambar orang berlubang hidung sepuluh seperti rencanamu yang belum terwujud.
Jum’at, 4 Januari 2011
Kakakmu.



SEPATAH KATA (Goresan Para Sahabat Di Wall Facebook Almarhum)

Hanu Yuliawati
Where would you go that I cannot follow? For how long must I wait until we meet again? What would I do in times that I miss you? -JS- *it's been 40 days n still I can feel you're here with us,take care Pang..* :)
17 Januari jam 19:52


Poltak Situmorang
nyet....
salam buat para maestro di sana..
kami di sini akan melanjutkan karya2 anda!!
tos tangtu eta mah!!!!
became a martir....

PS : spesial utk My step mother Janis Joplin and My Step Father Jim Morrison
and my uncle Bob hahhahha
my old brother KurtCobain.. wellcome to my board!!!!
piss...
03 Januari jam 13:14


Nta 'shinta'
terlambat mengenalmu kang :(
tapi tetap indah lihat karyamu ..
liat kecinta'an para sahabatmu ..
kau tetap membuat saya iri, dan ingin sepertimu ..
*al-fateha sll u/mu kang, pengganti salam kenal saya*
hhihihi^^
30 Desember 2010 jam 11:28


Cikoty Lukman
gak bisa tidur sambil liat2 foto lu pank....jadi inget memori kita berdua pankwaktu sma...yg terlupakan banyak kesannya.kita ke bromo.lawu.begadang.so many thing punk...gw iget waktu sma lo pengen skul di ausie....tapi gak ada cita2 buat keliling dunia.yg gw pingin cuma mau ke newyork doang.tapi alhamdulilah kesampean juga punk.ternyata hidup itu penuh perjuangan punk....skrng ini masih panjang kita gak tau sampe kapan.
30 Desember 2010 jam 0:02


HErgianto Virgi K
hee van... maafkan.. silahturahmi tak akan putus kan... nyet!! sejak awal pertemuan kita 13 thn lalu.. generasi terakhir penataran P4... sampai terus... hingga pertemannan kita selalu menyenangkan... Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
semoga kecerian selalu terkenang... semoga beruntung di tujuan akhir mu sahabat...
29 Desember 2010 jam 1:09


Caax Abrar
kangen bacaa bomb sms lu yang dulu ampir tiap pagi meneror hp gw fan ... "Norvan itu ganteng yaaah" ... dikirim sebanyak 26 kali dengan isi yang sama ... hahaha ... hp lu disana masih sama ga van ... ntar gw bales ...
29 Desember 2010 jam 0:54


Ismail Kenny
Jingga (lagu utk pecandu pagi)
Jingga, engkaulah mimpi indahku
Harapan pelita dalam gelapku.
Tapi kini kau pergi untuk selamanya

Disini sendiri aku menanti
Seperti biasa menemanimdengarkanlah dan rasakan
Aku memanggil namamu

Ref: jingga o..jingga
Senja nan indah t'lah berlalu
Berganti malam dan embun pagitinggal cerita

Walau. Dunia kita berbeda namun hangat cintamumasih ku genggam
Do'aku memelukmu dalam tidur panjangmu
Smoga saja kau damai dalam pelukan illahi.

By: kenny ismail
22 Desember 2010 jam 19:59


Sufiyanto Minke Adisuryo
berkaitan dengan hari ibu nyed,13 tahun yang lalu kita sengaja bersiasat datang mabim ke oray tapa telat, biar semua senior kita bersimpati dgn alsan kita sengaja jauh2 dari jakarta ngebelain datang mabim.Ibuku memberikan kita segentong teh manis sebelum berangkat.kita disiksa*layaknya peserta mabim* karena tidak ada barang yang kita bawa sama sekali buat dikumpulin.hari ini saya yakin sekali bahwa itu tanggal 10 desember 1997 ketika ibuku dapat tiket bepergian sebagaimana dirimu mendapatkannya pada 10 desember 2010.Nyet sore hujan gini jadi sentimentil karena barusan liat yasin nyokap jelas tanggalnya. Bukan kebetulan karena teman yang terakhir diliat nyokap di kamar sekarang sudah juga bepergian pada tanggal yang sama 13 tahun kemudian.Nyed salam peluk cium ya buat nyokap disana, dan jangan dendam sama budi alen yang gak jadi bikinin gitar

