Breaking News

06 February, 2012

Resensi : Rembulan Tenggelam di Wajahmu Tere Liye


  Resensi : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Tere Liye
Pertama kali mendengar nama Tere Liye, saya langsung terbayang sosok seorang perempuan muda, dengan genre tulisan  chicklit atau teenlit dengan bahas khas remaja yang renyah, topik yang dibahas pun ringan. Entahlah perkiraan tersebut melintas begitu saja, mungkin juga karena nama Tere itu lantas mengingatkan saya akan nama seorang penyanyi, saya pun langsung menebak, pasti yang di gunakan adalah nama pena.

Ketika kemudian saya mendapat kesempatan membaca karyanya (karena ada akses meminjam ^^) terkejutlah saya. Pertama karena tulisannya sungguh berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya dan yang membuat saya lebih terkejut lagi, karena  ternyata Tere Liye adalah seorang laki-laki! Satu dugaan saya yang terbukti benar bahwa topik atau ide yang di angkat Tere adalah topic “ringan” namun tajam dan dalam. Padat gizi.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu adalah novel kedua Tere Liye yang saya baca setelah Hafalan Shalat Delisa. Dengan alur maju mundur, Tere berhasil menghanyutkan  pembaca ke berbagai suasana dan peristiwa berbeda yang di alami tokoh utama. Membaca awal cerita ini saya langsung tahu  bahwa ini adalah tentang pemutaran ulang film kehidupan seorang anak manusia yang biasa di beberkan menjelang ajal. Soal lima pertanyaan yang di jawab oleh ‘lelaki berwajah ramah’ adalah pertanyaan penting dan umum di di lontarkan oleh sebagian besar manusia. Misal, apakah hidup itu adil? Dan Tere dengan lembut dapat menguntai hikmah dalam menjabarkan pertanyaan ini, bagi saya sendiri meletikkan kesadaran bahwa keadilan langit kadang tidak bisa kita mengerti, memperdalam pemahaman bahwa sesuatu yang dalam pandangan kita baik, belum tentu demikian menurut Allah, demikian juga sebaliknya.

Tere menggarap dengan apik setiap peristiwa dan menghubungkannya kelak dengan Ray-tokoh utama- bahkan saya tak menyangka bahwa semua itu kelak akan berhubungan, tidak terjebak dalam serba kebetulan versi telenovela, sinetron atau india yang agak memaksa (lho?) tetap terasa manis dan ‘santun’. Mengingatkan saya akan banyak kisah yang setipe dengan ini, yang intinya adalah setiap kita akan menuai apa yang kita tanam.

Hal lain yang menarik menurut saya, Tere  tidak repot untuk memberi nama tempat dalam novel ini, baik nama kota atau desa, walau hanya sekedar nama rekaan. Hanya di sebutkan sebagai ibukota atau kampung halaman (bandingkan dengan Kang Abik misalnya yang begitu detail mendeskripskan kota/tempat). Bagi saya mungkin maksudnya agar pembaca bisa membebaskan pikirannya membayangkan di mana tempat tersebut, selain itu juga menghindari kemungkinan ‘cacat’ pada cerita karena ketidak sesuaian antara nama tempat dengan keadaan sebenarnya.

Bagian paling mengharukan dan membetot perasaan adalah ketika Ray mulai bisa menikmati kehidupan bahagianya bersama istrinya. Apalagi ketika kebahagiaan itu  tercerabut darinya dengan meninggalnya sang istri dan dua janin mereka. Meninggalkan Ray yang mulai mempertanyakan kembali tentang keadilan Tuhan. Kesedihan, penderitaan dan kekosongan hati yang menyayat.  Dari sinilah saya mulai membuktikan kepiawaian Tere Liye dalam mengaduk emosi pembaca. Dari sini pula pertanyaan saya seputar balasan yang di dapat Ray akibat kejahatannya di masa lalu terjawab.

Saya menebak endingnya adalah Ray akan meninggal, tetapi betapa terkejutnya saya karena Ray justru di berikan kesempatan lima hari untuk memperbaiki semuanya. Maka pertanyaan yang tak kalah penting adalah,  mengapa Ray bisa mendapatkan kesempatan seperti itu? Di perlihatkan rekaman selama enampuluh tahun hidupnya untuk kemudian di berikan kesempatan? Maka jawabannya sungguh mengejutkan ‘hanya’ karena setiap Ray memandang rembulan Ray selalu berterimakasih pada Tuhan (tanpa sadar) dan percaya akan kuasa Tuhan dalam setiap cahaya rembulan yang menyentuh setiap sudut bumi.

Bagi saya , ‘hanya’ ini tak sekedar menjadi ‘hanya’ karena dengan ‘hanya’ inilah Allah memperlihatkan Kuasa-Nya, sifat ArRahim Nya dan KebijaksananNya. Sama seperti kisah pelacur yang masuk surga ‘hanya’ karena member minum seekor anjing yang kehausan, di saat ia pun kehausan. Dari akhir kisah dalam novel ini saya menangkap pesan, jika Ray di beri waktu lima hari untuk k-e-m-b-a-l-i, maka berapa lamakah kita di beri waktu untuk k-e-m-b-a-l-i ? dan akankah kita memanfaatkannya?

Banyak pelajaran yang bisa di petik dari novel ini. Sederhana namun dalam. Two thumbs up untuk Tere Liye. ^^

1 komentar:

moshii palupi said...

trimksih :) sngt mmbtu saya

Post a Comment