Breaking News

09 February, 2012

OOPSY


 
By Dian Nafi  
LIMA
Aku memandangi kelima wajah di foto yang menempel di dinding ruang tamu tempat aku berdiri. Keempat wajahnya tidak asing bagiku. Si sulung sekarang sukses di luar negeri. Adiknya dulu wartawati, sekarang di bagian promosi sebuah harian regional. Adik nomor tiga kabarnya seorang direktur bank syariah. Yang nomor empat seorang dosen. Hmmm..yang bungsu itu aku belum begitu tahu, tapi dia yang membuat aku mengiyakan perintah ibu untuk datang ke rumah ini.
“Alaikum salam, Alhamdulillah. Sudah lama ingin ketemu, baru sekarang kesampaian”, sang ibu dari lima anak dalam foto ini menyambutku dengan hangat. Kami berpelukan dan cium pipi kanan kiri.
Sang ibu mengeluarkan surat yang akan dititipkan lewat aku untuk ibuku. Biasalah, mereka berdua ini meski sudah sepuh masih rajin dan aktif mengurus ini itu sama-sama.
Duduk bersama di sore yang ramah, sang ibu bercerita banyak tentang putra putrinya. Mereka semua sahabat-sahabatku. Belasan tahun lalu kami sama-sama berada dalam lahan dakwah yang sama. Kecuali yang bungsu. Dulu mungkin sekali masih kecil. Tapi ketika kemarin di pameran aku sempat bertemu teman-temannya, aku baru faham, mungkin sekali si bungsu ini orang yang aku cari. Dia gembongnya anak-anak kreatif di kota kecilku.
“Alhamdulillah, yang empat itu sudah memberikan cucu untuk ibu”, kata sang ibu sambil terus memegang erat tanganku. Pancaran bahagia bisa kutangkap dari sorot matanya. (yang ini ungkapan jadul dan paling gampang ditulis karena sudah melekat dengan kuat dalam ingatan kita, persis seperti hafalan surat al fatihah: red)
“Semoga yang bungsu nantinya juga menikah dengan wanita sholihah”, ujar sang ibu.
Entah darimana datangnya, tiba-tiba hembusan godaan itu datang. Hmm…
“Assalamualaikum”, seorang tamu lain datang.
Ternyata seseorang tetangga mengantar undangan.
“Bagaimana kabar anakmu?”, Tanya sang ibu pada tetangga.
“ Ya Allah, bu. Lha itu, nggak kebeneran khitannya. Malah dijahit juga”, jawab tetangga.
“Halah..berarti sama dengan si bungsu itu. Malahan kata dia, lha iki piye sih. Kok malah mbradhul semua bekas jahitannya. Jadi nggak bagus”, komentar sang ibu spontan.
Ooopss… seketika asa menguap.



0 komentar:

Post a Comment