Breaking News

09 February, 2012

SANG PEMIMPI DALAM HIDUPKU


  Bingkai Kenangan tuk sahabatku Alm. Ganapria Atmawiguna

Dengan berusaha mengumpulkan pecahan memori 20-27 tahun yang lalu, yang bermula dari bangku SMA kelas I ipa hingga kami terpisahkan di saat sebentar lagi kita kan bersama diwisuda di IPB seperti cita-citanya.

Bersekolah di SMA negeri favorit (Sman 2) di kotaku Cirebon, ternyata tidak hanya belajar menuntut ilmu, namun belajar juga berbaur dengan teman2 dari latar belakang keluarga kurang berpendidikan hingga berpendidikan tinggi serta teman2 dari latar belakang budaya jawa cirebon, sunda cirebon maupun tionghoa. Aku kebetulan berasal dari keluarga yang merupakan pencilan kedua latar belakang tersebut, pencilan pula apabila dipertimbangkan tionghoa Islam dan berkerudung, serta lebih jauh lagi aku memiliki pencilan nama yang masih asli dengan bahasa Cina (Lioe Lan Hwa, artinya Hwa= bunga, Lan= jenis anggrek, Lioe family name), jaman 1983 saat itu banyak teman tionghoaku yang sudah memiliki nama Indonesia. Tambahan lagi, saat itu pun aku masih berkewarganegaraan WNA, sehingga setiap tahun harus membayar fiskal orang asing yg sama sekali tidak terpikirkan oleh teman2ku. Berbeda dengan sahabatku yang berasal dari latar belakang keluarga dengan kondisi lebih baik dibandingkan aku dan hampir semua sisi sahabatku bertolak belakang denganku baik dari bahasa, suku, warna kulit, selain kami pun punya hobby yang berbeda, hanya agama saja yang sama. Akan tetapi dalam perjalanan kami, ini sama-sekali tidak menjadi masalah, bahkan keunggulan sikap dan kebaikan keluarganya dapat menjadi panutan sepanjang perjalanan hidupku.

Bermula di semester genap kelas 1 sma, pada pelajaran Biologi, kami sama-sama menekuni tugas yang diberikan guru Biologi tuk meneliti berbagai jenis hewan laut di pesisir pantai, daerah yang biasa jadi jelajahan tempat mainku dari kecil. Tugas itu berhasil diselesaikan dengan baik bersama, kemudian ini berlanjut hingga kami sekelas kembali di kelas 2 sma. Berbagai tugas Biologi, Kimia, Fisika, meskipun berbeda kelompok, kami selalu dapat share ide untuk saling bisa menyelesaikan tugas-tugas tsb, dan setiap kali apa yang kami kerjakan bersama hampir selalu memberikan hasil dan pujian oleh guru.

Tiba masanya di kelas 3 sma, kami kembali sekelas , kali ini kami bersama memupuk kegiatan klub penelitian IPA yang banyak dibantu oleh seorang guru kimia, agungnya cita-cita kami untuk dapat mengikuti lomba penelitian tidak terlaksana saat itu, tetapi cita-cita ini tetap ada di benak kami.
Masih teringat ketika akan sinauwisata (sejenis karyawisata) ke daerah Dieng yang wajib bagi seluruh siswa sma kelas 3 ipa di sekolahku, saat kami ditentukan berada dalam kelompok yang berbeda, sahabatku protes dan berniat tidak akan mengikuti sinauwisata bila tidak sekelompok denganku, meskipun biaya yg relatif besar saat itu telah diserahkan kepada sekolah (teman sebangkuku dan sekitarnya tau persis hal ini). Hal ini dilakukannya agar sinauwisata bisa diikuti dengan serius kalau bersamaku. Baru saat ini kita berada dalam satu kelompok dan kembali bisa menyajikan laporan sinauwisata bersama dengan lengkap.

