Breaking News

10 February, 2012

Satu Hari Satu Ikat Sayur Daun Singkong


 
Satu Hari Satu Ikat Sayur Daun Singkong
Oleh : Rima Farananda

Kisah yang akan kuceritakan ini terjadi lebih kurang empat tahun yang lalu. Ketika itu kami sekeluarga masih tinggal di satu kota kecil di daerah Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan. Pekerjaan suamiku menyebabkan kami harus terus menerus menjadi keluarga perantau, karena setiap tiga-empat tahun sekali selalu terjadi mutasi di instansi  tempat suamiku bekerja. Nah kebetulan empat tahun yang lalu suamiku dipindahtugaskan ke kota Padang Sidempuan, sehingga disanalah kami tinggal selama tiga setengah tahun berikutnya (untuk kemudian akan keep moving on….berkeliling terus sampai saatnya suamiku tersayang memperoleh hak pensiunnya…)
            Di Kota Padang Sidempuan, kami mengontrak rumah di satu daerah perbukitan yang bernama Kelurahan Sidangkal. Kelurahan Sidangkal, walaupun terletak di ibu kota Kota Padang Sidempuan, dan statusnya sudah termasuk ke dalam satu Kelurahan, tetapi keadaannya masihlah sangat memprihatinkan. Status kelurahan ini termasuk ke dalam daerah miskin yang hampir di setiap kegiatan pemerintahan selalu mendapat jatah pembagian semua hal yang serba gratis dan berbentuk bantuan. Hal itu kusadari karena letak rumah kontrakan kami yang tidak jauh dari kantor lurah, sehingga  membuat aku selalu tahu jika kebetulan ada kegiatan pemberian bantuan, pembagian raskin (beras miskin) dan lain sebagainya program-program pemerintah yang sasarannya adalah masyarakat miskin (masyarakat Kelurahan Sidangkal salah satunya).
            Masih kuingat dengan jelas betapa strategisnya letak rumah kontrakan kami dulu itu, selain dekat dari kantor Lurah, rumah kami juga adalah rumah dengan halaman depan paling luas se Kelurahan Sidangkal, atau bahkan mungkin se Kota Padang Sidempuan!.
Aku tidak melebih-melebihkan lho…
Rumah kami kebetulan terletak persis di belakang gawang satu-satunya lapangan sepakbola di Kelurahan Sidangkal. Layaknya lapangan sepakbola yang berada di kampung-kampung,  lapangan sepakbola Sidangkal terhampar luas begitu saja di depan mata, tanpa pagar, atau batas-batas apapun yang memisahkannya dari rumah penduduk di sekelilingnya. Rumah kontrakan kami yag kecil dan bercat biru cerah (secerah birunya awan di hari ketika matahari bersinar terik…he..he…) itu terletak persis di belakang salah satu dari dua gawang di lapangan sepakbola itu.  Sehingga sekilas tampak seolah-olah lapangan sepak bola itu adalah bagian dari rumah kontrakan kami, alias halaman depannya!.
Sebagai konsekuensinya, setiap kali ada orang  yang bermain sepak bola di lapangan itu, kami serumah harus menguat-nguatkan diri dikejutkan oleh bombardir tendangan pemain ke arah gawang yang langsung menembus  ke teras depan rumah atau mendarat dengan mulus di atap rumah kami …
            Rumah-rumah yang lain juga sama saja nasibnya, ada sekitar sembilan atau sepuluh rumah yang mengelilingi lapangan sepak bola Sidangkal itu, selain rumah kontrakan kami. Bukan hal yang aneh jika kita mendengar umpatan marah penghuni rumah yang  rupanya dikejutkan oleh suara menggelegar bola yang menghantam atap rumahnya.
Walaupun belum terlalu lama kami menempati rumah kontrakan kami itu, tetapi kami sudah mengenal hampir semua penduduk Sidangkal yang rumahnya terletak  di sekeliling lapangan sepak bola dan sekitarnya.
