Breaking News

22 February, 2012

( Repost ) Pelajaran Tentang Cinta

Perjuangan Seorang Istri Mengantarkan Suami Ke Pintu Gerbang Kemerdekaan ( Sekelumit Kisah Tentang Inggit Garnasih, istri Bung Karno )


“Dibalik kebesaran nama seorang lelaki, ada keagungan hati seorang perempuan ….”


Seorang istri, adalah jiwa bagi suaminya, Mata air yang tak pernah kering, Penyemangat yang tak pernah lelah, yang senantiasa berjuang untuk mendorong belahan jiwanya meraih kesuksesan dalam kehidupan. Seorang istri adalah pendamping yang selalu berjalan di sisi dalam setiap perjuangan, sahabat yang senantiasa menyediakan telinganya untuk mendengar, mata untuk melihat dan bibir untuk tersenyum hangat. Ibu yang memberikan kasih sayang dan kehangatan dikala ia lelah dan membutuhkan hati untuk bersandar.

Istri bisa menjadi pendukung terhebat sekaligus musuh terberat bagi suaminya. Tentu kita sangat mengenal komunitas tanpa bentuk yang bernama ISTI ( Ikatan Suami-suami Takut Istri ) dimana seorang istri bisa menjadi momok yang menakutkan bagi pasangannya dikarenakan sifatnya yang pencemburu, gampang naik darah, posesif dan egois. Tentu, sebagai perempuan, saya tidak ingin masuk menjadi bagian dari penyebab terbentuknya komunitas tersebut. Menjadi salah satu sebab mengapa suami menjadi pribadi yang buruk dan pada akhirnya meninggalkan saya karena kehilangan cintanya pada saya.

Sebagai seorang perempuan, tentulah banyak orang yang ingin menjadi perempuan cantik lahir dan batin. Menjadi perhiasan bagi suami dan anak-anak. Menjadi figur yang senantiasa terlihat selalu ada disamping lelaki tercinta, yaitu suami. Untuk itu, senantiasa kita dapat belajar banyak dari perempuan-perempuan hebat yang ada di seluruh dunia. Mempelajari kisah mereka bagaikan membaca lautan ilmu tentang “kesabaran dan kesetiaan” yang tak habis-habis direguk.

Salah satu sosok perempuan hebat yang ada di belakang seorang lelaki adalah seorang perempuan sederhana bernama Inggit Garnasih. Mungkin tak banyak yang mengenal sosok dan kepribadian perempuan yang satu ini selain merupakan nama sebuah jalan yang ada di salah satu sudut kota Bandung yang senantiasa hiruk pikuk oleh kemacetan. Namun nama besarnya terutama pada masa orde lama tak diragukan lagi oleh seluruh bangsa. Bahkan karena perannya itu pula nama perempuan ini pernah diusulkan untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Rumah bekas kediamannya yang terletak di Jalan Ciateul ( sekarang Jalan Inggit Garnasih) saat ini dibiarkan kosong melompong tanpa sebuah barang pun tertinggal. Suatu saat kelak, katanya rumah ini akan dijadikan museum yang berisikan sejarah perjalanan panjang Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia yang memang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan seorang Inggit di sampingnya. Inggit Garnasih, seorang perempuan teramat sangat sederhana, istri lelaki bernama Sanusi yang kerap menghabiskan malam-malamnya bermain bilyar bersama teman-temannya. Ia adalah seorang perempuan setia yang senantiasa mengabdi kepada suami sampai pada suatu ketika datang seorang pemuda yang ingin indekost di rumah mereka, pemuda ini bernama kecil Kusno yang di kemudian hari kita kenal sebagai Soekarno. Sanusi adalah seorang pengusaha kaya yang juga pengurus Sarekat Islam afdeling Bandung yang mendapat rekomendasi dari HOS Tjokroaminoto agar mengayomi Soekarno di rumahnya.

Ketika Soekarno datang dalam kehidupannya, hari-hari Inggit menjadi lebih berwarna. Semangat Soekarno yang menggebu-gebu dalam percaturan politik di Indonesia membuat Inggit selalu tersenyum dan ikut larut di dalamnya. Sejak muda Soekarno memang sudah terlihat bakatnya untuk menjadi orang besar. Ia cerdas, bercita-cita tinggi dan berani. Ketika Sanusi suaminya sibuk di luar rumah mengurusi bisnisnya dan bersenang-senang dengan teman-temannya, Inggit tidak lagi merasa kesepian karena ada Soekarno dan mimpinya tentang Indonesia, tentang penjajahan, semangat perjuangan dan lain-lain yang senantiasa didengarkan oleh Inggit dengan penuh perhatian dan senyum. Inggit adalah sosok pendengar atentif yang dibutuhkan Soekarno. Perempuan itu, dengan mata berbinar, sangat meminati kisah dan pemikiran yang dituturkan sang mahasiswa.

