Breaking News

21 February, 2012

Permata Kehidupan


Anak adalah permata kehidupan kita. Semaksimal mungkin perhatian, dukungan, kasih sayang kita curahkan untuk tumbuh kembang sempurna sang buah hati. Begitu pula halnya denganku saat mendampingi Rafif anak pertamaku. Demi anak, apalagi anak pertama saat itu aku memutuskan berhenti bekerja (meski sejak dia mulai masuk playgroup karena alasan ekonomi aku harus bekerja lagi).

Mengasuh anak pertama gampang-gampang susah, semakin banyak membaca artikel tentang tumbuh kembang anak malah semakin bingung aku dibuatnya. Apalagi Rafif ternyata mengalami lambat berbicara. Artikel-artikel banyak menyebutkan anak usia 18 bulan setidaknya sudah bisa mengucapkan 5-10 kata, saat itu hingga usia 24 bulan (2 tahun) Rafi tak dapat mengucap sepatah kata pun.

Cemas, bingung, was-was jangan-jangan Rafif ini ada kelainan, bisu atau keterlambatan yang serius. Semua cara sudah aku lakukan mulai dari mengajaknya menirukan perkataanku dengan perlahan, membacakan dongeng,bernyanyi hingga terpikir untuk mengajaknya ke spesialis tumbuh kembang anak (yang batal kulakukan karena di rumah sang dokter hanya ber-praktek dini hari selebihnya harus ke Rumah Sakit di luar kota). Sempat juga mengikuti saran orang tua (yang tidak bisa dinalar logika dan membuatku geli setiap mengingatnya) yaitu membawanya ke “orang pintar”  dan benar-benar “pintar” si bapak itu, beliau menghibur “Wah memang belum waktunya bu, setiap anak kan tingkat perkembangannya berbeda, bantu doain sambil terus berusaha”.
Kekhawatiranku ternyata tak beralasan, usia 2,5 tahun bicaranya sudah mulai lancar. Dia malah meminta bersekolah playgroup saat usia 3 tahun. Saat di TK kekhawatiranku berubah : wah mengajarinya membaca susah sekali padahal masuk SD nanti sudah harus bisa membaca, menulis dan berhitung.

Sekali lagi aku terlalu “meremehkannya”. Dia bisa diterima di SD umur 6 tahun dan masuk di kategori siswa “bagus” (penerimaan siswanya digolongkan dalam 3 kategori : berkemampuan bagus, sedang, rendah). Celotehannya cukup cerdas (bagiku tentunya) untuk anak se-usianya : “Mama, kalau kita rajin berdoa apakah hujan meteor seperti di film 2012 itu tak kan pernah terjadi?”. “Mama, sayang apa tidak sih sama aku, kalau sayang pulang kerja bawakan aku oleh-oleh ya”. “Mama kalau capek, sakit, berhenti kerja saja, temani aku di rumah”. Belajar naik sepeda pun dia lakukan sendiri dengan “bantuan” roda penyangga yang dilepaskan bertahap.

Anak memiliki hak untuk dihargai sesuai kemampuannya, jadi meski anak keduaku di umur 1 tahun 9 bulan baru mampu berkata : mama, papa, apa, mik, maem, mbek, bebek , kurasa tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Seperti Kahlil Gibran mengungkapkannya dalam puisi nan indah :

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

0 komentar:

Post a Comment