Breaking News

02 February, 2012

· Novel: Memamah Jantungmu


Chapter One

MATI


 Sudah terlalu larut untuk membiarkan mata ini terbuka. Harusnya sudah kulekatkan kedua kelopaknya menjadi satu dan berlayar ke alam mimpi dalam hitungan detik. Namun entah mengapa kejadian yang tepat telah sepuluh tahun berlalu melalu-lalang di kepalaku. Berseliweran tanpa henti. Seperti kendaraan yang berada di jalanan tanpa hambatan sama sekali. Ditambah dengan suara klaksonnya memekakkan telingaku.  Apakah mereka tak sadar itu membuat deras aliran darah di jantungku? Aku masih merasa semuanya begitu segar dalam ruang kepalaku. Aku masih berusia 13 tahun waktu itu. Hanya seusia anak SMP. Seingatku hampir kelas dua. Dan rambutku juga panjang seperti sekarang. Hitam dan berkilau. Mungkin kalau di kota besar aku sudah terpilih menjadi bintang iklan shampoo. Mendapatkan banyak uang dan hidup damai bersama keluarga.

“Gilda....”

Aku menahan napasku yang memburu. Aku memeluk kedua kakiku rapat-rapat. Aku tak menyahut mendengar namaku dipanggil. Suara mama. Itu suara mama. Aku masih betah bersembunyi di dalam lemari. Aku tak mau menjadi korban berikutnya. Aku masih tak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi aku tahu jiwaku terancam. Bukan dengan analisis yang tak beralasan tapi dengan  melihat kenyataan di luar lemari dari lubang-lubang kecil yang bisa kutembus dengan mataku. Aku menyapu keringatku yang bercucuran. Gerah di dalam sini. Namun aku tak berniat keluar dan berada di sisi mama yang sudah terkulai berlumuran darah.

 Aku mendengar langkah yang lumayan ramai. Langkah yang besar dan sama sekali tak pernah aku kenal. Wajah mereka juga sangat asing. Rata-rata bertato dan berkumis tebal. Mataku mulai perih melihat dari lubang sekecil ini. Aku masih berkeringat. Aku menahan napas yang terus memburu. Apakah mereka akan menemukanku? Apakah mereka akan memperlakukanku seperti mereka memperlakukan mama?

 “Mana lagi anaknya?”

 “Sudah mati semua.”

 Aku mendengar suara mereka yang sangar. Aku  gemetar. Mereka mencariku. Ada apa? Siapa mereka? Kenapa mereka menghabisi keluargaku? Apa salah kami?

“Masih ada satu orang.”

 “Anaknya?”

 “Sepertinya anaknya.”

“Kamu ragu-ragu begitu, mungkin kamu salah.”

 “Aku rasa mendengar namanya disebutkan, Hilda... kalau tidak salah namanya Hilda.”

 “Tak ada yang namanya Hilda.”

 “Surat-surat penting sudah diambil?”

 “Aku tak menemukannya.”

 “Seharusnya surat-surat itu ada di rumah ini.”

 “Bagaimana sekarang?”

 “Kita harus mencarinya.”

 “Lemari kayu ini sudah kamu buka?”

 Aku terkesiap. Lemari kayu yang ada di rumah ini  hanya lemari yang aku tempati sekarang? Apakah mereka akan menemukanku? Tolong lindungi aku Allah. Jangan sampai mereka membukanya dan menemukanku. Aku masih ingin hidup. Papa susah payah menyembunyikanku di sini. Jangan... mereka tak boleh menemukanku. Mereka akan membunuhku. Aku masih terlalu muda untuk mati dengan cara seperti itu.  Tubuh-tubuh itu mulai berkumpul di depan lemari. Jarak kami hanya sebuah pintu kayu. Aku tepat di depan betis kekar mereka. Pintu lemari menjadi batasnya. Kalau tak ada pintu ini mungkin aku sudah melihat betis mereka. Betis yang sangat besar tentunya. Aku menyimpulkan begitu karena bunyi dentaman kakinya begitu kuat. Dari betis-betis yang besar dan kekar baru bisa menghasilkan bunyi seperti itu. Menyerupai bunyi beduk kematian yang akan menjemputku.

Aku melihat senjata yang mereka gunakan. Senjata itu sebuah pisau yang bagus. Pisau untuk menghabisi segenap keluargaku itu terlihat dari lubang-lubang kecil yang menghiasi lemari. Mereka sudah mati. Mama. Papa. Tairo, abangku. Sahara, adik perempuanku. Senjata itu masih memerah. Aku mencoba untuk melakukan sebuah keajaiban kalau memang bisa dilakukan. Aku hanya punya sebuah handphone. Aku hanya punya sebuahhandphone yang entah ada pulsanya atau tidak. Apa yang bisa dilakukan sebuah handphone? Aku masih terlalu kecil untuk mencari cara yang cerdas untuk membuat nyawaku selamat.

