Breaking News

22 February, 2012

Sabtu Berduka

Oleh Sabil Ananda
Terpilih sebagai naskah terpilih bulan MAret
oleh Komunitas Pena Santri

Ditengah hiruk pikup suasana berlibur weekend, berita duka itu sampai juga ditelingaku, bukan untuk sekali aku mendengarnya tapi mengena di telinga. Firasatku beberapa hari yang lalu, meski sudah ku katakan pada abang Nanda, tapi berlalu begitu saja seperti angin yang numpang lewat sekedarnya, firasat tentang bapaknya benar adanya.

"Ayahanda Muhammad Soleh meninggal dunia, subuh hari ini,"  sms dari agus menyertai miscalled hingga 70 kali itu.

Tak ada yang menyangka, tak ada yang mengira. Pasalnya, pagi itu Bapak akan dibawa ke rumah, akan dirawat di rumah sepert rencana yang ada. Malamnya pun, 6 sekawan sakinah group belum tidur hingga larut, diskusi panjang mengenai bisnis bersama juga hadir di tengah-tengah kebersamaan mereka, tawa canda masih mewarnai malam-malam di sakinah.

Soleh, salah satu personil sakinah group, malam ini pun tampak turut larut dalam kebersamaan mereka, aku pun masih asik sms-an dengan abang sambil bertukar ide mengenai bisnis mereka yang semakin menurun.

Walau dalam hati seseorang tak tampak, hatinya pun masih berharap Allah mengabulkan doanya. Doa untuk ayahanda tercinta, yang tengah berjuang melawan rasa sakit, kini masih di kamar perawatan karena penyakit jantungnya.


"Semua hanya untuk ayahanda tercinta kali ini, prestasi yang terukir,
nilai yang tercipta, motivasi hidupnya hingga sebagai kandidat dari IPB untuk
dikirim ke Jepang."

Soleh terbilang cerdas, mendapatkan IP 4 mungkin hal yang biasa dan lumrah-lumrah saja. Dia rajin dan tekun dalam hal pelajaran di kampus, pendiamnya juga lebih cocok jika dikatakan berfikir cerdas untuk berkata sebelum dikeluarkan untuk diutarakan maksud hatinya. Bersahaja dan sederhana, itu yang tampak dari perawakannya.

Kini, dia berduka.

Air mata yang tertahan tumpah ruah dalam keheningan malam, diatas sajadahnya,  di sujud terakhirnya, hanya itu yang bisa dilakukannya saat mendengar kabar itu, menangis sejadi-jadinya, seorang diri melampiaskan segala kegundahannya,
meminta Sang Khalik menempatkan ayahanda di tempat yang terbaik.

Ya Allah, ya Rabb, belum genap setahun ibunda meninggakan kami sekeluarga, belum lekang dari ingatanku kebersamaan kami sekeluarga untuk mengingatMU, belum kering air mata ini mendoakan ibunda, belum kuat kaki ini berpijak menguatkan hati agar selalu tegar, belum lama hati ku tukar dengan istiqomah.

Kini,ayahanda menyusul ibunda, ayahanda yang menjadi semangat hidupku sudah tiada, kakiku harus kokoh dan ikhlas melangkah, agar kalian bangga melihatku. Senyum kalian akan slalu terukir dihati, selamat jalan ayah. Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerima amal kebaikanmu dan menjadikanmu sebagai salah satu hambaNya yang taat.

Sajadahnya menjadi sakisi air mata yang membuncah, air mata untuk kedua orang yang dikasihinya, aku hanya bisa melihatnya dari jauh, aku hanya bisa menuliskan dalam beberapa kata yang takkan bisa melukiskan hatinya.

Aku tak pernah bisa menyangsikan keAgunganMu, aku YAKIN semua keputusan ini terbaik untuk semua hambaMU, takkan pernah luput jangkauan kasihMu untuk umatMU hingga aku malu menyandarkan kegelisahanku yang belum seberapa, kegundahanku yang belum ada apa-apanya dari segala ujian yang Engkau berikan untuk yang lainnya.

Semoga hati ini segera mencair......
  Hati, mencairlah.
 BANGUN!!!
Jangan biarkan tertutup segumpal malu dan dosa
Aku belum sanggup menghadapNya,
Karena bekalku masih kosong.
-for M.Soleh-
ps: Semua miliknya akan kembali pada pemilikNYA.

Aku pun pernah kehilangan seseorang yang ku sayangi, saat ajal menjelangnya pun kami masih asik berbincang ditelfon. Nasehat demi nasehat masih dilontarkan olehnya, kakakku yang kini t’lah berbaring ditempat yang paling indah, dimana hanya ada dia dan segala amalnya yang menemani.

Air mataku tumpah, basah. Berkali-kali aku tahan tapi tak mampu menutupi kesedihan hati ini. Kenangan bersamanya, kemarahan, bahagia, tawa dan canda berkelebat dalam ingatanku. Aku rindu padanya, aku ingin memeluknya walau dalam mimpi, dan mengatakan padanya “betapa aku sangat menyayanginya, datangilah aku malam ini agar aku bisa mengatakannya dan merasakan kehadiranmu”.

Aku marah pada diriku karna tak sempat membagi kasih sayang ini untukmu. Bahkan aku terlalu egois untuk menjadi seorang adik, tak pernah ku ucap terima kasih dan maaf. Aku hanya bisa mengatakan dalam bibir yang kelu, saat ku tau kau tak pernah memintanya.
Mba Delia, dia pergi meninggalkan anaknya yang masih balita, belum genap 8 bulan usianya. Belum puas rasanya Hasan menikmati ASImu, air kasih sayangmu yang selalu memberinya kehidupan.

Mba, kini hasan sudah besar, sudah setahun lebih usianya. Dia sudah pintar, kami berbicarapun dia menggangguk tanda mengerti, dia sudah pintar merajuk jika tidak dipedulikan neneknya, sudah bisa berlari kesana kemari dan semakin gemas kami dibuatnya. Meski sempat beberapa minggu yang lalu dia susah makan, sepertinya sedang tidak enak badan, tapi tak lama dengan senyum dan ketawanya kami yakin dia sudah sehat. Lebih lucunya lagi, setiap adzan magrib tiba Hasan selalu berdiri di depan tivi, menyaksikan hingga selesai dan beberapa kali ku lihat dia bergumam menuruti suara adzan.

Hasan sudah bisa makan nasi seperti orang dewasa, ingin duduk bersama kami di meja makan dipangku papa nyayang sedang makan. Jika dia sudah kenyang, tangannya mulai merusuhi piring papanya, dan sibuk mencari cuci tangan untuk dimainkannya. Hasan tak pernah lelah seperti dirimu mba, kami melihat sosokmu didirinya, penuh tawa, ceria, menyenangkan dan tak pernah berhenti sebelum capek.

Mba, semoga dirimu bisa melihat Hasan dari sana, dimana kami semua menyayanginya. Oya, suamimu sedang membuatkan rumah kecil seperti impanmu dulu, ingat?
Biarkan Allah yang mengatur semuanya dengan sempurna, tidak usah risau dengan masalah dunia, tenanglah disana ya mba, kami selalu menyayangimu.

0 komentar:

Post a Comment