Breaking News

16 February, 2012

Rumah....rumahhhh..........

 
      Setiap rumah tangga pastinya ingin segera mewujudkan impian mempunyai rumah. Kami juga begitu.....
    Sebagai seorang guru yang gajinya sudah bisa dihitung dan suami tenaga lapangan salah satu perusahaan pestisida, tentu mempunyai rumah bukanlah hal yang mudah diwujudkan, jika tidak diatur dengan baik, apalagi menghindari acara pinjam meminjam uang, baik itu dari Bank Pemerintah, Bank Swasta, atau bapak, mertua, pak de, pak lek, dan pak... pak... yang lainnya...
       Dengan sebuah tekad, kami menabung setiap bulan, dan agak  "disiplin". Tiga tahun pernikahan terbangun rumah impian kami, tapi jangan salah. bahan bangunan yang serba mahal, upah tukang yang juga gak kalah melangit, membuat rumah kami hanya dibangun dan dindingnya masih bata merah. Kami jeddah selama dua tahun, menabung lagi....lalu sekarang kami kembali bergerak untuk menuntaskannya.
       Tapi begitulah, membangun rumah di perantauan dan jauh dari orang tua dan kerabat tentulah cape ......Tapi itu lebih baik daripada kami terus terusan hidup dikontrakan yang cukup mahal kalau mau hidup lebih nyaman juga air dan lingkungannya kondusif.
       Setelah negosiasi dengan tukang, sepakat sudah kami menyelesaikan rumah dengan biaya yang sudah kami sepakati. Ah, tapi diperjalanan tukang tak mampu menuntaskan rumah kami dan sudah berjalan 6 minggu belum selesai juga, tapi upahnya sudah hampir habis karna diminta setiap minggunya. Sebenarnya aku sudah mengingatkan suami agar upah kerja dinilai dari hasil yang sudah di laksanakannya, Tapi suami tidak ingin menahan upah tukang.........   Sementara pekerjaan masih banyak, tukang melanggar kesepakatan dengan meminta upah tambahan, aku keberatan karna di luar perjanjian.... Tukangnya malah ngambek, seminggu mereka gak kerja. mumet deh....... Eh seminggu kemudian dia kerja lagi, tapi  kerjanya terkesan asal-asalan untuk mencairkan sisa dana yang ada.  Ada- ada saja....tukangnya sekarang kerja sambil manyuuuuun terus n kalau istrirahat gak pernah lagi komunikatif dengan kami.
        Sekarang masih berjalan, suami pun bersikap adem ayem......... gimana ya akhirnya rumah kami nantinya....

0 komentar:

Post a Comment