Breaking News

22 February, 2012

Papa Pengganti

By Sri Ratna  
“Huuh. Papa payah!” Jerry merengut kesal.
Ia ingin pergi ke rumah Bondan, tapi Papa malah menyuruhnya mengerjakan pe­er dulu. Padahal peer kan bisa dikerjakan nanti sepulang dari rumah Bondan.
“Kamu harus belajar disiplin dari kecil, Jerry,” Papa menasehati.
“Tapi aku sudah janji akan datang jam dua, Pa,” Jerry berusaha menjelaskan.
“Nah, itu juga bagus! Kita harus bisa menepati janji yang telah dibuat.”
“Jadi. Boleh nih ke rumah Bondan?” tanya Jerry girang.
“Tentu saja,” jawab Papa. “Setelah kau tepati dulu jadwal yang kamu tempel di dinding kamar itu,” jawab Papa.
Di dalam jadwal itu pada poin nomor tiga tercetak dengan huruf besar bahwa Jerry berjanji akan menyelesaikan dulu semua tugas sekolah dan rumah sebelum pergi main.
Dengan badan lemas, Jerry menuju ke meja belajarnya. Tanpa semangat ia mengeluarkan buku dan pulpennya. Namun pikirannya melayang ke tempat lain.
Bondan pasti sudah menungguku, pikirnya. Aah, coba aku punya papa seperti papa Bondan.
Di pelupuk matanya terbayang papa Bondan yang berwajah bundar dan suka melucu itu. Tiba-tiba Jerry mendapat ide bagus, “Aku akan mengganti papaku dengan seorang papa yang lebih oke!”
Hmm, kira-kira siapa ya yang cocok menjadi papa Jerry?
***
“Menjadi Papa pengganti?” Om Winky mengangkat alisnya sehingga kacamata bundarnya juga ikut terangkat.
“Iya, Om. Om Winky mau ya jadi papa pengganti?” bujuk Jerry penuh harap.
Di dalam hati ia berpikir pasti akan menyenangkan sekali punya papa seperti om Winky. Baik, ramah dan sering membelikan Jerry es krim lagi!
“Hmm... sepertinya itu bukan ide yang buruk. Sejak dulu Om ingin punya anak laki-laki. Tapi Tuhan belum juga memberi Om anak.”
“Om Winky jangan bersedih. Sekarang kan ada aku,” bujuk Jerry. Ia girang sekali karena harapannya terkabul.
Hari pertama menjadi anak Om Winky sangat menyenangkan, Sepulang sekolah, Jerry bebas mau apa saja, mau nonton, main games atau main ke rumah teman. Tetapi keesokan harinya ia dimarahi oleh Pak guru karena tak bikin PR.
Namun lama kelamaan Jerry jadi bosan juga. Hampir setiap hari ia terlambat masuk sekolah. Sebab tidak ada yang membangunkannya di pagi hari karena
Om Winky suka tidur sampai siang. Maklum ia sibuk melukis hingga begadang. pekerjaan Om Winky kan seorang pelukis.
Om Winky juga tidak menguasai pelajaran matematika sehingga Jerry kesulitan setiap kali ada PR matematika.
Dan yang lebih mengesalkan lagi adalah karena Om Winky tidak hobi main bola. Kalau sedang main PS juga kalah melulu, jadi gak seru deh mainnya. Tambah  nggak seru karena Om Winky lebih suka duduk melamun daripada memasak nasi goreng buat sarapan Jerry.
Tiba-tiba Jerry ingat papa.Sejak mama meninggal papalah yang selalu menyiapkan sarapan buat Jerry. Merawat dan menjaga Jerry sehingga ia tidak merasa kehilangan karena mama telah tiada.
Sekarang Jerry merasa menyesal telah mengganti papa dengan Om Winky. Tak terasa air mata membasahi pipinya. Ia menangis tersedu-sedu. Jerry merasa ia tak mungkin akan bertemu Papa lagi karena Jerry telah menukarnya dengan Om Winky.
“Jerry, bangun” sebuah tangan terasa menguncang bahunya.
“Hah, Papa?” Jerry memandang tak percaya. Papa benar-benar ada di hadapannya. Sontak dia memeluk pinggang papa erat-erat.
“Kamu ketiduran ya? Mimpi apa sih? Sampai menangis sesengukan begitu?,” Papa bertanya.
Jerry tidak menjawab dia hanya tersenyum seraya memeluk Papa semakin erat.
Tamat

(Sriratna)
\




0 komentar:

Post a Comment