 Daerah sekitar yang kumaksud di sini adalah lima atau enam rumah lagi yang terletak di tepi jalan setapak menuju sungai tempat sebagian penduduk Sidangkal mandi, mencuci dan…buang air (besar dan kecil). Penduduk Sidangkal yang ramah tamah dan dengan senang hati menerima kedatangan warga pendatang membuat proses penyesuaikan diri aku , suami dan anak-anakku menjadi mudah. Apalagi rupanya sudah menjadi kebiasaan rutin bagi para ibu-ibu di sana untuk berkumpul di sore hari di warung Ibu Rangkuti yang terletak tepat di belakang rumahku , mengobrol ngalor ngidul sambil menonton anak-anak mereka yang asyik  bermain di lapangan sepak bola. Sekali dua kali aku ikut nimbrung  berkumpul di warung itu, dan langsung  mendapat informasi mengenai berbagai hal di Sidangkal. Mulai dari berkenalan dengan para tetangga baruku, jadwal kapan saja tukang minyak tanah lewat (mayoritas penduduk Sidangkal masih menggunakan kompor minyak tanah, termasuk aku tentu saja),  dan banyak hal lain yang sangat membantu proses penyesuaian diriku di sana.
Seperti kusebutkan di awal ceritaku tadi, Kelurahan Sidangkal termasuk satu dari beberapa daerah miskin di Kota Padang Sidempuan. Keadaan ini dapat terlihat langsung begitu kita memasuki  Kelurahan Sidangkal. Rumah-rumah berdinding papan atau tepas yang terlihat kumuh dengan atap seng yang sudah berwarna coklat kekuningan karena karat, adalah pemandangan yang langsung menyambut kami ketika memasuki daerah ini. Rumah-rumah penduduk  terletak tidak beraturan  di sekitar lapangan sepak bola, yang rupanya  menjadi center point kelurahan itu.
 Rumah kontrakan kami adalah satu dari beberapa bangunan yang sudah berdinding tembok, dan bercat lumayan rapi, sementara mayoritas rumah di sana masih terbuat dari papan atau tepas tanpa sentuhan cat sama sekali. Kebanyakan tetangga-tetangga kami nasibnya sama seperti kami , menjadi kontraktor…alias sekedar penyewa/pengontrak rumah. Pemilik rumah-rumah kontrakan di sana kebanyakan penduduk kaya yang kebetulan memiliki tanah kosong sebagai investasi, yang kemudian mendirikan rumah-rumah petak sederhana untuk dikontrakkan.
Nah, ketika itu tepat sehari menjelang bulan puasa, suasana di Kota Padang Sidempuan ternyata amat sangat meriah. Sudah menjadi tradisi rupanya untuk merayakan satu hari khusus yaitu sehari sebelum dimulainya ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Perayaan itu sendiri disebut hari marpangir. Di hari marpangir, semua ibu rumah tangga akan memasak daging sapi sebagai menu utama. Lauk daging sapi akan disantap di siang atau sore hari dan tentu saja akan menjadi menu sahur di malam pertama di bulan puasa. Nah, acara makan siang atau sore itulah yang paling seru, karena diadakan sambil mandi di sungai!. Acara mandi-mandi sambil makan dengan lauk daging sapi inilah yang disebut dengan marpangir. Mandi di sungai ini juga tidak dilakukan secara sembarangan lho, karena ada ramuan rempah-rempah khusus yang terdiri dari bermacam daun-daunan dan kembang yag digunakan untuk membilas badan dan rambut. Ramuan rempah ini sendiri disebut sebagai pangir, dan dapat ditemukan dengan mudah di setiap warung, atau pasar di seantero kota Padang Sidempuan.
Kami sebagai warga baru di kota kecil itu tidak mengetahui tentang adanya tradisi hari marpangir ini. Aku yang kebetulan pergi ke pasar pada hari H-1 sebelum Ramadhan menjadi kaget dan terheran-heran dengan suasana pasar yang luar biasa ramai. Sangat berbeda dari hari-hari biasa. Bagian luar pasar disulap menjadi satu tempat khusus untuk penjual daging sapi. Melihat padatnya pengunjung pasar, sepertinya hampir seluruh ibu rumah tangga se Kota Padang Sidempuan berkumpul di pasar untuk membeli daging sapi sebagai lauk utama pada hari itu.