Kala itu, Soekarno masih dalam status menikah dengan Oetari, puteri dari HOS Tjokroaminoto. Namun pernikahan itu tidak berjalan sebagaimana layaknya karena Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adik perempuannya. Bahkan diceritakan bahwa selama pernikahan berlangsung, Oetari belum pernah disentuh dan mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Pada kesempatan itu, Inggit seringkali memberi saran kepada Soekarno untuk bertahan dalam pernikahannya, namun Soekarno pada akhirnya mengembalikan Oetari kepada keluarganya.

Singkat cerita, akhirnya entah siapa yang memulai, tumbuhlah benih-benih cinta antara Soekarno dan ibu kostnya tersebut. Pada suatu malam di Jalan Jaksa, mata hati Soekarno dan Inggit bertemu. Soekarno dengan tegas mengatakan: “Aku cinta padamu”.

Inggit tersipu malu dan menunduk dalam-dalam sambil memainkan ujung kebayanya. Itulah cinta, yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata juga tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana namun merupakan cikal bakal yang terlupakan oleh segenap bangsa. Tak berapa lama, Inggit menghadap suaminya, Sanusi, dan meminta cerai, Soekarno mengaku pada Sanusi bahwa ia mencintai Inggit dan ingin melamarnya. Sanusi mengabulkan karena ia merasa memang pernikahannya tidak bahagia dan kosong. Akhirnya setelah menitipkan Inggit pada Soekarno dan berpesan untuk menjaganya baik-baik, Sanusi resmi menceraikan Inggit. Selang beberapa waktu, menikahlah kemudian Inggit dengan Soekarno yang usianya 15 tahun lebih muda darinya.

Dan saat itulah perjuangan dimulai. Jika Soekarno diibaratkan sebagai api, maka Inggit adalah angin sepoi yang akan menghembus api-api itu menjadi berkobar. Inggit menghibur dikala Soekarno merasa kesepian, menghapus keringatnya ketika Soekarno lelah , menjahitkan kancing-kancing bajunya yang terlepas. Inggit hadir memberikan kehangatan seorang ibu dan seorang istri yang kala itu sangat dibutuhkan oleh Soekarno. Inggit bagi Soekarno adalah selayak Khadijah bagi Muhammad. Bedanya hanyalah, Muhammad tetap setia pada Khadijah hingga istrinya itu meninggal dunia, sementara Soekarno menikah lagi dan dilepaskan oleh Inggit di depan pintu gerbang Istana dan Inggit kembali ke Bandung, merajut hari-harinya yang sepi kembali.

Kesetiaan Inggit patut diacungi jempol. Dalam kamus hidupnya tak ada kata menyerah, Inggit selalu memberi dan tak pernah sedikitpun meminta. Ia berjuang keras mencari nafkah. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno sibuk menyelesaikan kuliah dan berpindah dari satu podium ke podium yang lain, mengaum dan menancapkan kukunya di peta perpolitikan tanah air bagaikan singa yang lapar. Pikiran Soekarno tercurah sepenuhnya untuk pergerakan perjuangan Indonesia, sementara Inggit senantiasa setia menjadi tulang punggung perekonomian mereka. Tak jarang, Inggit mengepalkan uang untuk bekal Soekarno dalam perjuangannya.

Sungguh, cinta Inggit pada Soekarno adalah cinta yang tanpa pamrih tanpa motivasi apapun selain CINTA itu sendiri. Inggit melakukan apapun untuk kehidupan mereka dan membiarkan Soekarno tumbuh menjadi kuat. Ia menemani ketika Soekarno berpidato dan kerap membantu menterjemahkan pidatonya ke dalam bahasa sunda supaya rakyat dari berbagai kalangan dapat mengerti isi pidato tersebut. Inggit bukanlah perempuan berpendidikan banyak. Ia hanyalah sosok sederhana lulusan madrasah dan tidak dapat menulis latin kecuali hanya dapat membaca saja. Namun kekuatannya mendampingi Soekarno disaat-saat tersulit hidupnya patut diacungi jempol. Ia turut ke pelosok-pelosok menemani suaminya berpidato. Bahkan ketika Soekarno dipenjara di Banceuy pun Inggit dengan setia menjenguknya dengan mengajak Ratna Djuami ( anak angkat mereka ). Setiap pagi Inggit dan Ratna Djuami yang masih balita mengantar makanan untuk Soekarno. Empat susun rantang berisi nasi, lauk pauk, lodeh, dan sambal. Juga koran AID De Preangerbode, Sipatahoenan, dan Sin Po. Di balik daun pisang pembungkus kue-kue nagasari yang dibawanya selalu terselip uang logam untuk keperluan sehari-hari Soekarno di penjara dan untuk dibagi-bagikan ke sipir penjaga.

Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende, lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani. Ia merupakan batere bagi kehidupan Soekarno yang menderita. Dia rela menemani Soekarno dalam masa-masa tersulit perjuangan beliau. Bahkan ketika Soekarno telah putus asa dan kehilangan jalur dalam perjuangannya, Inggit lah yang selalu berusaha mengingatkan dan menyemangati beliau. Bahkan ia menguras tabungannya, menjual perhiasan, dan menjual segala harta benda untuk membiayai segala aktivitas Soekarno dalam dunia pergerakan.

Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu, hadirlah sosok Fatimah dalam kehidupan Soekarno dan Inggit Garnasih. Fatimah lahir pada 5 Februari 1923 dari pasangan Hassan Din dan Siti Khatidjah. Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu, Fatimah sering bermain ke rumah Soekarno karena ia adalah kawan sepermainan anak angkat Soekarno. Fatimah juga akrab dengan Inggit Garnasih, bahkan Inggit menganggap Fatimah seperti anaknya sendiri.

Sayangnya Inggit memiliki satu kekurangan yang menjadi sebuah pukulan telak baginya. Inggit tidak mampu menghadirkan keturunan bagi Soekarno. Inggit adalah seorang perempuan mandul. Walaupun saat itu Soekarno dan Inggit memiliki dua anak angkat ( Ratna Djuami dan Fatimah ), Soekarno tetap menginginkan keturunan langsung dari dirinya. Sayangnya hal itu tak mampu diberikan oleh seorang Inggit Garnasih.

Saat itulah, nama Fatimah terbersit dalam pikiran Soekarno untuk menjadi solusi bagi keinginannya memperoleh keturunan langsung tersebut. Beliau lalu mengajak Fatimah untuk menikah tetapi Fatimah menolak untuk dimadu. Begitu juga ketika Soekarno berkata ingin memadu Inggit, dengan tegas Inggit menolak keinginan tersebut.

“Enggit, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.” Ungkap Soekarno.

“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.

“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Menjadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”

“Tidak, pulangkan saja aku ke Bandung,” jawab Inggit lagi.

“Tidak mungkin aku menceraikan kamu, Enggit. Tidak mungkin. Bukankah bisa aku mengawininya sementara kita tidak bercerai?”

“Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!” (Oh, dimadu? Kalau mesti dimadu, pantang!)

Demikianlah sekelumit dialog antara Soekarno dan Inggit pada waktu itu . Inggit mengijinkan Soekarno untuk menikah lagi dengan Fatimah, tetapi ia meminta untuk diceraikan terlebih dahulu. Inggit Garnasih lebih memilih merelakan diri untuk bercerai dengan Soekarno daripada harus dimadu oleh Soekarno. Dia merelakan segala kesempatan menjadi seorang first lady bagi bangsa Indonesia.

Akhirnya, Soekarno mengembalikan Inggit kepada keluarganya melalui sebuah pertemuan keluarga yang dingin dan kaku di Bandung. Soekarno menceraikan Inggit dan mengantarnya kembali tinggal di Jalan Ciateul Bandung, sementara Soekarno kembali ke Jakarta dan pada tahun 1943 menikahi Fatimah yang saat itu telah diberikan nama baru olehnya yaitu Fatmawati. Kepergian Soekarno dilepas oleh Inggit dengan doa dan harapan ketika proses perceraian itu usai. Doa itu berbunyi : “Selamat jalan dan semoga selamat dalam perjalanan”.

Inggit tidak mengeluh dan tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit kepada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti. Cinta yang begitu tulus dan ikhlas, tanpa pamrih, tanpa motivasi. Dalam kesepiannya, ia senantiasa berdoa bagi Soekarno yang akhirnya menjadi Bapak Bangsa. Doa yang tak henti-henti dipanjatkannya sepanjang sisa usia. Bahkan ketika Soekarno wafat, dengan tertatih-tatih Inggit yang saat itu sudah berusia sangat lanjut datang ke rumah persemayaman terakhir Soekarno dan memberikan doa terakhirnya.

Hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Sukarno. Inggit Garnasih, adalah pengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan. Inggit memiliki panggilan kesayangan buat Bung Karno, yaitu “Engkus”. Dan panggilan itu ia ucapkan untuk terakhir kalinya, saat menatap jazad Bung Karno di Wisma Yaso.



