Breaking News

17 February, 2012

PEMBANTU



 By Ati Mirawanti Likumahuwa  

Sebentar lagi hari raya Idul Fitri akan menjelang, pada saat-saat seperti ini masalah  yang satu ini akan  jd momok buat ibu-ibu yang terbiasa dibantu untuk membereskan urusan rumah tangga sehari-hari. Sebelum Idul Fitri akan banyak status di Fesbuk yg isinya tentang kesibukan penghuni rumah bekerja bakti menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Selepas dul fitri akan banyak status di Fesbuk yg isinya tentang penantian kembalinya sang penyelamat rumah tangga.
Ini yang namanya fenomena "Pembantu Rumah Tangga". Aku juga punya banyak pengalaman dengan para pembantu ini. Mulai dari aku kecil sampai aku punya keluarga sendiri.
Waktu kecil aku  masih ingat ada  pembantu ibuku yang biasa dipanggil "Bi Asih" (sampai sekarang aku tdak pernah tahu siapa  nama yg sebenarnya). Orangnya baik sekali, selain membantu ibuku di rumah, dia juga punya tugas menjemput aku di sekolah. Aku  msh ingat, waktu itu (tahun 70-an) Bi Asih itu masih memakai kebaya dengan kain batiknya dan tidak lupa membawa payung kecil yg akan dipakainya kl terasa panas di jalan. wah, pokoknya persis dengan gambaran wanita2 jaman dulu. Sayang, sepertinya bi Asih ini tidak lama membantu ibuku di rumah, karena tidak lama kemudian dia sudah tidak pernah datang ke rumah (mnrt ibuku waktu itu "Bi Asih, sakit") dan tak lama kemudian aku dengar beliau meninggal dalam sakitnya. Aku sempat datang ke rumah kecil nya di pinggiran Bandung dan bertemu dengan suami dan anak2nya. Sayang, seperti orang banyak bilang "Orang baik lebih cepat meninggal dunia".
Kemudian, ada lagi pembantu yg lain.. yg ini namanya "Bi 'mi" (Ironisnya, sampai sekrang pun aku tidak tahu nama aslinya"). Bi 'mi ini cukup lama bersama dg keluargaku mulai dari SMP sampai aku menikah. Lama juga, walaupun dlm kurun waktu itu, beberapa kali Bi 'mi keluar dari pekerjaannya sampai akhirnya dia betul2 keluar dari dan tidak kembali lagi bekerja di rumahku. Alasan terakhirnya "Dilarang anaknya utk terus kerja karena usianya sdh mulai tua". kabar baiknya, kami msh menjalin tali silaaturahmi sampai sekarang. Kl ada waktu luang, kami sekeluarga suka berkunjung ke rumah Bi 'mi di pelosok Tanjungsari Sumedang, atau kadang2 bi 'mi dan kel nya yg menyambangi rumah orang tua kami. Memang benar kata orang2 "silaturahmi itu indah".
Setelah berkeluarga, beberapa kali aku punya orang2 yg membantu di rumah. Pada awalnya kebutuhan pembantu ini lebih dikarenakan ketidak adaan orang yang bisa menjaga anakku Dzaky. Waktu itu, aku dan suami kerja, ibuku kerja, adikku masih kuliah jadi aku perlu seseorang yg  bs menjaga anak pertamaku ini, paling tidak sampai dengan ibuku pulang dari kantornya (biasanya sekitar jam 2 siang). Pengasuh pertama seorang perempuan muda yg 'mengaku' punya anak serta suami dan hidup mereka sangat susah (kadang2 makan nasi, kadang2 tidak, bahkan menurut ceritanya sering dia berusaha mencuri ketela pohon tetangganya hanya untuk mkn)... wallahualam... "Hanya Allah yang tahu". Pengasuh pertama ini (aku sdh lupa namanya) mengasuh Dzaky pada usia 4 bln. Kemampuannya mengasuh anak ternyata tdk perlu diragukan, Dzaky langsung akrab dg 'mbak'nya yang satu ini. Tapi seolah Allah mengirimkan pesan kepada kami, tiba-tiba tak beberpa  lama dia bekerja (lebih kurang 2 bln), Dzaky sakit. Sepulang dari Imunisasi DPT yg terakhir, Dzaky panas tinggi (biasa dialami oleh anak2 yg diimunisasi DPT) tp yg menyesakkan, selain panas tinggi diikuti pula dg muntah2 dan buang air yg tdk berhenti. Kebetulan, pd waktu Imunisasi, Dzaky ditangani oleh dokter pengganti, krn Alm. dr. Boed yg biasa menangani Dzaky sedang mengikuti Kongres  dokter anak di Bali. Sempat terpikir "Jangan2 gara2 dr nya tdk tahu kelemahan Dzaky". Tp pada saat sakit terus berlanjut selama 2 hari kemudian dan kondisi