Tiba pada masa kelulusan sma, sahabatku bertanya jurusan apa yang akan dipilih olehku nanti pada pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi, aku katakan jurusan informatika ITB dan tehnik nuklir UGM sesuai pilihanku ketika mendaftar jalur masuk PT tanpa test semester lalu, saat itu spontan sahabatku juga menyatakan akan memilih kedua jurusan tersebut, yang jelas sama denganku, dengan suara yang tanpa ragu apabila salah memilih seandainya tidak mampu. Ia ingin bersama-sama meraih mimpi dengan orang yang dipercayainya akan serius memacu belajarnya, penjelasannya saat itu. Namun kenyataannya sahabatku diterima tanpa test ke IPB, suatu yang sangat dibanggakan olehnya dan oleh orangtuanya, sehingga Ia membatalkan mendaftar ujian masuk PT. Saat itu, aku masih tetap dengan pilihan tuk memilih ITB dan UGM, sampai akhirnya hari terakhir di sekolah sebelum esok harinya ia harus berangkat ke Bogor memulai matrikulasi di IPB. Saat itu tiba-tiba sahabatku datang kepadaku dengan membawa buku “Kemana Setelah SMA”. Sambil ditunjukkan dengan jarinya jurusan-jurusan yang ada di IPB, ia langsung menanyakan jurusan apa yang aku suka tanpa menanyakan dulu apakah aku akan memilih IPB, dan sambil memohon dengan sangat agar aku pun tertarik memilih IPB dan jurusannya. Setelah beberapa kali ia ucapkan permohonan yang sama, akhirnya (dengan sedikit sombong dalam hatiku kalau aku tak mungkin diterima di pilihan kedua) kukatakan aku akan memilih IPB sebagai pilihan kedua. Tak kusangka meskipun dikatakan pilihan kedua, ia melompat senang sambil meminta keyakinanku tuk benar memilih IPB, tidak apa katanya meskipun itu pilihan keduaku (salah satu sahabatnya yang kini menjadi dokter mengetahui hal ini karena berada di sebelahnya saat itu). Iya percaya kalau aku takkan membohonginya tuk memilih IPB sebagai pilihan kedua. Itulah saat terakhir kami berjumpa di kelas 3 sma. Karena aku masih tertinggal dan harus banyak mengurus pendaftaran test masuk perguruan tinggi serta ijin testnya ke Dikti Jakarta sebagai orang asing.

Test masuk perguruan tinggi di ibukota propinsi Bandung ternyata harus kulalui dalam kondisi badan demam akibat cuaca yang sangat dingin yang tidak biasa untukku, dengan agak mengantuk karena meminum obat sebelumnya, aku jalani test tersebut dengan apa adanya. Pengumuman test di koran menunjukkan kalau aku diterima di pilihan kedua, IPB. Aku menangis tidak diterima di pilihan 1 informatika ITB, karena aku sangat ingin mengembangkan kemampuan matematikaku, dan cita2ku kalau diterima suatu saat nanti aku masih dapat bekerja di rumah sebagai programmer pada saatnya nanti kumemiliki keluarga, karena menjadi wanita bekerja sama sekali tidak kuinginkan saat itu.

Akhirnya aku kukuatkan hatiku tuk melupakan impianku dan melangkahkan kakiku ke gerbang IPB, 2 bulan setelah sahabatku lebih dahulu berada di sana. Kami bertemu kembali, kami berada dalam kelas yang berbeda, pertama kalinya untuk kami. Akan tetapi kami masih bisa sering bertemu, hingga akhirnya jurusan tingkat 2 ditentukan. Sahabatku memilih jurusan peternakan, jurusan yang dicita-citakannya sejak sma dan sesuai dengan hobbynya mengurus hewan. Aku? Kubertekad memilih jurusan statistika, jurusan yang bisa menghilangkan kekecewaanku tidak diterima di informatika ITB. Namun sahabatku mempunyai saran yang lain, yang entah bagaimana aku dapat menerima sarannya dengan logikaku. Aku memilih jurusan teknologi pangan dan gizi. Jurusan yang sama sekali belum pernah singgah di benakku dari sejak sma maupun sejak berada di IPB, tiba-tiba saat itu saja kumemutuskan dan berkeinginan memasuki tpg, singkatan jurusan tsb.