Pembelajaran dari sosok seorang Inggit Garnasih

Reni Nuryanti, penulis Perempuan Dalam Hidup Sukarno, Biografi Inggit Garnasih, menilai Inggit sebagai potret perempuan yang mengagumkan. Menurutnya, Inggit ibarat Theresa, istri Rousseau, atau Kasturbay, istri Mahatma Gandi. Theresa tidak memberi sumbangan pikiran atau teori bagi Revolusi Perancis, akan tetapi memberi sumbangan kasih sayang kepada suami. Menurut Reny Nuryanti lagi, kekuatan besar yang dimiliki para perempuan yang mendampingi para pahlawan bukan gelar dan predikat pendidikan yang tinggi, melainkan juga kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat menambatkan kapal, atau pohon rindang tempat sang Musafir berteduh (h. 51).

Simaklah bagaimana ia menguatkan Sukarno di saat-saat paling lemah dalam hidupnya. Setelah lulus dan terlibat pergerakan politik, pemerintah Belanda menganggapnya sebagai ancaman sehingga Kusno ditangkap, dipenjara di Bantjeuy. Kemudian ia dipenjara lagi di Sukamiskin. Praktis, ia tidak bisa menghidupi keluarga. Justru Inggitlah yang memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus kesejahteraan Sukarno di dalam penjara.

Dengan muka redup, suamiku mendekat, lalu berkata perlahan-lahan: “Inggit, maafkanlah aku. Maafkanlah, Inggit. Aku telah melalaikan tugasku sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Aku telah melalaikan Inggit, melalaikan tugasku sebagai suami. Aku telah menyusahkanmu,Inggit.”]

“Tidak, Kasep, jangan berpikir begitu. Mengapa mesti berkecil hati? Di rumah segalanya beres. Kan aku masih punya dua tangan. Dan aku bisa bekerja dan menghasilkan cukup uang untuk mengatur kehidupan rumah tangga. Beres, Kasep.. beres!” aku membesarkan hatinya.]

Lalu saat di pengasingan di Ende, Sukarno terjangkit malaria. Saat itu, kondisi jiwa Sukarno sangat lemah. Berkali-kali ia mengeluh kepada Inggit. Ia pernah berucap keinginan untuk membuat taktik berpura-pura bekerja sama dengan pemerintah agar segera kembali ke Jawa. Inggit sebaliknya menolak dan memandang Sukarno berjiwa lemah.

“Kus, kamu ini bagaimana? Baru mendapatkan ujian sekecil ini sudah tak kuat. Bagaimana nanti jika jadi pemimpin? Cobaan pasti lebih berganda. Mestinya Kus bisa lebih sabar dari kami. Masak calon pemimpin berjiwa selemah ini? Percayalah, ini bukan untuk selamanya, ini hanya sementara. Buktikan tak lama lagi kita pasti keluar dari pulau terpencil ini. Nggit yakin itu, sebab Tuhan tak akan mungkin terus-menerus menguji hambaNya. Dia masih sayang kepada kita. Percayalah.”]

Saat Ibu Inggit menemui Sukarno terakhir kalinya di dalam peti jenazah, ia berucap, “Ngkus, geuning Ngkus the miheulaan, ku Nggit didoakeun..” ( Ngkus, ternyata Ngkus mendahului, Nggit mendoakan, Red ). Dan itu bukanlah bukti terakhir cinta Inggit pada Sukarno. Tahun 1960 saat berita mengenai kelemahan politik Sukarno mencuat, Ibu Inggit memberikan sanggahannya pada wartawan yang mewawancarainya.

Istri-istri Sukarno mencicipi manisnya kehidupan di istana, diberi rumah di Kebayoran, Slipi, Gatot Subroto, sementara Inggit hanya mampu menatap puing-puing rumah panggung di Jalan Ciateul yang penuh memori kebahagiaan, kesengsaraan, dan perjuangan bersama Kusno kesayangannya. Kamar dan rumahnya begitu sederhana. Harta miliknya hanyalah radio Philips buatan tahun 1949, sebuah foto Bung Karno tersenyum manis, sebuah teropong dan perangkat makan sirih serta sebuah pispot. Ditambah dua buah balai-balai dan sebuah lemari kayu murahan.

[“Yang lalu sudahlah berlalu, aku telah mengantarkan Kusnoku, Kasepku, Kesayanganku, Fajarku ke gerbang kebahagiaan, gerbang cahaya yang dari dulu diimpikannya.”]