Dzaky sdh benar2 lemas (karena setiap susu yg masuk pasti akan keluar lagi melalui muntah dan mencret) kekhawatiran sdh tdk bs dibendung lg. Setelah berkonsultasi via telp dg Alm. dr. Boed (krn hr itu hr minggu) akhirnya kami memutuskan untuk membawa Dzaky ke RS. Advent. Dan seperti telah bisa diduga Dzaky akhirnya dirawat di RS selama 6 hari. Dzaky yg saat itu masih bayi, hrs diinfus. Setiap org yg bermaksud menjenguk kerabat2nya sering tertegun melihat Dzaky dan sering berbisik "kasian ya, msh bayi udah diinfus". Tapi dari setiap musibah pasti ada hikmahnya. Hikmah yg bs kami ambil dari musibah Dzaky ini diantaranya adalah terbukanya kenyataan bhw penyebab sakitnya Dzaky adalah gara2 makanan yg dibuat oleh pengasuhnya. Waktu ini Dzaky sdh belajar makan makanan padat, tp seharusnya dia makan bubur susu lebih dahulu tp menurut cerita adikku (yg baru bercerita kemudian, mungkin untuk menjaga perasaan kami) si pengasuh ini membuatkan Dzaky bubur nasi yg dicampur dg daun bayam dan kaki ayam
. Mungkin maksudnya baik, tapi ternyata perut Dzaky blm bisa menerima makanan tersebut (Alm dr. Boed sampai menegur kami atas informasi tsb, kata beliau pd waktu itu "Ibu ini bagaimana, anak ini kan perutnya baru belajar menerima makanan, seharusnya dicoba dulu dengan bubur susu.. bukan bubur nasi!!!". Pd wkt itu aku terima teguran Alm. dr. Boed, krna aku akui bhw itu suatu kesalahan). Sejak sakitnya Dzaky itu, aku memutuskan untuk tdk memperkerjakan lagi pengasuh ini. Anehnya, si mba ini dr hari Dzaky mau diimunisasi sdh tdk masuk kerja, alasannya via telepon waktu itu "Anak sakit panas". Dan sampai dengan Dzaky pulang dr RS, tdk satu haripun dia muncul di rumah. Akhirnya si mbak ini tereliminasi dengan  sendirinya.
Pengasuh kedua, seorang perempuan sdh ada umur (mungkin sekitar 40-an) yg berpengalaman mengasuh bayi dan orang tua. Mrt ceritanya, dia baru berhenti bekerja mengasuh seorang manula yg terkena stroke. Mbak yg satu ini bersedia menginap di rumah, Pd malam  pertama dia datang, kami bernegosiasi mslh gaji dengan dia. Akhirnya setelah berbincang agak lama, terjadi kesepakatan mgn nominal gaji. Esok harinya, sepulang kerja dari kantor aku mendapati si mbak sudah tidak ada di rumah. Waktu aku tanyakan perihal mbak tersebut kpd ibuku, beliau  menjawab "Katanya mau pulang aja". Halahhh... baru satu  malam????!!!!!!
Pengasuh ketiga seorang ibu tua. Ibu ini mengaku tinggal tdk jauh dr rumah kami. Sebagaimana seorang tua yg tenaganya sdh berkurang, pekerjaan si ibu satu ini pun hanya 'ala kadar' nya saja. Datang jam 8.00 pagi, pulang jam 12.00 siang. Jadi akhirnya dia tdk mengasuh Dzaky, krn waktu yg sangat sempit dia hanya sempat menyelesaikan pekerjaan sehari2 di rumah (sapu, pel, cuci & setrika). Ironisnya lagi, baru aku 'ngeh' kemudian, baju2 anggota rumah banyak yg raib. Memang tdk banyak, mungkin 1 orang 1 baju, tapi kl yg diambilnya baju yg disukai.. agak menyesakkan dada juga. Akhirnya si ibu satu ini pun dieliminasi. Kami terpaksa memberhentikannya dengan alasan kami akan pindah rumah (waktu itu, orang tua kami sdh membeli rumah baru tdk jauh dari sana) tp kami tdk memberitahukan kemana kami pindah rumah.
Pengasuh keempat, seorang gadis belasan tahun yg msh ada hub kerabat dari pihak papaku (dari sumatera barat). Dia datang ke bdg dg maksud mencari kerja, tp setelah beberpa lama ternyata kerja yg diinginkan tdk juga dia dapatkan sehingga akhirnya bersedia menjadi pengasuh Dzaky yg waktu iitu sdh berusia 1 tahun. Anaknya baik, sayang kepada Dzaky tapi entah kenapa menjelang usia Dzaky 2 tahun, dia minta berhenti dan pulang ke kampung halamannya. Perpisahannya dg Dzaky diiringi dg tetesan air mata nya. Kami tahu, dia sangat menyayangi Dzaky tapi entah apa yg membuatnya tidak mau bertahan. Wallahualam...