Aku mungkin bisa menghubungi polisi. Namun itu membuat aku ketahuan bersembunyi di sini. Sebelum polisi-polisi itu datang aku akan kehilangan nyawaku. Aku juga tak tahu nomor telepon polisi. Duh… bodohnya aku. Harusnya aku menguasai ilmu pengetahuan umum mengenai nomor telepon darurat seperti itu. Aku masih berada di dalam lemari ini tanpa punya ide yang cemerlang. Sementara tangan-tangan itu bergerak memutar pegangan pintu lemari untuk membukanya. Habislah riwayatku. Mereka sudah membukanya.

Aku hanya berlindung di balik pakaian mama yang tergantung memenuhi ruangan dalam lemari. Satu gerakan tangan saja mereka akan menemukan wajahku yang pucat pasi. Wajah mereka begitu menakutkan bagiku. Aku hanya sendirian sementara mereka begitu ramai. Dari jumlah saja aku sudah kalah telak. Apalagi dari kekuatanku. Aku hanya seorang gadis kecil tanpa keberanian untuk memberikan sedikit perlawanan pada mereka. Apakah mereka akan menebas leherku hingga putus? Menusuk perutku sampai terburai? Atau mereka akan memperkosaku beramai-ramai.

Aku tak mampu membayangkan cara tersadis mana yang akan mereka pilih karena aku tak menginginkan kematianku hari ini. Aku tak mau kehabisan darahku karena mereka menyobek perutku. Aku juga tak mau kehabisan napas karena mereka menebas leherku. Aku bahkan tak ingin kehilangan jantungku yang bisa mereka comot keluar tanpa rasa jijik sedikit pun.

Uuuopppppssss... aku ingat sesuatu. Mungkin sedikit kekanak-kanakkan tapi tak ada salahnya mencoba untuk menakut-nakuti mereka dengan sirene polisi yang digunakan Tairo sebagai nada dering panggilannya. Apakah mungkin handphone-nya menyelamatkanku? Tak ada salahnya mencoba. Toh aku sudah berada di titik krisis nyawa seperti ini. Aku menekan tombol handphone-ku dan memanggil nomorhandphone Tairo. Benar saja. Handphone-nya berteriak  nyaring. Nada dering yang ia gunakan memang selalu yang tingkat tertinggi. Aku hanya berharap mereka tertipu.

“Suara sirene polisi…”

“Hah???”

“Kita musti kabur…”

“Cepat!!!”

 Aku melihat kepanikan di wajah mereka. Beberapa  menit mereka sudah meninggalkanku. Mereka lari begitu saja. Aku lunglai dan berselonjor di dalam lemari. Kakiku menjulur keluar. Aku menyibakkan baju yang menutupi pandanganku dan menemukan beberapa pasang mata yang sangat aku kenal menatapku lekat-lekat. Pandangan mereka begitu dingin. Pandangan orang mati. Tubuh mereka berlumuran darah. Darah dimana-mana. Aku tak mampu melanjutkan tatapanku kepada mereka.
Aku menarik kakiku pelan-pelan. Aku juga menarik pintu lemari. Mengembalikannya ke posisi semula. Aku tak sanggup menyaksikan tatapan mata mereka yang menusuk ke jantungku. Tubuhku masih gemetar walaupun napasku tak sememburu tadi. Keringatku masih bercucuran membasahi segenap tubuhku. Cahaya yang menyelinap dari lubanglubang kecil yang aku gunakan sedari tadi untuk mengintip terasa menusuk kulit. Aku benar-benar sendirian sekarang. Semua yang ada di sini tak ada yang memiliki nyawa.

Semuanya sudah mati. Terkulai tanpa nyawa setitik pun dalam raga. Aku tinggal sendiri. Tak berani untuk melangkahkan kaki meninggalkan lemari ini. Lemari yang semakin lama semakin terasa dingin. Membeku. Meluluhkan kehangatan tubuhku yang mulai berada di titik tak terdefinisikan. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Aku melihat jam di handphone-ku. Sudah pukul satu pagi. Aku masih terjaga. Aku semakin merapat ke dinding lemari. Aku ingin membakar semua ingatan ini. Aku ingin melupakan ingatan tentang wajah-wajah yang telah mati itu. Apakah aku bisa membuang kenangan buruk itu begitu saja? Atau aku hanya bisa terus berada dalam lemari ini dan mati pelan-pelan tanpa makan dan minum. Aku merasa duniaku runtuh.

Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Mereka yang membuatku menjadi bagian dalam sebuah keluarga kini terbujur kaku di luar lemari. Bagaimana kalau mereka bangun dan berbalik malah membunuhku. Agar aku membuktikan kesetiaan sebagai anggota keluarga.

 “Gilda... hantu memang wujud di dunia ini. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau kepada kita.”

Ucapan Sahara dulu membuatku bergidik ngeri membayangkan empat orang yang aku sayangi melakukan hal buruk padaku. Apakah tengah malam seperti ini mereka akan terbangun dan membuatku menjadi zombi seperti yang biasa aku tonton di televisi?

Apakah mereka sudah menjadi zombi? Aku tak mampu membayangkan mereka bangkit dengan tubuh penuh darah. Berjalan tertatih mendekati lemari. Langkah mereka begitu pelan. Tanpa napas sedikit pun. Darah tak henti mengucur dari tubuh mereka. Beberapa anggota tubuh mereka juga ada yang mulai lepas karena berkali-kali menerima tebasan senjata tajam dari gerombolan pembunuh tadi.
 Entah kupingku yang mulai berhalusinasi atau aku memang sudah gila, aku mendengar suara mereka. Suara mereka memanggilku. Terdengar seperti sebuah desahan. Aku menelan air ludahku yang hampir mengering karena aku sama sekali tak mengganti cairan tubuhku yang terus menetes dari pori-poriku. Aku haus tapi aku sama sekali tak bisa keluar untuk mencari setetes air agar kehausanku terobati. Aku ingin menghentikan suara-suara itu.

Suara-suara itu terasa semakin ramai terdengar. Aku tak punya kekuatan apa-apa seandainya mereka datang dan membuka pintu lemari yang melindungiku dari dunia luar sana. Dunia yang sama sekali tak pernah bersahabat lagi denganku.

 “Gilda... Bangun Gilda...”

 Aku merasa tubuhku terguncang hebat. Aku membuka mata yang sedari tadi aku katupkan kuat-kuat. Aku terlalu rapat menekannya hingga mataku agak memerah. Aku menemukan wajah Kitty, teman serumahku, di depan hidungku. Wajahnya terlihat cemas. Ada apa? Mataku menatap matanya. Bertabrakan begitu saja. Ternyata aku bermimpi tentang masa kecilku yang suram lagi. Masa remajaku menjadi kelabu dan tak banyak warnanya. Abu-abu semua yang terasa.

 “Kamu kenapa?” suara Kitty tak kalah cemas dengan wajah yang ia tunjukkan padaku.

“Aku kenapa?”

“Suara teriakanmu terdengar sampai di kamarku.”

 “Aku? Berteriak?”

Aku mendorong punggungku agar aku bisa duduk di ranjangku. Kitty menjawab dengan anggukan. Ia mengusap keringatku yang menetes tanpa henti di wajahku. Ia terlihat mulai tenang. Aku yang terlihat masih tak tenang.

“Kamu mimpi buruk?”

“Entahlah, aku tak tahu apakah itu mimpi buruk atau hanya ingatan buruk tentang masa lalu. Tapi rasanya aku berada di masa itu lagi.”

“Masa apa?”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak mau menceritakan tentang masa laluku yang suram pada temantemanku. Apalagi pada Kitty. Cukuplah itu menjadi ingatanku sendiri saja.  “Gilda?” suara mama membuatku terkesiap. Dari mana datangnya suara itu? Seingatku suara itu hanya milik mama.
Aku menatap seonggok mayat yang memanggilku untuk kesekian kalinya. Tubuhnya berlumuran darah. Masih merah. Napasnya tinggal beberapa helaan yang kulihat. Ia sekarat. Aku melihatnya begitu nyata sedang berbaring di lantai. Tidak! Mama sudah mati! Ini hanya halusinasiku saja. Tak mungkin mama berada di kamarku sekarang. Apalagi memanggilku.

 “Gil...” sekarang suara Kitty yang mengejutkanku. Ia mengguncang tubuhku sedikit dan menggenggam tanganku.

Aku mengalihkan pandanganku pada Kitty sesaat. Kemudian mencari mayat yang tadi memanggilku. Ternyata aku benar. Itu hanya halusinasiku saja. Mama tak ada lagi di sana. Aku memang terlalu banyak berkhayal.

 “Kembalilah ke kamarmu. Aku baik-baik saja.”