Penjelasan di atas menujukkan seorang istri adalah ‘induk’ yang mengayomi keluarga. Dia akan duduk di garda depan untuk mendampingi suami baik di kala senang maupun susah. Kepandaiannya untuk mewujudkan harapan dan cita-cita yang diusung suami adalah makna yang terdalam bagi rumah tangga. Karena itulah, dalam pandangan islam, menikah menjadi sarana memperolah berkah untuk saling membagi, menyayangi, dan memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintai. Sungguh sebuah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari seorang perempuan sederhana bernama Inggit Garnasih. Pelajaran tentang ketegaran dan ketabahan hati seorang perempuan yang mendampingi suaminya lahir dan batin dalam suka dan duka. Disaat-saat penuh derita dan airmata. Pelajaran tentang cinta tanpa pamrih, cinta sebenar-benarnya cinta.


Inggit Garnasih Sebagai Seorang Inspirator

Sebagai seorang istri, tentulah saya mesti banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Bukan untuk menjadi istri yang sempurna, tetapi menjadi sosok yang dapat menyempurnakan lelaki yang saya dampingi hingga menjadi lengkap paripurna. Sosok Inggit Garnasih menjadi salah satu dari sosok seorang perempuan, seorang istri yang menjadi panutan saya dalam proses pembelajaran tersebut.

Bahkan inspirasi yang mengalir dari seluruh kisahnya sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika saya menikah pertama kali pada tahun 2000 dengan seseorang yang berusia 15 tahun lebih tua, saya belajar bagaimana tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang perempuan pendamping suami. Saya dan suami ( saat ini sudah menjadi mantan ) benar-benar memulai segalanya dari nol. Kehidupan yang harus kami lalui di awal perkawinan begitu sulit dan menguras pikiran juga tenaga. Saat itu (mantan) suami saya masih harus menganggur karena baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dimana masa-masa itu adalah masa paling mengharukan bagi saya, karena sebagai istri dan pendamping setia saya dituntut untuk memutar otak bagaimana caranya supaya kehidupan kami dapat terus berjalan dengan kondisi yang memprihatinkan seperti itu.

Saya yang saat itu dalam kondisi mengandung anak pertama, harus membantu suami mencari solusi terutama dalam hal perekonomian. Saat itu ( mantan ) suami seringkali merasa dirinya terpuruk karena gagal menghidupi kami, tapi saya tidak kecewa. Saya menjual koleksi buku-buku yang saya miliki ke loakan buku bekas dan menggunakan uangnya untuk makan dan memeriksakan kandungan ke bidan. Setiap kali memperoleh uang baik itu dari pemberian keluarga besar atau dari hasil usaha kecil-kecilan, saya sisihkan semuanya untuk membantu ongkos suami mencari pekerjaan. Saat itu prinsip saya adalah yang terpenting kami bisa hidup tanpa menyusahkan orang lain, dan tanpa berhutang apapun kepada orang lain. Ini berlangsung dalam 4 tahun pertama pernikahan kami.

Setiap kali jiwa saya merasa lemah, buku “Kuantar Ke Gerbang” (satu-satunya buku yang saya pertahankan) selalu saya baca dan baca lagi. Tak bosan saya mengagumi sosok Inggit yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan yang beribu-ribu kali lipat lebih berat dari saya. Dan saat itulah semangat saya bangkit kembali. Saya BISA dan harus BISA !

Sampai pada akhirnya, roda kehidupan membawa saya dan ( mantan ) suami ke kehidupan yang lebih layak. Perlahan tapi pasti karirnya mulai menanjak dan kami mulai memperoleh apa-apa yang selama ini hanya dapat kami bayangkan saja. Namun disaat itu pula terjangan lain datang dalam kehidupan kami dan jauh lebih berat dari yang sudah-sudah. Saya berjuang keras mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik saya, hak saya, namun ternyata nasib berkata lain. Saya harus ikhlas melepas suami saya menjalani kehidupannya sendiri, tanpa saya ada disampingnya. Kami bercerai justru ketika suami saya ada pada awal kejayaannya. Ikhlas, hanya itu kunci yang saya pegang senantiasa, pun ketika pada akhirnya saya dan kedua anak saya mesti menjalani kehidupan ini bertiga dan berjuang kembali dari titik nol.

Seringkali saya tersenyum jika mengingat betapa kehidupan yang saya alami nyaris mirip dengan Inggit, sang tokoh panutan. Melepas suami kami di gerbang kemerdekaan. Menatap mereka dari kejauhan dengan doa dan harapan, “… Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan….”.

***

( sayangnya tak ada biografi atau biodata Inggit Garnasih yang dapat ditemukan dalam literature-literatur di Indonesia )

0 komentar:

Post a Comment