Sejak saat itu, aku dan orang tuaku tidak pernah lagi mempunyai orang yg membantu untuk urusan rumah tangga. Hal ini dikarenakan beberapa alasan. Pertama, ibuku memutuskan untuk berhenti bekerja sehingga sehari-hari bisa menjaga Dzaky di rumah sampai aku pulang kerja. Alasan kedua, rumah yg kami tempati tdk besar sehingga pekerjaan sehari2 bisa kami lakukan sendiri. Alasan ketiga, kondisi keuangan kami yg sedang menurun apalagi waktu itu suamiku berhenti bekerja di Jakarta dan memutuskan untuk menetap dan mencari kerja di Bdg.
Selama bertahun-tahun aku tinggal dg orang tuaku di rumah mereka, tidak satu orangpun yg membantu kami. Bahkan sampai sekarang, orang tuaku masih mengerjakan segalanya sendiri (dibantu oleh adik dan saudara sepupuku yg tinggal bersama orang tuaku).
Sekarang, setelah beberapa tahun berlalu, anakku sudah bertambah 1. Aku msh kerja, suamiku tdk lg bekerja kantoran, dia memutuskan untuk berwirausaha, karena menurutnya hal tersebut lebih memudahkan dia untuk bertemu dengan anak-anak. Aku dan suamikun sekarang sudah tidak tinggal bersma orang tuaku lagi, sekarang aku tinggal di rumah baru bersama-sama dengan ayah mertua dan kedua adik iparku (satu perempuan dan satu laki2). Tahun pertama kami tinggal di rumah baru, kami punya pembantu laki-laki yg merupakan pembantu bawaan ayah mertuaku waktu masih tinggal di Cinere Depok. Karena rumah di Cinere Depok dijual dn dibelikan rumah di Bandung, maka "Endin" ikut kami di  Bandung.
Endin orang Sukabumi asli, dari daerah sekitar Parungkuda. Dia sudah ikut dengan ayah mertuaku sejak berusia 11 tahun. Jadi kl dihitung, dia sudah ikut kurang lebih 25 tahun. Orangnya sangat baik, jujur, cekatan dan pintar. Apapun bisa dikerjakan oleh Endin. Mulai dari mencuci, masak, belanja sampai membetulkan pipa kran atau genting yg retak pun bisa. Kami betul2 mengandalkan dia. Waktu ayah mertuaku tinggal di Cinere-Depok, endin sudah diberi kesempatan untuk pulang ke kampungnya setiap 2 mg sekali. Tapi pd waktu itu, jarak Depok-Sukabumi bisa ditempuh kurang lebih hanya 1-2 jam. Semua berjalan lancar, setiap 2 minggu sekali, Endin pulang hari jumat sore, hari minggu siang atau sore sdh kembali aktif di rumah.Kesempatan yang sama kami berlakukan juga ke pada Endin setelah tinggal di Bandung. Tp apa yg terjadi, setiap 2 mg sekali endin akan pulang ke kampungnya selama 5-6 hari. jadi kalau di total masa kerja dengan masa libur nya, ternyata hampir sebanding.. sedangkan gaji yg kami berikan sekarang lebih tinggi dari gaji yang diterimanya waktu msh bekerja dg ayah mertuaku.. aku sempat berpikir "enak sekali kerja endin, setahun yg notabene kurang lebih 365 hari, dia kerja cuma sekitar 180 hari.. sisanya yg 180-an hari lagi kita yang mengerjakan semuanya.. sementara gaji plus THR dll, dia terima fullm tdk pernah dikurangi..". Lucunya, pd saat pilkiran itu muncul, Endin pun tidak pernah muncul lagi di rumah kami, dia hanya mengirimkan pesan sms ke ayah mertuaku "pak, Endin mau berenti kerja disana, mau ngurus keluarga aja disini". Yahhh.. mungkin Allah msh sayang kepada kami sekeluarga, utk tetap menjaga perasaan baik kami kepada Endin, mungkin seandainya Endin tetap datang ke rumah kami waktu itu, ending nya tidak akan seperti itu ( mungkin kami akan memberhentikan dia dengan perasaan dongkol dsb pdhl kalau dilihat jasanya thd keluarga kami begitu besar).
Yang terakhir dan sampai saat ini msh bekerja di rumah kami adalah "Neng" (itu nama yg aku tahu)... dia dikrm oleh ibuku yg prihatin dg kondisi rumah tanpa pembantu dan pengasuh anak2. Aku setiap hari hrs bekerja, adik ipar perempuan ku juga bekerja di Sukabumi dan hanya pulang akhir pekan (sabtu-minggu), jadi  notabene di rumah semua yg ada hanya laki2. Suamiku, kadang2 juga harus pergi keluar rumah, adik ipar laki2 dan ayah mertua tidak mungkin aku titipkan anak2ku yg masih kecil2. Akhirnya harapan terakhir ku ada di ibuku, padahal ibuku skrg sdh mulai merintis usaha toko kecil di rumah nya, jadi waktunya banyak tersita disana. Adik perempuan ku juga sdh mulai sibu dengan skripsinya. Dalam keadaan terpaksa, aku titipkan anakku yg msh  bayi dan kakaknya yg sudah mulai SD. Repot memang, karena setiap kali aku titipkan anak2ku berarti aku harus membawa semua barang2 keperluan anak2ku mulai dari kursi rodanya, tempat tidurnya dll.