Di tpg, banyak pelajaran yang sangat samar-samar bisa kupahami, baik dari istilah maupun penjelasannya, aku hanya unggul di mata kuliah kalkulus (rata2 100). Indeks prestasi akademik langsung turun drastis dari tahun sebelumnya, kebalikan dengan prestasi sahabatku yang malah cum laude tahun kedua dan seterusnya. Prestasiku tahun sesudahnya juga lebih turun lagi. Ia lalu memperhatikan caraku belajar, kondisi tempat kostku dan juga permasalahanku, dengan semangat yang terus dan terus dibangunnya untukku, akhirnya... kubangkit lagi, hingga akhirnya kebanggaanku tercipta lagi saat aku menjadi Juara I Lomba Karya Inovatif Produktif (dalam LKIM) tingkat nasional dan tertulis namaku diberita Kompas saat itu bersama team penelitian lain. Idenya dari sahabatku ketika ia rajin membantu memberi makan hewan peliharaan kampusnya dengan rumput gajah, hanya pucuknya saja yang dimanfaatkan sementara batangnya terbuang sayang katanya. Aku dan team dari tpg berhasil membuat batang rumput gajah yg terbuang itu menjadi produk pangan baru bernilai ekonomis dan limbahnya menjadi makanan ternak yang bergizi dengan fermentasi single cell protein. Batang rumput gajah ini kemudian juga diteliti oleh temanku yang lain di tpg sebagai bahan skripsinya, bagus untuk pembuatan nata de coco.

Saat itu pernah aku berada pada kondisi biaya kuliah yang sangat menyulitkan sehingga ku ingin memutuskan membantu satu kantin saudaraku di Depok, dan aku kuliah sambil bolak balik Depok-Bogor dengan KRL meskipun kondisi fisikku tidak mendukung, saat itu saudara dari ayahku hampir bisa memaksaku menjaga kantinnya. Namun... sahabatku melarangku keras , sarannya kalau aku tetap mengikuti keinginan itu, prestasiku akan lebih turun lagi, Lioe bisa kuliah tapi nilainya pas-pasan saja, bagaimana nanti ke depannya... katanya dengan mencoba meyakinkanku. Kembali kuikuti saran itu dan aku memilih mencari siswa yang bisa diberi kursus privat untuk meringankan biaya kuliah.

Tiba ditingkat akhir, sahabatku dapat memulai penelitian lebih cepat 1 semester, KKN-nya sendiri dilakukan setelah selesai penelitian, sementara KKNku telah dilakukan lebih awal 1 semester. Saat ia KKN di Cirebon, dan pada waktu yang sama aku menjalani praktek lapang di Bogor di desa produksi manisan pala...baru terasa dukungan seorang sahabat yang sangat diperlukan, baik saran-sarannya maupun kehadirannya, sepanjang aku praktek lapang di desa sendirian.

Sekembali ia KKN dan aku pun baru saja memulai penelitian, ia membantu penelitianku mengangkat buah kopi kering dari alat pengering tenaga surya skala petani, saat itu ia bertanya apa cita-citaku setelah lulus nanti. Kujawab aku ingin bekerja di perusahaan pangan karena ini cita-citaku dan yang pas untuk kondisiku karena perlu membiayai kuliah adikku. Saran dan harapannya kembali terlontar saat itu, Lioe harus menjadi doktor dan professor. Kukatakan tidak mungkin Gan kalau aku bekerja di perusahaan, akupun tidak punya keinginan menjadi dosen (yang dirasakan berat saat itu) bila ingin menjadi doktor dan professor. Tapi sahabatku tetap berkeras bahwa bagaimana pun caranya Lioe harus menjadi doktor dan professor. Lioe bisa mengambil sekolah di Jepang untuk doktornya, karena ada banyak kerjasama fakultasku dengan Jepang katanya. Agar lebih meyakinkanku...ia berkata lagi sambil lebih keras, di perusahaan pun Lioe tetap bisa sekolah menjadi doktor. Ia sendiri berniat menjadi dosen di IPB setelah lulus dan melanjutkan sekolah ke Australia untuk menjadi doktor, karena ilmu peternakan di Australia lebih maju katanya. Tak kusangka, sejak itu dan di hari-hari selanjutnya... sarannya dan kata-katanya ini selalu memenuhi kepalaku hingga saat ini.

