Breaking News

22 February, 2012

Saat Ujian Datang

Menjalin hubungan tak bisa dilihat berapa lama pacaran, itulah yang terjadi padaku, aku pacaran sama Edo sudah hampir 5 tahun semenjak SMA kelas 2 sampai aku memutuskan untuk kerja sambil menunggu dia kuliah sampai saatnya di Wisuda. Kami saling menyayangi, apalagi keluarga besar kami sudah menyetujui hubungan kami.
Beberapa bulan kemudian keluarga Edo datang ke rumah untuk melamarku, saya sangat bahagia karena Edo membuktikan bahwa memang hanya aku yang dipilihnya, keluarga sudah  menetapkan tanggal pernikahan kami yang kurang 2 bulan lagi. Wah makin deg degan saja nih.
Pesta meriah digelar oleh keluarga kami, kami semua bahagia karena menurut orang tuaku hanya Edo yang cocok untukku, begitupun kata keluarga Edo “Kami adalah pasangan yang paling serasi, dan bahkan menyebutku sebagai menantu yang cantik”
Setelah menikah, aku masih menjalani pekerjaanku, dan Edo juga kerja.  Pertemuan kami nyaris setiap malam, dan itupun dalam keadaan sama-sama capek. Waktu aku datang ke rumah mertua, mereka juga menanyakan “Gimana, sudah siap memberikan cucu untuk ibu ?” Aku hanya tersenyum, betapa dia tak mengerti apa yang terjadi pada kami. Hampir setiap malam kami selalu terlelap dalam lelah kami.  Entahlah Edo yang dulu kukenal hangat menjadi dingin sekali, sebagai perempuan akupun tak ingin terlalu lebay. “Ahh, sudahlah “Pikirku.
Setahun berlalu tanpa membuahkan hasil apapun, suatu malam aku coba untuk komunikasikan pada suami tentang keinginanku untuk segera memiliki anak, dan aku beri pengertian padanya supaya lebih memperhatikan dan menyayangiku.  Dan dia mulai berubah.
Dua tahun kemudian
“Mas, aku positif,” kataku suatu saat
“Alhamdulillah” katanya
Rasa senang terbayang dimataku, betapa bahagianya kalau ayah dan ibuku juga mertuaku tahu hal ini. “Ahh ini kejutan buat mereka” kataku bahagia
Semua begitu hebohnya menyambut kehamilanku, setiap hari aku ditelpon, “Hati-hati ya”, “Jangan terlalu capek”.  Perhatian tak habisnya mengalir dari mereka yang menyayangiku.
Tepat dua bulan, aku periksa kandungan. Dan hiks, dokter menyatakan kalau janin masih belum jelas, akhirnya dokter memberikan obat penguat, dan mengatakan kalau dua minggu ini mengeluarkan flek, berarti janinku ga bisa dipertahankan lagi, karena memang terlalu lemah. Sedihh rasanya.  Ternyata sebelum dua minggu aku mengalami pendarahan, dan aku dilarikan ke RS, yang ternyata langsung dikuret, setelah itu aku pulang ke rumah mertua.  Mereka juga ikut sedih dan menghiburku saat aku menangis.
Hari-hari kulaui terasa hampa, aku trauma dengan kehamilan, takut sekali mengalami hal yang sama. Tapi aku ingin sekali mempunyai anak, melihat keponakanku yang lucu, rasanya aku sudah tidak sabar ingin hamil lagi.
Hampir empat tahun pernikahanku, aku tak juga dikaruniahi anak.  Aku melihat suamiku seperti sudah bosan melihat usahaku, ke dokter, ke tukang pijat dan minum ramuan apapun supaya cepat hamil tapi masih tak kunjung hamil. Sampai suatu saat aku dengar kalo mertuaku juga mulai ikut bosan karena  tak kunjung mendapatkan cucu. “Istrimu itu nggak mungkin bisa hamil kalo masih kerja, suruh berhenti saja biar cepat hamil.  Padahal aku kerja untuk membantu suamiku yang penghasilannya pas-pasan, aku giat menabung untuk anakku nantinya.
Semakin hari, aku merasa mertuaku semakin sinis terhadapku, seolah mereka kecewa dengan kandunganku yang lemah, mereka takut kami tak bisa mendapatkan keturunan. Bahkan aku dengar kalo suamiku mau disuruh menikah lagi “Buat apa kamu nungguin istrimu, dia memang cantik tapi kalo nggak bisa memberi keturunan, buat apa”? Aku sempat sedih, dan berusaha mencari jalan keluar sendiri. Bimbang rasanya hatiku memilih antara “Terus bekerja atau harus berhenti untuk konsentrasi memiliki anak”. Memang harus ada yang dikorbankan, akhirnya aku memilih berhenti bekerja.
Setelah satu bulan, aku hamil lagi. Seneng rasanya, aku lebih hati-hati karena trauma yang kemarin.  Dokter bilang, janinnya ada tapi kecil banget.  Aku sempat kecewa, tapi aku yakin semua akan baik-baik saja. Saat itu mertuaku mendengar kehamilanku, tapi mereka biasa saja, karena mereka tak yakin kandunganku lemah, “Aah, pasti nanti juga keguguran” Katanya yang diceritakan bibi padaku
Menginjak 4 bulan kehamilanku, ternyata janinku tidak bisa dipertahankan dan harus dikuret.  Aku menangis sejadi-jadinya, suamiku menghiburku “Ya sudahlah ma, sabar.  Semua pasti ada hikmahnya, kalau dipertahankan bayi kita fisiknya ga kuat juga, ini pilihan terbaik dari Alloh, mama harus kuat. Aku peluk suamiku, “Maafkan aku pa, aku nggak seperti yang papa harapkan, aku tak bisa memberimu keturunan,” Aku semakin terguguk.
6 bulan kemudian Dokter menyatakan bahwa aku positif hamil, aku sambut dengan perasaan yang biasa saja, karena takut kecewa. Aku mengalami ngidam, mual-mual dan muntah selayaknya ibu hamil.  Rasanya senang, tapi aku nggak mau terlalu bahagia karena rasa taku kehilanganmu, sayang. Tiga bulan telah berlalu, kehamilanku dinyatakan sehat.  Alhamdulillah.  Aku dan suamiku rajin berkonsultasi mengenai kehamilanku.  Tak terasa waktu cepat berlalu, kehamilanku menginjak usia 9 bulan.  Sudah siap-siap mau lahiran. Tepat 9 bulan 9 hari air ketubanku pecah, dan aku dilarikan ke RS, akhirnya aku melahirkan anak perempuanku dengan jalan Operasi cesar. “Rasa bahagia memiliki anak akhirnya kurasakan juga setelah lima tahun pernikahanku” Batinku
Ya Allah, Engkau maha berkehendak, terima kasih atas karuniaMu, Semoga Aisha menjadi anak yang Sholehah, dan membahagiakan orang tuanya, di dunia maupun di akhirat.  Amiin.

Ini adalah kisah temanku Nova, aku coba menggoreskannya dalam sebuah karya.


0 komentar:

Post a Comment