Sebenarnya aku kepingin juga sih berartisipasi menjadi pembeli di los penjual daging, memasak satu lauk yang istimewa di malam pertama sahur di bulan Ramadhan, mengikuti tradisi penduduk Kota Padang Sidempuan. Tetapi sayangnya (atau malah harus disyukuri yah…) suami dan anak-anakku lebih suka lauk ikan goreng garing dari pada lauk rendang daging, sop buntut dan sebagainya menu dari daging sapi. Sehingga aku pun memutuskan untuk mendatangi los tempat penjual ikan laut segar dari pada ikut nimbrung dengan para ibu-ibu lain di los penjual daging.
Di sore hari menjelang malam pertama bulan puasa lalu lintas di depan rumah kontrakan kami terlihat jauh lebih ramai dari pada hari-hari biasa. Karena letak rumah kami yang berdekatan dengan sebuah sungai kecil, menjadikan jalan di depan rumah kami ramai oleh orang-orang yang hendak pergi ataupun baru pulang dari ritual mandi marpangir. Bau harum dari rempah pangir yang rupanya dipakai oleh hampir semua orang yang baru selesai marpangir menyeruak di udara sore Kelurahan Sidangkal. Wah…suasana menjelang bulan puasa ternyata begitu khas di kota kecil ini.
Di sore hari itu pula aku dikejutkan oleh kedatangan seorang anak perempuan kecil yang berusia sekitar sebelas tahunan.
“Assalamualaikum…….,  Etek….etek…. (etek adalah panggilan khas di Padang Sidempuan, bahasa daerah untuk tante)“, panggilnya dari depan pagar rumah kami.  Dengan sedikit heran aku keluar menemui anak perempuan itu.
“Waalaikumsalam…., ada apa ya dik?,”ucapku sambil menjawab salamnya .
 “Etek…. aku anaknya Emak Uci, yang tinggal di tepi sungai itu,” jawabnya.
“Aku disuruh Emak ke rumah etek, minta supaya dibagi sedikit  lauk daging sapinya, untuk makan sahur kami nanti malam etek…, Emak tidak punya uang untuk beli daging, adik ku yang kecil kalau tidak makan lauk daging katanya dia tidak mau puasa besok etek….”, tambahnya lagi malu-malu.
Oalah….mendengar penjelasan anak perempuan kecil ini aku jadi serba salah. Aduh…kenapa ya di saat ada orang yang memerlukan bantuan, walau pun mungkin hanya berupa semangkuk kecil rendang daging sapi, atau sup daging, aku tidak dapat memberi….
“Aduh sayang….etek minta maaf ya….etek tidak masak lauk daging…,” ucapku terbata-bata. Tidak tega rasanya  aku mengatakannya pada anak perempuan ini.
“Oh…tapi etek ada ide nih, kamu etek kasih uang buat beli lauk rendang di warung nasi depan lapangan bola itu ya?,“ tambahku gembira, menemukan pemecahan masalah ketiadaan lauk daging sapi di rumah kami.
Aku cukup kenal dengan keluarga Emak Uci yang tinggal di tepi sungai kecil tak jauh dari rumah kami. Keluarga itu terdiri dari ibu,bapak dan tiga orang anak.  Setahuku suami Emak Uci bekerja sebagai penarik becak, sedangkan Emak Uci bekerja sebagai tukang cuci. Anak mereka memang ada tiga, aku kenal dengan anaknya yang laki-laki yaitu si Uci karena sering main dengan anakku yang sulung.
“Kamu namanya siapa?”, tanyaku pada anak perempuan ini sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu an. Dengan uang sejumlah itu kalau aku tidak salah ia dapat membeli lima potong rendang di warung nasi sederhana yang terletak tepat di seberang lapangan bola Sidangkal.
“Aku Ita Etek….kakaknya si Uci ,” jawabnya malu-malu.
            Masih dengan senyum malu-malu dan tampak agak ragu-ragu Ita menerima uang dua puluh ribu yang kuulurkan tadi.
