Breaking News

21 February, 2012

Pelajaran Ke 8: Yuk Belajar Menyunting Tulisanmu

By Eni Setiati  
Ibu,

Yang sabar ya bu selama belajar menulis.
Menulis itu seperti pernah saya katakan sama halnya ibu menjadi "KOKI".  Untuk mendapatkan hasil "tulisan yang enak dibaca" itu modalnya Ibu mau bisa memasak naskah yang ibu tulis dengan racikan dan bumbu yang pas.

Bayangkan saja saat ibu belajar menulis bahwa ibu itu sedang memasak "tulisan" yang akan ibu sajikan untuk orang yang akan mencicipi masasakan tulisan ibu.

Sebelum masakan naskah itu ibu sodorkan untuk orang lain, coba deh "cicipi rasanya".  Apakah "keasinan? kemanisan? atau kurang garam/ bumbu penyedap?".

Ya ibu sendiri dulu yang harus mencicipinya, jangan ibu tawarkan masakah naskah itu ke orang lain, jika Ibu sendiri belum mencicipi rasanya.

Ibu mau tahu gimana caranya mengetes masakan ibu itu bumbunya sudah pas? kelebihan bumbu atau belum maksyos rasanya?

Caranya mudah Ibu.

Nah sekarang coba ibu lihat masakan naskah yang sudah ibu olah.
Coba deh cicipi:
1.  Apakah ibu sudah memasukkan bumbu penyedap (kata dan kalimat yang enak dibaca?)
2.  Apakah ibu sudah memberi garam yang pas ? (tanda baca)
3.  Apakah rasanya asin ? karena ibu terlalu banyak menggunakan kata/kalimat yang "berbunga-bunga, namun malah membuat orang lain tidak bisa mencerna maksudnya).

4. Apakah masakan naskah yang ibu buat itu gosong? (ibu belum bisa membalik-balikan isi naskah itu dengan tepat. Maksudnya ibu belum memiliki kemampuan untuk menempatkan di mana isi cerita itu harus ibu rajut? ibu yang belum mengerti akan membuat tulisan seperti kereta api, kelupaan dengan tanda baca, tulisannya panjang banget tapi tidak disertai huruf KAPITAL, TANDA BACA dan EYD yang benar).


Nah, Ibu .. jika masakan naskah yang ibu buat itu sudah pas rasanya maka ibu adalah koki / juru masak yang hebat, yang nantinya orang yang mencicipi tulisan ibu akan kecanduan dan ketagihan menunggu, dan menunggu terus racikan masakan naskah yang ibu olah.


Berikut panduan EYD sedikit saya bagikan untuk Ibu-ibu (selebihnya beli aja ya buku EYD di toko buku ... hehehe)


pun p 1 juga atau demikian juga: jika Anda pergi, saya -- hendak pergi2 meski; biar; kendati: mahal -- dibelinya juga3 saja ...: berdiri -- tidak dapat, apalagi berjalanapa -- dimakannya (jua); 4 (···pun ···lah) untuk menyatakan aspek bahwa perbuatan mulai terjadi: hari -- malamlah5 untuk menguatkan dan menyatakan pokok kalimat: 
maka baginda -- bertanya pula
--------------------------
”pun” dalam kutipan KBBI di atas adalah sebuah partikel (p). Semua ”pun” yang memiliki arti seperti di atas, dalam penulisannya HARUS TERPISAH DARI KATA YANG DIIKUTINYA. Dalam penulisan, sering terjadi kesalahan seperti contoh berikut.

"Apa pun juga akan ia lakukan demi anaknya."

Karena ”pun” di situ sudah berarti ”saja” maka penambahan ”juga” menjadi tidak efektif sehingga yang benar adalah:

"Apa pun akan ia lakukan demi anaknya."

Jadi, sebaiknya jangan pernah menambahkan kata ”juga” setelah ”pun” yang memiliki arti seperti kutipan KBBI di atas.


Apakah ada ”pun” yang boleh disambung dengan kata yang diikutinya?

Selain ”pun” yang terpisah dan memiliki arti seperti kutipan KBBI di atas, ada juga ”pun” yang penulisannya disambung karena memang kata tersebut adalah sebuah paduan. Kelompok ”pun” yang lazim dianggap padu menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonseia yang Disempurnakan adalah:
§  adapun
§  andaipun
§  ataupun
§  bagaimanapun
§  biarpun
§  kalaupun
§  kendatipun
§  maupun
§  meskipun
§  sekalipun
§  sungguhpun
§  walaupun




Dalam proses editing, sering kali seorang editor menemukan kesalahan penggunaan kata ”di”. Banyak terjadi, kata ”di” sebagai kata depan tidak dipisah dengan kata yang diikutinya, misalnya ”disana” dan ”disaat”. Padahal, kata depan ”di” seharusnya ditulis terpisah dengan kata yang diikutinya sehingga yang benar adalah ”di sana” dan ”di saat”.


Di lain pihak, ada juga ”di” yang merupakan imbuhan, tetapi dalam penggunaannya dipisah dari kata yang diikutinya. Misalnya, ”di tempatkan” dan ”di penuhi”. ”Di” yang merupakan imbuhan seharusnya dalam penggunaannya digabung dengan kata yang diikutinya. Jadi yang benar adalah ”ditempatkan” dan ”dipenuhi”.

Pernah suatu kali seorang anak SMA datang ke rumah untuk meminjam komputer. Dia mau mengetik tugas dari sekolah. Ternyata dia salah ketika menggunakan kata depan ”di” untuk kata ”disana”. Lalu, saat saya bilang kalau itu salah, dia menjawab bahwa gurunya di sekolah mengajarkan seperti itu untuk kata tersebut.

Lalu, saya berpikir bagaimana cara sederhana untuk menjelaskan dan membedakan ”di” sebagai kata depan atau ”di” sebagai imbuhan.

Jadi saya jelaskan begini, ….

Setiap kata yang mengikuti ”di”, apa pun kata itu, kita buat jadi kata untuk kalimat aktif dengan mengganti ”di-” menjadi ”me-”. Jika kata itu bisa menjadi kata untuk kalimat aktif maka itu berarti ”di” di situ adalah imbuhan. Sebaliknya, jika kata itu terdengar rancu ketika diubah maka ”di” di situ adalah kata depan.

Misalnya:
”di-penuhi” diubah menjadi ”memenuhi”
”di-tempatkan” diubah menjadi ”menempatkan” 

Bandingkan:
”di-sana” [tidak bisa] diubah menjadi ”menyana” (rancu)
”di-saat” [tidak bisa] diubah menjadi ”menyaat” (rancu) 

Kesimpulannya: 
 *   Semua kata (yang diikuti ”di”) yang TIDAK BISA DIUBAH menjadi kata untuk kalimat aktif, itu berarti ”di” yang mengikutinya merupakan ”KATA DEPAN” dan dalam penggunaannya DIPISAH dengan kata yang diikutinya. 
 *   Semua kata (yang diikuti ”di”) yang BISA DIUBAH menjadi kata untuk kalimat aktif, itu berarti ”di” yang mengikutinya merupakan ”IMBUHAN” dan dalam penggunaannya DIGABUNG dengan kata yang diikutinya



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ”daripada" (yang disambung) adalah kata depan untuk menandai perbandingan. Misalnya, ”Buku ini lebih bagus daripada buku itu."