Breaking News

06 February, 2012

Peninggalan Mama Keenan


  Ompung Pohan duduk di sampingku, seperti biasa, dengan cueknya. Bicara seperlunya, pendek-pendek, tanpa basa-basi.
“Kau tahu si Keenan? Keenan Nasution, penyanyi itu?”, tanyanya. Aku mengangguk. Ya tahu dong, becanda aja si ompung, masa aku nggak tahu Keenan Nasution, penyanyi lagu Nuansa Bening (belakangan ini didaur ulang oleh Vidi Aldiano), yang kemudian pensiun bernyanyi setelah menikah dengan Ida Royani.
“Mamanya ‘kan meninggal belum lama ini. Ompung yang urus barang-barangnya. Bukunya banyak, semuanya ada nama dia di halaman paling depan. Ompung sumbangkan buku-bukunya ke perpustakaan Islam, biar dibaca banyak orang, buat tabungan dia di dalam kubur, ‘kan jalan terus itu pahala untuk dia. Indah ya hidupnya, ada yang dia tinggalkan untuk banyak orang....?”.
Aku hanya tersenyum. Gak perlu komentar. Memang hidup yang indah, banget.
Percakapan di atas sudah berlalu belasan tahun silam, beberapa tahun sebelum ompung wafat, dan sampai sekarang cerita ompung melekat terus di benakku seperti dongeng Putri Sejati karya HC Andersen.
Setiap kali teringat cerita ompung, selalu terpikir tentang warisan, tentang “peninggalan” seseorang yang telah berpulang. Sesungguhnya apa sih yang mereka tinggalkan? Katanya, sebaik-baik warisan, adalah anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariah. Saya tak akan bicarakan yang pertama, karena akan terlalu panjang pembahasan mengenai anak yang saleh, apakah seorang anak yang ahli ibadah? Apakah seorang anak yang menjaga silaturahmi, apakah seorang anak yang hubungan kemanusiaannya baik tapi tak jelas hubungan vertikalnya? Atau malah sebaliknya, seorang anak yang ahli masjid tapi tak mau bersosialisasi? Terlalu kompleks untuk dibicarakan, lagi pula itu akan membuat saya cenderung menilai seseorang, sesuatu yang sangat saya hindari.
Mendingan bicara tentang amal jariah dan ilmu yang bermanfaat. Amal jariah adalah amal yang pahalanya akan terus mengalir selama yang diamalkan itu masih digunakan oleh orang banyak. Ilmu yang bermanfaat, itu sebaik-baik ilmu, pengetahuan yang dibagikan, di share kepada banyak orang sehingga orang menjadi lebih pandai dan lebih baik tentunya.
Dan rasanya, buku-buku bacaan adalah bukti kongkrit dari perpaduan amal jariah dan ilmu yang bermanfaat. Tahu sendiri, di dalam buku ada segudang ilmu yang bisa mengalir tiada henti dari satu orang ke orang lainnya. Buku yang baik tentunya akan menjadi sumber ilmu yang bermanfaat.
Selain anak yang saleh, amal jariah dan ilmu yang bermanfaat, adakah hal lain yang ditinggalkan? Ada. Mungkin sebuah atau beberapa rumah di perumahan kawasan elite, beberapa villa di tempat-tempat istirah terbaik, Mercedez mewah seri sekian-sekian, motor Harley Davidson, kucing Persia berharga jutaan, kuda-kuda Australia di ranch pedesaan, kapal pesiar serta sederet inventaris lainnya (hmm, memangnya dia akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir naik Harley Davidson atau naik yacht ya....?).
Hmft, makin banyak harta yang ditinggalkan, makin banyak pula masalah yang bisa menjadi sumber pertikaian di antara orang-orang yang ditinggalkan. Gimana mau dibilang anak saleh kalau kerjaannya ribut terus berebut harta dengan saudara, heuheu.
Ah, harta, mau dibawa kemana sih? sejak seseorang masih hidup di dunia sampai sudah tak hidup lagi, seringkali malah lebih banyak menimbulkan masalah bagi banyak orang yang tidak bisa mengelolanya dengan bijaksana.
Bagusnya, ketimbang meninggalkan harta berlimpah, tinggalkan saja ilmu, bisa dengan ucapan yang bermanfaat semasa hidup, bisa juga tanpa ucapan apapun, tapi perilakunya mengajarkan banyak hal (ibunda, aku belajar sangat banyak dari diammu....).

Dari ayahanda dan ibunda aku mendapat warisan banyak ilmu yang bermanfaat, termasuk belajar berani mengemukakan pendapat dan menjadi kreatif dan belajar menulis. Sepanjang hayat, mereka memberiku contoh dari hidup dan waktu yang digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, membaca, menulis, mendengarkan musik, berkebun, menjahit, bertegur sapa dengan santun, berwajah ceria,mensyukuri alam dengan merekamnya dengan kamera, menjaga silaturahmi.... Banyak, banyaaak sekali.
Ompung juga sudah memberi contoh ucapan yang bermanfaat. Tuh ucapannya yang kukutip di awal catatan ini, bukankah itu cerita yang baik yang bisa memotivasi orang untuk menjadi lebih baik?
Dan ibunya Keenan Nasution? Meskipun aku hanya mendengar ceritanya dari ompung, beliau juga memberi pelajaran berharga yang tidak akan pernah kulupakan, bahwa hidup yang bermakna adalah memiliki harta yang bermanfaat bagi banyak orang, harta yang disebut “buku”, yang isinya menjadi sungai ilmu yang terus mengalir....

Bandung, 21 Juli 2011
dalam rangka menyiapkan
Rumah Baca dan Rumah Belajar “Kayu-kayu”.

0 komentar:

Post a Comment