Breaking News

22 February, 2012

Pasangan Jiwa? Iya Gitu?

By Emma ArAsa  
Ingat di Oprah Show yang membahas tentang koneksi & kaitan suami istri yang tersembunyi, menurut penelitian psikologisnya:
kita memilih pasangan kita karena dia merupakan gambaran serupa dari kedua orang tua kita;
kita memilihnya karena dia kuat/mendominasi sedangkan kita lemah atau sebaliknya;
kita memilihnya karena kita menginginkan rasa aman dari kegagalan masa lalu, yang ternyata terkadang rasa aman itu berbalik jadi ancaman yang lebih parah;
dan mungkin kita berlindung pada kebutaan pada cinta.
Perceraian banyak terjadi karena suami/istrinya mengharapkan kesempurnaan yang tidak pernah didapatkan sebelumnya, dan diharapkan ada pada pasangannya.
Padahal semua manusia tidak ada yang sempurna kecuali Penciptanya, sehingga ketika terasa ada kekurangan, sikap kita akan terbagi menjadi dua, ikhlas atau tidak ikhlas dalam menerimanya.
Banyak yang berkata bahwa "kamulah belahan hidupku" atau "kamu mengisi setengah dari jiwaku", dan lain-lain.
Ternyata hal itu SALAH. Saya = Aku = Satu = BUKAN/TIDAK setengah jiwa siapa-siapa...
Kalau kamu sendiri menganggap jiwamu hanya setengah, bagaimana sebelumnya kamu menjalani hidup?
Setengah-setengah?
Sangat wajar jika akhirnya kamu selalu merasa kosong, dan terus mencari cara untuk mengisinya agar bisa memuaskan hasrat diri.
Allah Swt telah memberikan jodohnya, cepat atau lambat, satu atau dua.
Sekarang bagaimana caranya kita tidak menggantungkan hidup hanya pada suami seorang.
Jangan lupa, bahwa menikah dengan seseorang bukan berarti kita berhenti bertanggung jawab pada kehidupan kita sebelum menikah. Misalnya, tanggung jawab kita pada orang tua, kakak, adik, dan saudara-saudara kita, yang apalagi tergolong kurang mampu dibandingkan kita.
Apakah dengan menikah, kita hanya akan bertanggung jawab tentang suami/istri dan anak cucu kita saja? Tentu saja tidak, tetap saja sebagai menantu dan ipar kita harus ikut terlibat dalam membangun suatu keluarga yang sejahtera.
Dengan begitu, ikatan keluarga akan semakin kuat dan dalam kesusahan apapun, semuanya akan dijalani dengan tenang dan nyaman, karena ada keluarga dan teman yang hadir lebih banyak daripada perkiraan kita.
Jangan lupakan juga tentang umur, kita tidak tahu sampai kapan kita akan terus hidup. Apakah dongeng putri pangeran, yang menceritakan hidup bahagia selama-lamanya akan selalu terjadi pada setiap orang? Tentu tidak.
Kita sebagai istri atau suami harus merasa siap dengan perginya pasangan hidup kita cepat atau lambat. Jangan sampai ketika sosoknya menghilang, setengah kehidupan kita ikut hilang, karena setengah jiwa kita pergi. Yang saya lihat dari pengalaman orang-orang terdekat saya, malah tanggung jawab mereka yang ditinggalkan pasangannya, malah bertambah.
Selama masih dikaruniai umur, kesehatan, dan kesempatan untuk bersama-sama dengan orang yang kita cintai, baik itu suami, istri, anak, cucu, ayah, ibu, kakak, adik, saudara dan teman-teman kita. Penuhilah hidup dengan mencintai dan bersilaturahmi dengan mereka, hidup kita pun akan terasa lebih hidup, walaupun uang di kantong kita hanya tinggal recehan.
Optimis dan yakin, kita bisa mandiri, saling membantu dan menyokong hidup kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Ini hanya bentuk curahan diri dalam pendewasaan diri, semoga bisa menjadi berkah bagi kita semua.

0 komentar:

Post a Comment