Breaking News

10 February, 2012

Pengamat Cilik, Pohon Nangka, dan Kucing


 
Si Pengamat Cilik, Pohon Nangka, dan Kucing
Sore yang terik di Gorontalo. Saya berdiri di halaman belakang, menatap masygul pada sebatang pohon nangka tua. Konon usianya sudah empat belas tahun. Sudah tua untuk ukuran nangka. Batangnya sudah terlalu keras untuk dimakan parang biasa.
“Bunda, kenapa mata bunda begini?” tanya putri saya, Yasmin. Dia meyipitkan matanya, meniru tatapan masygul saya.
“Bunda sedang heran.”
“Kayak waktu aku bikin susu?” Yang dia maksud dengan bikin susu itu adalah mencampur segelas air dan sesendok bedak tabur. Percayalah.
“Ya… mirip. Mirip itu artinya hampir sama.”
Dia ikut menatap pohon nangka, yang untuk kesekian kalinya mengugurkan daun kuningnya, tepat di dekat kaki saya.
“Wuah… tambah banyak!” Yasmin berseru girang.
“Ah… andai ini uang, “ gumam saya sambil mengambil sapu lidi.
“Ga boleh sering-sering minta uang…” timpal anak saya dengan gumam yang sama.
Kalau ini komik, pasti ada batu yang menimpa kepala saya saat mendengar kalimat itu. Seharusnya kalimat itu saya patenkan!
Baru selesai setengah halaman, dibantu Yasmin yang menyapu dengan ranting, tetangga saya muncul dari halaman sebelah. Halamannya bebas pohon. Hanya ada tiang jemuran.
“Rajiin Buu? Pegel deh. Percuma, ntar juga jatuh lagi.” Dia menunjuk daun-daun yang masih hijau di pohon.
Mulut saya, yang terlalu lama ada di kelas ilmu politik, sudah siap dengan jawaban. Tapi saya berhenti di jalan. Putri saya, sedang mendongak, menanti-nanti jawaban saya. Saya yakin, putri saya adalah pendukung yang hebat, tapi saya tidak mau membiarkannya belajar bersilat lidah dan suatu hari saya kena batunya: senjata makan tuan.
“Dari pada numpuk, Bu,” jawab saya akhirnya. Jawaban yang menurut saya paling aman dari pada, “kita tetap makan meski pada akhirnya lapar lagi, bukan?” Sungguh, saat itu saya masih tersenyum manis ala tetangga idaman.
“Iya sih, dari pada nggak ada kerjaan ya Bu…”
Di balik punggungnya, senyum saya menguap. Guee? Nggak punya kerjaan? Bangun subuh nyiapin makan dewasa dan balita. Nyapu ngepel  nyuci belanja masak nyapu ngepel nyetrika masak ngajarin anak baca tulis ngaji, itu nggak kerjaa? (penghilangan tanda baca sebagai upaya mendramatisir keadaan :p)
Iya sih, saya nggak punya kantor, nggak punya jadwal meeting, nggak punya alibi bahwa saya bukannya tidur seharian atau nonton televisi di rumah.
“Kenapa bunda begini?” putri saya melorotkan ekspresi mukanya, seperti ketika ayahnya membatalkan janji bermain ke lapangan.
“Bunda sedih.”
“Nggak nangis?”
“Mmm, yang ini tidak terlalu sedih, kok, sayang.”

Kami menyapu lagi. Sampai ketika punggung saya sulit kembali tegak, saya mendapatkan ide. Sambil menatap nangka tua itu, saya bertanya, “siapa sih, yang menanam kamu?”
“Allah,” jawab putri saya dengan huruf L payah.
“Maksud bunda, yang memasukkan bijinya ke tanah,” saya mendefinisikan kata tanam.
Lalu saya teringat, tetangga sela dua rumah dari saya adalah penghuni angkatan pertama kompleks perumahan guru ini. Mr.M, yang halamannya nyaris dipenuhi pohon dan kandang-kandang ternak. Saya mengajak putri saya mengunjunginya sore itu.
Obrol punya obrol. Saya bertanya, pada asisten rumah tangganya (jujur deh, saya nggak berani menemui Mr.M, beraninya cuma sama Si Tante yang jagain rumah).
“Iya, dulu sekali, lahan ini sangat tandus. Bapak datang dari jawa. Lalu beliau tanami semua sudut dengan nangka, mangga, jambu…”
“Kenapa bukan pohon kelapa?” iseng saya mengingat di luar kompleks kami tanaman yang banyak adalah palem, kelapa, lontar.
“Bapak ingin yang cepat tumbuh dan berdaun banyak, agar teduh, dan buahnya bisa dimakan.”
Saya pulang dengan menggandeng jemari putri saya. Sibuk berfikir. Pohon itu tidak sembarang ditanam. Mr. M menanamnya dengan niat memberi manfaat untuk sebanyak-banyaknya orang. Saya melihat sekeliling, nyaris hutan begini dulunya tandus? Saya menghirup udara segar. Telinga saya menangkap nyanyian sekelompok burung, nun jauh di puncak pohon mangga.
“Alhamdulillah…”
Rasanya, setiap hari mengumpulkan daun-daun kering ke liang pupuk, tak terlalu beratlah. Cuma lima menit!
Senyum saya baru separo jalan saat putri saya meloncat. “Aaa, eek kuciiing!”
“Aaa. Kenapa sih, kuciiing!” Saya benar-benar senewen dengan jumlah kucing yang luar biasa banyak di daerah ini. Kira-kira sepuluh ekor dalam radius dua puluh meter. Kotorrraannnyaaa…grrr…
“Siapa yang bikin kucing, bunda?” tanya putri saya masih dengan ekspresi masygul.
Saya terkejut dengan cepatnya dia menyerap. “Allah,” jawab saya nyaris tak terdengar. Tertohok.
“Kenapa sih? Kan eeknya di mana-mana. Bauuu!”
Saya terdiam. Menyelesaikan anak tangga terakhir menuju rumah. Di pintu, sambil membuka sepatunya, saya berkata, “supaya manusia belajar memaklumi. Supaya manusia lebih berkasih sayang dengan makhluk-makhluk lain penumpang bumi.”
Sore sudah tidak seterik sebelumnya. Hati saya membasah ketika mengingat, di kota sebelah kucing-kucing dijual dan disembelih, dimakan.
Kemarilah kucing, penuhilah lahanku semaumu, hiduplah bersama kami… semoga itu menjadi RahmanNya di muka bumi.
“Memakumi itu apa Bunda?”
……..zzrrtttzzzz…………………



0 komentar:

Post a Comment