Hug,
22 Desember 2010 jam 17:16



Abi Mufti Rahmanda
innalillahi wa inna ilaihi roji'un...smoga segala amalmu diterima oleh Alloh..semoga segala kesalahanmu jikalau ada diampuni juga..maafkan temanmu ini yang sampai kau meninggalpun tak bisa melayat...T_T..miss u brader...
17 Desember 2010 jam 13:25 ·



Langit Khailila
hanya mengenalmu dari tulisan2mu...
hanya mengenalmu dari ilustrasi2mu...
hanya mengenalmu dari foto2mu...
tapi turut merasa kehilangan sosokmu yg telah mewarnai dunia...
sayang, aku tak sempat mengenal seseorang seistimewa dirimu...

selamat jalan norvan, sang pecandupagi...
dan turut berduka cita utk keluarga besar + sahabat2 norvan
16 Desember 2010 jam 22:10 ·



Nona Osiie Disini
terima kasih untuk pertemanan kita yang seperti nano-nano..
  Baik-baik di sana :)
kamu itu teman yang sangat menyenangkan sekaligus musuh paling menyebalkan..
 kamu itu pemberi masukan yang baik,,dan pencela yang berbakat
^^
 rindu kamu..
16 Desember 2010 jam 0:11



Endom Kustomo
Van ! inikah kabar yg kau tititpkan lewat burung elang yg hinggap di atap rumah Emang malam itu. Emang ga ngerti bageur, hingga burung itu emang gusah karena si bibi ketakutan berisiknya persis di atap rumah.... Kalau emang tahu itu suruhanmu akan emang ajak masuk dan emang hangatkan tubuhnya dengan secangkir kopi atau mungkin sepotong goreng mendoan. Van, kapan ke Purwokerto lagi, sungguh emang kangen sama kamu.
15 Desember 2010 jam 1:29



Emil Heradi
Kemaren malam kau pergi sobat... tapi kau masih disana ... aku masih lihat kau
di sangiang, di sekolah kita yang sudah runtuh, di wanayasa, di
pengadilan penembakan trisakti, dan bukit "anggur orang tua", di coretan
dinding kamarku yang telah terhapus. Oh ya titipanmu sudah kubawakan,
kubakar bersama Angga untukmu. Selamat pagi Norvan Pecandupagi , "Yuk Kita manggung Lagi....!"
10 Desember 2010 jam 12:36



Fanny Fitriana
Innalillahi wa innailaihi roji'un ...
telah kembali dengan RahmatNya Norvan Pecandupagi, sahabat, kakak, saudara, yang telah berkarya sepenuh hati...
semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, dan mengampuni semua dosanya..
berbahagialah, brother...
09 Desember 2010 jam 21:06

Mamang David
and when the day I die...thanx God my soul will be released...
in memoriam Norvan Pecandupagi ,,,urang ge nyaah ka anjeun :'(
09 Desember 2010 jam 19:50 ·


Frans Ari Prasetyo
‎Norvan Pecandupagi, selamat jalan kawan !
Pagi akan merindukanmu ! semoga menemukan pagi yang baru ! :'(
09 Desember 2010 jam 19:49




April Lianti
‎Norvan Pecandupagi sahabat sejati mu.selalu kasih semangat ketika kamu sakit..jalan hidup ga pernah tau,skr beliau yg meninggalkan kita duluan..Insya Allah khusnul khatimah..dan semoga di terima segala amal ibadahnya..buat isteri & ke 2 anaknya..kuat & senyum selalu..
09 Desember 2010 jam 19:25




PENUTUP (Status Terakhir Almarhum Norvan Pecandupagi



Norvan Pecandupagi :
“istriku sayang, bilamana aku harus pergi..
bertahanlah bersama kedua malaikat kecil kita..
toh aku tidak lama, hanya ke warung saja..”
15 November 2010 jam 7:23 

0 komentar:

Post a Comment