Breaking News

16 February, 2012

Sekantung Kerupuk (Kepingan kisah bersamamu : ....)


 
By Zabee Bee  
Suatu siang kau terbangun sayang. Memintaku untuk mengambilkanmu sepiring makan siang. Alhamdulillah, hari ini aku tidak telat memasak. Seperti biasa pula dengan cekatan aku mengambilkan nasi dan lauk untukmu, berpacu waktu bersama jantung yang berdetak lebih cepat dan keras. Aku tidak ingin hari ini ada cela. Sempurna inginku, saat kau menerima makan siangmu tanpa komplain. Baru akan beranjak untuk meninggalkanmu, akhirnya pecah juga “ Looh kerupuknya mana?!”. Astaghfirullah…lirih dan penuh khawatir aku menjawab “Kerupuknya habis mas, Bee lupa beli….” “Looh, gimana sie, mas mau makan pake kerupuk, cepat kamu beli, sebelum nasi ini habis”. Aku berlari menuju kamar untuk mengambil uang, ingin menggunakan kerudung dan bertukar pakaian tak mungkin sempat fikirku. Sedang ocehanmu semakin membuatku gugup. “Iya mas, sabar, tunggu sebentar Bee belikan…” Bergegas kutelusuri gang kecil menuju sebuah warung yang ternyata “Kerupuk di sini habis”, panik!, kembali aku berlari menemukan warung berbeda yang mungkin memiliki stok minimal satu kantung kerupuk. Alhamdulillah kudapatkan juga “Aku beli dua kantung mas!”.
Dengan berbinar aku masih berlari, beberapa manusia menatapku bingung. “Aku sedang membawa dua kantung kerupuk untuk makan siang suamiku!” teriakku bangga di dalam hati. Aku tersenyum, sejenak menatap pakaian dan sandal jepit kebesaran yang aku kenakan. Ah aku tidak peduli, sekalipun aku terjatuh. Sekantung kerupuk ini sangat berarti.
Dengan terengah-engah aku menyerahkan sekantung kerupuk ini kepadamu, dengan senyum tentu saja. Lega saat kulihat butiran nasi masih tersisa di piringmu, PASIR WAKTUKU belum habis. Segera kau sambar sekantung kerupuk dari tanganku yang masih bergetar. Kemudian dengan lahap kau lanjutkan makan siangmu. Sedang aku berdiri di belakangmu masih bergetar, dengan sisa nafasku, dengan sisa ketakutanku, tapi BAHAGIA.
Sebenarnya aku masih menunggu sesuatu, hanya sesuatu yang bodoh, karena seperti biasa takkan kudapatkan, karena seperti biasa juga hari ini ternyata tak sempurna. Sudut mataku basah, kuusap. “ Maaf sayang, hari ini masih aku tak sempurna” Akan kucoba, selalu akan kucoba. Karena itu sekarang aku beranjak, tersenyum, dan berucap “Sayang, mau tambah lagi nasi dan lauknya? Bee ambilkan ya…?”
Hingga suatu saat sesuatu itu kudapatkan, sesuatu yang sangat sederhana. Sesuatu yang tak pernah lelah untuk kuraih di sepanjang penantian dan usaha meski SEMPURNA itu tak pernah ada. Sesuatu yang akan melengkapi kebahagiaan seorang istri meski bakti kupersembahkan dengan keikhlasan hati. Hanya satu kalimat sayang…”Terimakasih Bee”. Sebagai penutup lelahku hari ini dan pembuka senyumku untuk esok hari.

Jakarta, Agustus 09
WebRepOverall rating 

0 komentar:

Post a Comment