Breaking News

02 February, 2012

Rahasia Antara Aku dan Nara

 
Aku bukan orang yang suka mengumbar cerita, terlebih jika itu kesedihan, rasa duka, atau apapun itu yang sifatnya negatif, karena bagiku cukuplah kebahagiaan saja yang kubagi dengan orang lain agar mereka juga dapat merasakan bahagia itu. Tapi, ketika sesuatu yang negatif itu sudah mulai membumbung tinggi dan tak tertahan lagi...Ada sebuah sosok yang kujadikan teman bicara.

Ya...seorang teman yang wujudnya tak pernah bisa kusentuh walaupun kadang terlalu ingin ku menyentuhnya, tetapi jika ia yang menghendaki itu ..maka ia bisa menyentuhku, kami bisa bersentuhan. Dia wanita, namun terkadang bisa jadi laki-laki. Dia dewasa, namun terkadang dia bisa menjadi sebaya, bahkan bisa menjadi sangat tua. Dia bisa menjadi sosok apapun yang kuinginkan saat itu. Biasanya sosok itu hadir tergantung dari apa yang kurasakan saat itu.

Kupanggil dia Nara, nama lengkapnya Dianara, nama yang ambigu, seambigu sosoknya. Tapi aku tak perduli, karena ia lebih dari sekedar sahabat, lebih dari sekedar guru, atau bahkan pembimbing spiritual, seakan dia tahu segalanya tentang hakikat hidup, karena yang ku tahu umurnya sudah ribuan tahun, sudah ribuan tahun pula ia mengenyam asam garamnya kehidupan manusia di dunia, termasuk  perjalananku sejak aku lahir, tumbuh, beranjak remaja, menjadi remaja, dewasa muda, dan kini,  bahkan sampai aku tua kelak.

Suatu malam dalam lelapku aku terbangun di dunianya, dan kami pun bertemu. Seperti biasa dia menyambut kedatanganku dan tersenyum. Akupun dengan segera duduk di kursi favorit kami. Sebuah sofa yang empuk yang berada di halaman belakang rumahnya.  Menghadap sebuah taman yang indah yang membuat kami dapat merasakan hangat sekaligus dinginnya malam, ditemani teh hangat yang nikmatnya hanya dapat kurasa ketika aku berada di dunianya.

“Apa kabar kawan?”
Tanyanya sambil meyalami dan memeluku karena sudah lama kami tak jumpa.

 “Baik..hanya sedikit galau..” Jawabku.

“Kenapa?” Tanyanya penasaran.

 “Ah..entahlah, suasana yang sering kurasa dari dulu..dan ini tandanya aku harus menarik diri sebentar dari duniaku..dan aku ingin bertemu kamu...hanya kamu yang bisa mendengarkan ceritaku” Jawabku menjawab rasa penasarannya.

“Baiklah...aku siap mendengar apa yang ingin kau bagi denganku” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman tulusnya.

“Sebetulnya aku tak ingin berbagi...aku hanya memiliki beberapa pertanyaan yang mengganjal dihatiku, dan sedang mencari jawabannya...Aku terdiam sejenak..lalu meneruskan perkataanku.

“...dan...aku rasa kamu bisa membantuku menemukan jawabannya.”

“Baiklah, jika itu yang kaupikir...akan ku coba memberikan jawabanya jika kau percaya aku.” Jawabnya serius.

“Yah..aku percaya, hanya kamu yang aku percaya sejak dulu...”Aku pun mulai mengambil nafas panjang, bersiap untuk sebuah dialog yang panjang seperti biasanya.

“Hmmm...Boleh aku mulai??” Tanyaku sambil menunggu persetujuannya.

“Ya..silahkan, dengan senang hati aku akan mendengar dan mencoba menjawab apa yang ingin kau tanyakan.” Jawab Nara santai, namun penuh ketulusan.

Mulailah dialog panjang itu, antara Aku dan Nara.
Aku: “Apakah semua wanita seperti aku?”

Nara: “Maksudmu??”

Aku: “Ya..seperti aku, banyak memikirkan segala hal. Sepertinya semua yang terjadi dalam hidup ini aku pikirkan, sampai terkadang pikiran-pikiran itu saling berlompatan sampai aku bingung untuk memilih yang mana yang harus kuprioritaskan.”

Nara: “Maksudmu...yang harus kau pikirkan terlebih dahulu??”

Aku: Ya..Pikiran-pikiran itu sangat liar di otakku. Padahal kamu tahu kan..aku tidak pernah diam. Ada saja yang aku kerjakan...”