Lalu ia pun bertanya kapan aku akan diwisuda, kukatakan mungkin baru bisa tahun depannya, segera ia pun berkata kalau akan mengulang lagi penelitiannya krn beberapa datanya kurang baik agar bisa diwisuda tahun depan berbarengan denganku….Saat itu terasa beda ucapannya, bukan ucapan yang biasa kudengar dari sejak sma. Ini kenangan terakhir kubertemu dengannya di kampus IPB Darmaga, ia wafat tidak lama, setelah diduga terkena sakit tifus dan hepatitis beberapa hari sebelumnya. Dalam keadaan masih lemah saat itu, ia pun sempat melakukan perjalanan jauh ke desa KKNnya lagi tuk mengambil beberapa data yang kurang serta membantu teman satu team penelitiannya menyelesaikan penelitian pada hari yang tidak ada satu orang pun akan menyangka kalau malam itu ia akan meninggalkan teman2nya tuk selama-lamanya. Wisudanya belum sampai lagi, namun ia telah diberi gelar Sarjana dalam upacara pemakamannya di Cirebon yang dihadiri beberapa dosen dan teman-teman di kampusnya (termasuk Wakil Dekan III Fakultas Peternakan), hingga ada 3 bus rombongan yang turut mengantarkan jenazahnya. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang sangat tekun dan pandai (dengan nilai rata-rata cum laude), serta ringan tangan membantu siapa pun. Saat mendengar wafatnya, pertama kali dalam hidupku aku tidak dapat berkata-kata selama beberapa waktu padahal kuingin mengucapkan sesuatu karena mulutku kaku, yang bisa kulakukan hanya menangis.

Sejak itu baru kusadari persahabatan yang sangat bernilai dalam hidupku. Terima kasih yang sangat dalam (deep in my heart till now) doa dan harapannya…Gana…kini Lioe benar-benar telah menjadi doktor dan lulus dari sebuah universitas di Jepang, Allah SWT mengabulkan doa-doamu untukku, hanya harapannya menjadi professor saat ini sama sekali belum ada di angan-anganku dan masih sangat berat kurasakan tuk bisa meraih dan menyandangnya.

Doaku kpd Alm. Gana…Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu, semoga engkau tenang dalam alammu sekarang, seperti mimpiku kalau kau ada di sebuah istana yang sangat terang yang dindingnya berwarna hijau cerah.

Setelah diwisuda, aku bekerja pada sebuah perusahaan di Bandung (setelah melamar hampir 10 perusahaan pangan di Semarang, Bogor, Subang dan Bandung), ini pun masih mengikuti sarannya juga dulu, daripada di Jakarta katanya yang kondisinya kurang baik. Kembali ke Bogor 2,5 tahun kemudian, karena kondisi yang mengharuskan resign, tidak hanya aku yang resign malah manager tertinggi perusahaanku saat itu juga resign. Di Bogor, aku sempat bekerja di perusahaan agroindustri yang berbasis riset dan magang di sebuah laboratorium PAU-IPB yang sangat baik kinerjanya, sehingga aku memiliki semangat untuk melanjutkan kuliah ke S2. Saat aku kembali melanjutkan kuliah S2, Alhamdulillah aku diterima sebagai dosen IPB, meskipun sebelumnya kuberniat melamar dosen setelah lulus S2 dan itu bukan di IPB karena rasa rendah diri bila melihat dosen-dosenku yang sangat pandai.

Kini...aku sangat menikmati bidang dan pengetahuanku serta penelitian-penelitian yang bisa kulakukan. Aku pun punya banyak teman-teman yang punya cita-cita sama seperti Alm. Gana yang juga telah bergelar doktor, cita-cita yang menurutku terlalu tinggi saat Ia mengucapkannya untukku 20 tahun yang lalu.

Selangor, Malaysia, 16 Desember 2009
Hanifah Nuryani Lioe
(namaku kini sejak 15 tahun yang lalu)

Dari Mario Teguh: "Seorang sahabat adalah seorang rekan yang mengenal lagu-lagu keberanian di hati kita, dan yang kemudian dengan penuh kasih menyanyikan lagu-lagu itu saat kita berkecil hati."

Lyrics From the song "Itsumo Nando Demo" (It's always with me) in the animation film " Sen to Chihiro no Kami Kakushi" (Spirited Away):

Somewhere a voice calls in the depths of my heart
keep dreaming your dreams, don't ever let them part

Why speak of all your sadness or of life's painfull woes
instead let the same lips sing a gentle song for you

The whispering voice, we never want to forget,
in each passing memory always there to guide you

When a mirror has been broken, shattered pieces scattered on the ground
glimpses of new life, reflected all around

Window of beginning, stillness, new light of the dawn
let my silent, empty body be filled and reborn

No need to search outside, nor sail across the sea
cause here shining inside me, it's right here inside me

I have found a brightness, it's always with me

0 komentar:

Post a Comment