Breaking News

06 February, 2012

"RAHASIA ITU BERNAMA: KEMATIAN"


  Seorang ibu teman suami, tersedu perlahan, sibuk sekali tiap menit mengusap matanya dengan ujung kerudungnya. Kami mendengarkan kisah sendunya dengan sabar, saat kami silaturahmi kerumahnya kemaren sore, maksud hati melayat suaminya yang meninggal 4 hari setelah lebaran. Ia paham atas keterlambatan kami soalnya kami masih mudik di Magelang.

"Saya mencoba berbakti pada orangtuaku yang sudah sepuh, sudah jadi kesepakatan kami berdua sejak awal pernikahan,kalau lebaran menjadi saya dan anak-anak ramai-ramai pindah kerumah simbahnya masih di solo juga tapi memang agak jauh dari rumah sini, suami sangat paham, karena ia juga repot mengawal pemudik berlebaran dijalan, karena Ia bekerja di Dinas perhubungan, jadi tiap lebaran hampir tak pernah bersama2 kami karena tak punya cuti,.."
kata Ibu teman suami mengawali kisahnya.

Sekilas, sangat tegar bagi seorang wanita untuk menceritakan tambatan hatinya, belahan jiwanya yang menemaninya sepanjang hidupnya meregang nyawa seorang diri dirumahnya, tanpa ditemani anak-anak dan dirinya!!

"Lha kok ya bisa-bisanya bapak bisa meninggal dengan cara seperti ini,..didalam rumah sendiri tergeletak di dapur dekat kulkas dengan darah mengalir di dahi, sebagian sudah mengering, dan tangannya terlentang keatas dan sudah kaku..."Nada bicara ibu itu mulai bergetar, air matanya sudah mengalir dengan derasnya. Aku tercenung mau merengkuh badannya, atau sekedar menggenggam tangannya, tuk redakan galaunyapun aku merasa tak mampu,.aku merasa baru kenal dan ragu-ragu,..aku malah ikut-ikutan sibuk mengusir air mata yang ikut-ikutan menetes dipipi, seperti biasa solidaritas sesama perempuan sedih,..bila tak mau kelihatan kecengenganku.

Penyesalan ibu itu terlihat nyata, menyesal tak dampingi suami saat ajal,..merasa meninggalkan sendiri saat ia butuhkan pertolongan, merasa tak berbakti disaat akhir hayat, dan membiarkan air mengalir dibawah kulkas (walau itu bukan perbuatannya), hingga sang suami menginjaknya akhirnya terpeleset dan membentur lantai, dan kesakitan dalam waktu lama. Butuh waktu tak sebentar tuk masuk rumah karena terkunci oleh suaminya dari dalam, hingga ia dan anak-anak yang curiga karena dari malam ditelpon tak ada jawaban sampai siang menjelang harus menggunakan linggis tuk jebol jendela rumah,..

Suamiku jadi sibuk menghibur temannya itu, kalau semuanya sudah jadi kehendakNya,..apapun sebentuk kematian dari seorang hamba,..hanya Ikhlas diri dan doa dari orang-orang yang dicintainya yang bisa diharap melapangkan kuburnya.."Amin..." terdengar cukup jelas ditelinga kami, dari sang janda yang sedang berduka.

Sepulang dari sana, kami jadi tercenung, Rahasia kematian manusia siapa yang tahu,..kita tak pernah bisa memilih cara, tempat, waktu dan keadaan saat kita ajal, mau memilih cara meninggal yang standart yang banyak disuka,..dipembaringan yang empuk, ditemani pasangan, anak-anak dan cucu dan oarang-orang yang dikasihi saat malaikat Izrail datang melaksanakan tugasnya, dalam genggaman tangan orang yg dicintai yang setia menuntun lafazkan kalimat-kalimat  tayyibah. Atau terkena musibah dijalanan seperti dialami pasangan artis terkenal. Bisa dengan cara berlutut saat bencana merapi bergolak. Atau meninggal didalam masjid saat bulan ramadhan waktu jadi imam tarawih dimasjid, karena badan tak nyaman, langsung beringsut kebelakang, dan makmumpun sadar dan langsung maju menggantikannya jadi imam, dan Imam masjid besarpun disalah satu mesjid di Jawabarat itupun meninggal bersandar pada badan jamaah sebelahnya. meninggal dalam keadaan wudhu,..dimasjid, saat jamaah dan jadi Imam, dibulan Istimewa ramadhan yang Agung 2 tahun lalu. Subhanallah. aku sangat iri,..iri sekali dengan cara meninggalnya. Anak cucu atau istri tak perlu beri tangisan. karena Ia Khusnul Khatimah..

Apapun sebentuk dan cara kematian itu,.hendaknya tak usah disesali. kita hanya bisa memohon,.semoga diberi khusnul khatimah, mulut yang tak henti lafazkan asmaNya saat sakaratul maut tiba, diberi anak-anak sholeh yang bisa lapangkan jalan menuju hadiratNya, harta yang bermanfaat untuk sedekah biar jembatan serambut dibelah tujuh bisa dilalui dengan selamat...


Lebaran 10, tahun 2011
tuk bu cahyani,..yang sabar ya.

0 komentar:

Post a Comment