Nara: “Oh..kau ingin menanyakan kepadaku bagaimana caranya untuk menjinakan pikiran-pikiran liar yang ada di kepalamu?”

Aku: “Ya..begitulah, liar yang aku maksud tak terkendali ya! Bukan nakal,  karena sudah lama aku tak berpikir nakal lagi. :)

Nara: “Hahaha...aku mengerti. Kamu memang sudah tidak berpikir nakal lagi sekarang, karena dia sudah jadi milikmu.” Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Aku:“Haha..kau ini, bisa saja :) Lalu..bagaimana jawabanmu??”

Nara: “Boleh aku mengajukan pertanyaan sebelumnya?”

Aku: “Ya, tentu...”

Nara: “Apa keinginan terbesarmu saat ini?”

Aku: “Hmmm...Aku ingin kaya...punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, bisa membeli apapun yang aku butuhkan, yang aku inginkan,  bisa pergi kemanapun yang aku mau, dan aku ingin menikmatinya bersama orang-orang yang aku sayangi..dan..aku ingin bisa menggaji beberapa orang asisten untuk mengurusi kebersihan dan kerapihan rumahku, termasuk punya koki yang jago masak, dan..mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang biasanya aku kerjakan sendiri.”

Nara:“Hahaha...yang terakhir, sepertinya itu yang terpenting ya?”

Aku: “Ehhh...iya yah?” Jawabku bingung sambil mengiyakan 90%.
Tiba-tiba aku ingin menangis, tanpa sadar mataku berkaca-kaca..

Nara: “Hey! jangan menangis!”

Aku:”Tidak...aku tidak menangis, hanya ingin saja..”

Nara: “Jangan yah..aku tahu kau tak selemah itu.” Jawabnya meyakinkanku.

“Kau hanya lelah sayang...lelah dengan semua yang kau kerjakan, lelah dengan semua yang kau pikirkan, bolehkah aku memelukmu?” jawabnya meneruskan perkataannnya sambil membuka kedua tangannya untuk memelukku.

Aku:“Dengan senang hati...:” Akupun mendekatinya dan membiarka ia memelukku, dan akupun...menangis...

Dia membelai rambutku perlahan sambil berkata
“Sabar ya...sabar...Semua lelahmu, adalah ibadah...dan aku bangga karena kau tidak pernah mengeluh. Aku dengar doa-doamu..aku dengar lirihan hatimu..saat kau angkat kedua tanganmu selepas kau sembahyang.”

“...dan aku tahu Tuhan mendengarmu, dan saat ini Ia sedang mendewasakanmu..memberikanmu pelajaran tentang hidup, tentang menjadi wanita, tentang menjadi ibu, tentang menjadi istri.”

“Aku tahu kau kuat dan kau akan keluar dari masalah-masalahmu ini...bukankah setiap harinya selalu ada terang. Hari tak selamanya hujan, tak selamanya juga panas...”

“Hidup ini seperti roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah, kadang suka, kadang duka, semua akan datang silih berganti. Yang aku tahu apa yang kau lakukan saat ini tidak ada yang salah. Kau sedang menjalani hidupmu dengan baik.... dan mungkin, sebentar lagi kau akan naik kelas, kau akan dapat promosi. Tetap berjuang ya! Jangan menyerah!” Katanya sambil tersenyum.

Aku:“Maksudmu...naik kelas? dapat promosi?” Tanyaku, tidak mwngwrti apa maksud kata-katanya itu.

Nara: “Ya... katanya menggantung, lalu ia melanjutkan kata-katanya..

Nara: “Apa yang saat ini kau lakukan sudah  benar. Kau sudah berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik, mengurusi semua yang suamimu butuhkan, mulai dari makanannya, cemilannya, minumannya, pakaiannya, termasuk mepraktekan pikiran-pikiran nakalmu dengannya dulu..hehe..bahkan...kau juga kadang mengurusi apa yang seharusnya dia kerjakan. Padahal aku tahu, dulu, ketika kalian pacaran dia yang selalu melakukan apa yang kau minta, bahkan yang tak kau minta sekalipun...”
Aku hanya tersenyum...sambil berpikir dan berusaha mencari jawabannya.

“Ah! biasa aja ko...karena kondisinya aja sih yang bikin kaya gitu. Dulu waktu kami masih pacaran dia belum mendapatkan pekerjaan tetap seperti sekarang setelah kami menikah, kami juga pacaran jarak jauh, jadi ketika ada waktu bertemu, pasti aku hanya mengurusi dia, dia juga begitu.”