Atas dasar keprihatinan itu, akhirnya dikirimlah "Neng" ke rumah oleh  ibuku. si "Neng" ini sebetulnya msh tinggal tdk jauh dari rumah ibuku. Beberapa kali waktu aku mengeluhkan tentang konsidiku ini, ibuku sering menawarkan beberapa orang tetangganya yg biasa membantu rumah2 disekeliling rumah ibuku (kebetulan rumah ibuku sekrang dekat dg perkampungan penduduk padat) tapi selalu aku tampik, karena keragu-raguanku. Tapi entah kenapa pd waktu ibuku menawarkan si "Neng" ini, aku langsung menyetujui. Mungkin krn beberapa kali aku pernah mellihat dia di sekitar rumah ibuku dan beberapa kali juga berbelanja keperluan sehari-hari di toko kecil ibuku itu.
Si "Neng" ini orangnya biasa.. sangat biasa.. bahkan kalau kita lihat sepintas, sering menimbulkan kesan "agak kurang". Tapi dg keterbatasannya itu ada satu perasaan yg muncul di hatiku kl orang ini bisa dipercaya. Pada waktu si "Neng" datang pertama kali ke rumahku, yg pertama kali aku sampaikan kepada dia adalah masalah kepercayaan. Aku bilang, jaman skrg tidak sulit mencari orang yg mau bekerja, yg sulit adalah mencari orang yang mau kerja dan bisa dipercaya. Hal itu selalu aku camkan kepada dia. Dan Alhamdulillah, sampai saat ini dia bisa memegang kepercayaan itu. Tapi namanya juga orang yg bekerja sebagai  pembantu rumah tangga apalagi dg keterbatasan si "Neng" yg ternyata baru aku tau kalau matanya tidak bisa melihat jauh alias rabun jauh yg cukup berat (sekitar minus 5) tapi tidak mau memakai kacamata, semua pekerjaan yg dia kerjakan harus aku terima apa adanya. Menyapu dan mengepel, kalau lantai sangat  kotor krn kelakuan anakku yg kecil, aku harus terima msh banyak kotoran2 yg terlewat. Kadang2 suka aku kerjakan lagi sendiri. Menyetrika sebetulnya bisa dia kerjakan dengan baik, tapi entah krena ingin buru2 selesai atau teledor, kadang2 hasil setrika bisa masuk dimana-mana. Baju anakku, dzaky, bisa ada di kamar om-nya, baju adik iparku ada di kamarku dan jangan tanya soal kaos kaki.. kaos kaki yg satu pasang, bisa tinggal sebelah2. Kalau aku tanya, jawabnya "Gak tau, tadi sih ada..". Mungkin hanya mencuci baju pekerjaan yg paling bisa di andalkan. Smua baju dicuci memakai tangan, kecuali celana jeans, handuk dan sprei yg aku minta untuk dicuci memakai mesin cuci. Secara garis besar semua pekerjaan bisa dia lakukan, termasuk mengurus kedua anakku. Sekarang aku bisa meninggalkan rumah dg tenang tanpa rasa waswas masalah anak2. Bahkan, kalau aku pulang sore hari, anak2 sudah siap dan wangi dg mandi sore nya. Tapi jangan diminta si "Neng" ini untuk masak (dari awal dia sdh mengatakan kalau dia tidak bisa masak) karena untuk menghangatkan sisa masakan semalam aja, selalu berakhir dengan gosong. Pdhl beberapa kali aku bilang untuk memakai api kecil bila menghangatkan masakan, tapi entah kenapa selalu berulang seperti itu. Satu lagi yg sering membuat aku dongkol campur geli, kalau diminta tolong untuk membeli sesuatu tidak bisa lebih dari 2 item,  karena kalau lebih dari 2 item akan ada kesalahan atau ketinggalan. Pernah suatu kali kami kehabisan diapers untuk anakku yang kecil. Aku minta dia beli diapers ukuran XL. Suamiku membantu menekankan ukuran diapersnya "XL ya neng..". Tidak lama kemudian dia datang dg tergopoh-gopoh sambil menyodorkan sesuatu kepadaku "ini kan bu???". Antara kesal, geli dan tidak percaya dg yg aku liat sampai rasanya tdk sanggup berkata2. Si "Neng" ini menyodorkan kartu perdana XL... halaahhhh... gubrakkk....

