Breaking News

09 February, 2012

"The Ranking Syndrome" (curhat pagi sambil kerja jadi 'iyem'..)



..Schoolbag in hand, she leaves home in the early morning
Waving goodbye, with an absent minded- smile... (Slipping through my fingers - ABBA)

Hani baru saja berangkat sekolah. Tahun ajaran baru dimulai. Kerepotan menyiapkan perlengkapan sekolah masih berlanjut. (Sebenernya yang sekolah anaknya atau emaknya siihhh???).
Sejak pembagian rapor, liburan, masuk sekolah lagi, selalu ada satu pertanyaan yang muncul. Satu pertanyaan yang mengundang senyum terpaksa. Satu pertanyaan yang menyebalkan. Satu pertanyaan yang aku harap tidak ditanyakan oleh orangtua pada anaknya, orangtua yang satu ke orangtua lainnya, oleh nenek kepada cucunya.
"Kamu rangking berapa?" atau dalam bentuk lain (maksudnya sama), "Kemarin juara nggak?"

Aku bersyukur, di sekolah hani tidak mencantumkan ranking di rapor. Jangan salah, siapapun termasuk aku, pastilah bangga berat andai di raport anaknya tercantum angka 1 di kolom ranking. Dipanggil 'sang juara', dapet hadiah istimewa, pujian berlimpah, anak manapun akan bangga. Senang karena berhasil membuat orangtuanya bangga. Tapi banyak hal yang lebih penting dari itu.

Walau di rapor tidak dicantumkan ranking, tapi guru selalu memberitahu di posisi mana anakku di kelas. Misalnya, ada di 3 besar, 5 besar, dst. Hani tidak pernah menjadi Top 1 (jiyaaaa.. salah... ini mah merk Oli).
Ketika naik kelas 2, kata ibu guru, hani ada di 3 besar di kelas. Saat keluarga besar berkumpul, seperti biasa, sang kakek-nenek bertanya, "Hani kemaren ranking berapa?" Dengan senyum mali-malu, ia melirikku minta bantuan. Jadi aku jelaskan pada mereka bahwa tidak ada pencantuman ranking di rapor, bahwa yang penting adalah nilainya bagus-bagus dan dia sudah berusaha maksimal. Mereka pun manggut-manggut, tapi dengan pesan, "Hebat yaa... tapi nanti kelas 2, juara 1 yaa.." Teuteeuupp..
Hani langsung kehilangan senyum, dan menghampiriku minta pelukan. Kemudian berbisik, "Nanti kalau aku nggak juara 1 gimana?" dengan tatapan kecewa. Aku katakan padanya, aku besarkan hatinya, bahwa prestasinya hebat, tidak peduli dia juara atau tidak.

Kemarin, kami berkumpul di acara ulangtahun seorang teman Hani. Dalam perjalanan ke lokasi, seorang anak bertanya pada Hani, "Kamu ranking berapa kemarin? Aku ranking 2 doongg.." Hani kini sudah mampu menanggapinya dengan ringan, dan hanya menjawab, "Nggak tahu.." sambil tetap tertawa-tawa.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar obrolan dua orang ibu.
Ibu A : Hey jeng, gimana rapor anakmu kemaren? Ranking berapa?
Ibu B : Kata bu guru, anakku cuma ranking 6..
Ibu A : Oh yaa? Kok bisa? Salahnya dimana?
Hee??? Aku bengong. Aku tegur mereka, "Bu ibu.. syukuri dong anak bisa ranking 6, dari 30an anak lho.. Berati hebat sekali.."

Seorang teman pusing, karena anaknya sering pusing dan stres setiap kali ada ulangan harian, UTS, apalagi UAS. Walaupun di kelas selalu ada di posisi 3 besar, setiap kali ada ulangan, sang anak selalu ketakutan berlebihan, cemas, takut tidak bisa mengerjakan soal. Walaupun sudah belajar mandiri setiap hari, sering sekali dia datang ke sekolah dalam kondisi stres, sakit perut, pusing, sampai harus dijemput sang ayah sebelum waktunya pulang. Padahal sang ibu tidak pernah merasa menekan anaknya untuk selalu juara. Apa iya?

Hani tidak pernah juara 1. Bahkan, ketika kenaikan kelas kemarin, dia ada di lima besar. Buat aku, itu adalah prestasi besar. Terlebih lagi, di mata aku, Hani punya banyak 'nilai' yang jauh lebih tinggi daripada sekedar juara. Nilainya sebagian besar diatas 95, sisanya kepala 9 juga, kecuali Olahraga, yang nilainya 'hanya' 85, karena ia sering kabur saat pelajaran. Alasannya sederhana, panas dan haus.

Ada lagi 'nilai'nilai' lainnya yang lebih penting daripada nilai akademis. Hani sangat suka membaca. Dia riang, suka bernyanyi. Dia tidak rewel atau marah, ketika tidak bisa pergi kemana-mana saat liburan (sementara hampir semua teman-temannya liburan keluar kota atau ke luar negeri), dan akhirnya kami membuat kegiatan sendiri di rumah. Dia bersikap baik pada teman-temannya. Dia patuh pada orangtuanya. Dia senang membantu orang lain.

Dia meminta maaf jika berbuat salah. Dia berterimakasih (tanpa diminta) jika dibelikan sesuatu. Ketika aku sedang menyapu kamarnya sementara dia bersiap-siap tidur, dia berkata, "Terimakasih ya bunda sudah membersihkan kamar hani..". Ketika aku sedang menyampuli buku-buku sekolahnya, dia menghampiri dan memberiku ciuman panjang di pipi, sebagai rasa terimakasih. Ketika aku mengajaknya pergi (untuk membeli peralatan sekolah), dia bilang, "Kita jangan pergi lama-lama ya bun, karena hani udah berjanji pada diri sendiri, untuk belajar lebih rajin..".

What else can I ask for more? Nikmat apa lagi yang bisa aku dustakan?




0 komentar:

Post a Comment