            “Makasih Etek”, ucapnya perlahan. Dengan setengah berlari ia membalikkan badan dan langsung menyeberangi lapangan sepak bola Sidangkal, pulang menuju rumah.
            Peristiwa di sore hari itu masih segar dalam ingatanku, ketika Ita datang lagi ke rumah kami di keesokan harinya. Kali ini ia membawa seikat sayur daun singkong di tangannya.
            “Ada apa Ita?”, tanyaku padanya. Sudah hampir lima belas menit ia berdiri di depan teras rumah kami, diam di sana sambil memegang erat-erat sayur daun singkong di tangannya. Tadi aku hanya diam di dalam rumah ketika melihat ia datang dan berdiri di teras, memandang kea rah pintu depan rumah kami dengan ekspresi bingung dan senyum malu-malunya yang khas.
            Sengaja aku diam saja karena ingin tahu apa yang akan dilakukannya di teras depan rumah kami. Apakah ia akan memanggilku seperti kemarin ?.
            Ternyata tidak, Ita hanya diam saja mematung berdiri di teras kami sambil tersenyum-senyum sendiri. Jadilah aku keluar menemuinya.
            “Etek mau sayur daun singkong?”, tanyanya padaku perlahan. Wah….ternyata dia mau memberiku sayur daun singkong!.
            “Dapat dari mana ta?,”tanyaku keheranan.
            “Kuambil dari halaman rumah kami Etek,”jawabnya sambil tetap tersenyum malu, kali ini sambil memilin-milin rambutnya yang acak-acakan.
            Wah…ternyata anak ini murah hati juga…pikirku sedikit kagum. Tetapi apa Ibunya nanti tidak marah, begitu tahu kalau tanaman singkongnya dipetik Ita untuk diberikan padaku?.
            “Sebenarnya Etek masih punya sayur ta, tapi ya sudahlah karena sudah kamu bawakan, Etek terima saja, tetapi bukan gratis, Etek beli saja ya sayurmu itu, ”ucapku padanya, menerima seikat sayur daung singkongnya itu sambil memberikan selembar uang dua ribu rupiah.
            Aku tahu Emaknya memang menanami sekeliling halaman rumah mereka dengan tanaman sayur-sayuran, antara lain daun singkong ini. Biasanya untuk  dijual jika memang ada yang mau membeli, tetapi terutama memang untuk konsumsi mereka sendiri. Rata-rata penduduk Sidangkal memang menanami halaman rumahnya dengan berbagai jenis tanaman sayur-sayuran untuk konsumsi sendiri, sehingga  jarang ada penduduk yang harus membeli sayur. Ini merupakan salah satu cara mereka untuk berhemat.
            Ita terlihat gembira luar biasa menerima uang dua ribuan itu dari tanganku. Mungkin karena terlalu gembira ia sampai lupa mengucapkan terima kasih dan langsung saja berlari pulang.
            Ada-ada saja anak-anak ini. Aku curiga Ita akan segera membelanjakan uang pemberianku itu ke warung Ibu Rangkuti tetangga kami. Menukarnya dengan beberapa butir permen atau makanan ringan lain yang banyak dijual di sana.
            Nah, keesokan harinya, dan besoknya lagi…lagi dan lagi, Ita tidak pernah absen setiap hari datang ke rumahku sambil membawa satu ikat sayur daun singkong setiap hari, yang semakin lama semakin kecil saja ukuran satu ikatannya .  Jangan-jangan sudah hampir habis dipetiknya tanaman sayur daun singkong Emaknya…..
Entahlah, bercampur iba dan geli aku menghadapi kejadian ini, mungkin  bayangan selembar uang seribu atau dua ribu rupiah yang selalu kuberikan setiap kali ia datang untuk  “menyetorkan” sayur daun singkongnya begitu menggoda gadis kecil itu, hingga tanpa perasaan bersalah ia ikut memanen tanaman sayur Emaknya dan membawanya ke rumahku.

Cibubur, September 2011.









0 komentar:

Post a Comment