“ Soal melakukan apa yang aku minta, bahkan yang tak kuminta sekalipun, itu karena kondisinya pasti ketika dia sedang ada di sini, kan aku kerja, jadi dia tau aku capek, jadi...ya gitu deh..hehe..”

“Kalau aku sedang ada di tempatnya, pasti hanya sebentar, dan dia tahu aku butuh pengorbanan yang tidak sedikit untuk bertemu dia, tenaga lah, materi lah, harus ngumpet-ngumpet juga, tau-tau baru lapor pas aku udah di kereta. Jadi gak mungkin aku balik lagi kalau ga dapet ijin...Ijin maksa :), So..saat aku di sana, dia juga pasti akan berusaha mati-matian untuk melakukan apapun untuk aku.”

“Kalau sekarang sih...Kondisinya terbalik. kami serumah, setiap hari bertemu, dia kerja, aku...tiap hari menunggu dia pulang ke rumah. Wajarlah, kalau aku berusaha melayaninya dengan baik sebagai seorang istri, karena aku tahu, pasti dia capek seharian di luar sana, mencari nafkah untukku dan anakku.”

“Sementara aku, seharian mengurusi semua urusan rumah tangga, bahkan ketika aku ada project yang harus kukerjakan, aku harus mengorbankan sebagian waktu tidurku untuk mengerjakannya. Karena siang hari semua waktuku untuk anakku, berebutan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang lain, yang terkadang tak sempat kukerjakan semua karena bagiku anak lebih penting dibandingkan dengan mengurusi rumah yang bukan miliku sendiri.”
Jawabanku yang panjang itu rupanya cukup membuat Nara berpikir lebih serius, dahinya mulai merengut pertanda dia sedang berpikir.

“Oh...Gitu yah.?” Tanyanya memastikan apa yang ia dengar.

“Iya” Jawabku singkat.

“Baiklah eksepsimu diterima.” Jawabnya, seolah-olah dia dalah seorang hakim yang sedang mendengarkan eksepsi dari seorang terdakwa.

Aku: Terima kasih.” Jawabku singkat, layaknya seorang terdakwa yang baru membacakan eksepsiku.

“Sepertinya kamu sudah mengeri banyak dan benar-benar faham akan kondisi yang kamu alami saat ini. Tapi aku tahu...Kamu masih belum menerima keadaan itu, benarkah?”

“Sedikit..:) Wajarlah, aku kan manusia, walaupun aku berusaha untuk sempurna, tapi aku tetap tidak bisa sempurna, karena sempurna hanya milik yang di Atas. Kadang rasa tulus itu, rasa ikhlas itu tidak sepenuhnya. Tapi sesegera mungkin selalu kutepis karena aku tahu semua itu kewajibanku.”

“Aku tahu, suamikupun memikirkan tentang aku, tapi untuk saat ini kami berdua memang belum bisa berbuat banyak. Itu yang membuat jawaban pertamaku adalah ‘Aku ingin kaya’, karena untuk saat ini kekayaan itulah yang bisa menjawab semua permasalahan kami.”

“Aku sudah cukup sabar, aku juga berusaha untuk tetap tegar dan kuat menjalani semua ini, tapi saat semuanya memuncak...rasanya aku ingin menjerit sekeras-kerasnya. Itulah sebabnya, ketika aku berdoa selepas sembahyang, seringkali air mata itu menetes di pipiku.”

“Karena aku sadar ternyata betapa lemahnya aku. Dengan cobaan seperti ini saja rasanya aku tak sanggup.”

Nara: “Jika kau tak sanggup tak mungkin kau bisa melewati 2 tahun ini. Buktinya kau masih bisa tersenyum, kalian masih bisa melempar lelucon dan tertawa bersama, kalian juga masih melakukan hal-hal romantis untuk mengekspresikan rasa cinta kalian, dan kau tahu...Itulah kekuatan terbesarmu. Cinta.”

Aku: “ Ya..semuanya kulakukan karena cinta. Karena Cinta aku bisa bertahan, karena cinta yang menguatkanku, karena cinta yang meyakinkanku bahwa kami, aku, bisa melewati semua ini.” Akupun berkaca-kaca lagi...

Akupun terbangun, melihat anak dan suamiku sedang tertidur lelap di sisiku. Dan aku pun menciumi kening mereka, ku usap rambut anakku  yang kini mulai menutupi matanya, ku peluk suamiku dalam doaku...dengan tangis lirihku....dalam hati kukatakan...

“Aku mencintaimu...dan aku akan selalu bersamamu, menjadi milikmu, selalu, selamanya...”

Lalu kupeluk ia, kudekap erat,  sampai aku mati, dan bertemu Nara lagi.
***

0 komentar:

Post a Comment