6 komentar:

Sindonews said...

Pembantu memang sosok yang bisa membantu kebutuhan rumah kita.
Thanks Pembantu. :D

Makanan Sehat Teknologi Dunia

El Baihaki said...

Hihihi.. Begitulah nasib ibu rumah tangga. yang selalu siap kapan pun dan dimanapun. :D

Semua ada hikmahnya mba..


Situs Travelling | Sejuta Informasi

deric santoso said...

ibu rumah tangga merupakan pekerjaan paling sulit kok sis :(

http://www.duniaberbicara.com/resep-2/cara-membuat-resep-pancake-spesial.html
http://breaktime.co.id/
Jadwal Arema Terbaru

Nike Free said...

michael kors 2015 michael kors outlet michael kors outlet stores michael kors outlet online sale michael kors outlet michael kors outlet online michael kors 2015 michael kors outlet michael kors outlet stores mbt Shoes discount mbt Shoes mbt shoes sale mbt shoes online Buy mbt shoes online mbt shoes shopping mbt footwear new mbt mbt usa mbt canada coach outlet coach outlet stores coach outlet online coach factory coach factory outlet coach factory online coach outlet store online

raybanoutlet001 said...

coach factory outlet
hollister clothing
nike trainers uk
coach outlet online
adidas nmd runner
salomon boots
nike huarache
moncler outlet
louis vuitton sacs
true religion jeans sale

GIL BERT said...

ugg outlet
true religion jeans
coach outlet
boston celtics jersey
skechers outlet
miami heat jersey
gucci sito ufficiale
michael kors outlet
nike outlet
new balance outlet

Post a Comment