 Aku membiarkan Kitty pergi dari kamarku. Aku  mengusap wajahku beberapa kali. Keringat itu masih tak henti-hentinya menghampiriku. Menetes menganak sungai di kulitku. Entah kenapa malam ini terasa begitu gerah?

Padahal Agustus hampir berakhir. Harusnya aku kedinginan karena hujan mulai menitik di luar sana. Membentuk orkestra bersama sang kodok yang mengeluarkan kepiawaiannya berdendang. Suara-suara musik musim penghujan mulai terasa indah di telinga. Alunannya membuatku ingin tidur kembali. Gilda... kamu butuh tidur nyenyak malam ini. Setidaknya butuh beberapa jam untuk menyegarkan kembali pikiran ini.

Pikiran yang terlalu hanyut dalam kenangan masa lalu yang harusnya aku lupakan sejak pertama kali aku menjadi yatim piatu.

“Gilda...”

Suara itu lagi. Suara yang rasanya begitu aku kenal. Bukan suara mama. Sekarang suara papa yang menggema. Suaranya yang dulu sangat suka aku dengar. Kenapa sekarang menjadi sangat menyeramkan? Harusnya aku menjawabnya bukan? Atau aku pura-pura saja tak mendengarnya. Aku tak bisa melupakan suara itu. Aku ingin menutup gendang telingaku saja agar aku tak mendengar apa-apa. Rasanya terlalu menyakitkan mendengar suara orang yang sangat aku sayangi tapi tak ada lagi di dunia ini.

“Kakak...”

Suara Sahara. Suara Sahara terdengar begitu jernih. Aku memejamkan mataku. Aku tak mau melihat mayat-mayat yang lain. Aku harus mematikan pendengaranku agar aku bisa menggunakan logikaku. Tak ada mayat apa pun di kamarku. Semuanya halusinasiku saja. Aku baik-baik saja. Aku mungkin terlalu banyak belajar untuk seminar besok. Otakku terlalu dipenuhi dengan hal-hal yang harusnya tidak perlu aku pikirkan sedikitpun. Tak ada hantu atau mayat hidup. Semuanya bullshit!

Aku mematikan lampu kamarku agar semua cahaya menghilang. Aku tak mau melihat apa pun. Aku ingin kembali ke alam mimpi. Aku ingin bermimpi yang indah. Setidaknya jangan mimpi buruk. Ataukah aku harus menghilangkan semua bunga tidur agar aku tidur lelap.Dalam...dalam...hanyut dalam tidur yang paling lelap yang pernah aku lewati sebelum aku kehilangan semuanya.

Aku membuka mataku dan menemukan aku berada di dalam lemari yang sempit yang dipenuhi dengan pakaian mama. Pakaian mama begitu banyak hingga memenuhi seisi lemari ini. Pakaian papa sampai harus mengungsi ke sudut yang paling bawah. Tak jarang pakaian papa juga harus mengungsi keluar dari lemari karena sesaknya pakaian mama.

Aku masih tak berani keluar dari dalam lemari ini. Aku menekan punggungku hingga menempel ke dinding lemari. Aku memeluk lututku erat-erat karena semuanya bergetar. Aku takut ada engsel tulangku yang lepas karena kuatku guncangan di tubuhku. Aku menyembunyikan wajahku di antara ke dua lututku yang ditutupi rambut panjang tergeraiku. Aku ingin berteriak pada seseorang yang mungkin bisa menolongku. Namun siapa? Aku tak tahu harus memintanya pada siapa sedangkan di sini hanya ada mayat-mayat yang bergelimpangan.

Mungkin sebentar lagi mereka akan menjadi zombi dan menghabisiku dan menjadikan aku zombi juga. Aku takut. Aku masih sangat belia untuk mencari cara agar aku tak takut lagi. Aku terus bersembunyi di dalam lemari ini. Aku baru 13 tahun. Namun aku sudah kehilangan begitu banyak hal yang masih aku butuhkan untuk kelangsungan masa depanku. Aku butuh mama sebagai contoh. Aku butuh papa sebagai tempat aku bersandar. Aku butuh Tairo sebagai penjaga. Dan aku butuh Sahara sebagai tempat aku bercerita dan berbagi. Kenapa mereka menghabisi keluargaku.

“Gilda...”

Aku menutup telingaku erat-erat. Aku tak mendengar apa pun. Tak ada suara apa-apa di sana. Di luar lemari ini tepatnya karena semuanya sudah menjadi mayat-mayat yang tak bersuara. Aku hanya ingin pergi dari lemari ini. Apakah aku bisa memejamkan mata dan membuat sebuah keajaiban? Aku ingin berada di sebuah taman bunga yang indah saja daripada di dalam lemari ini. Taman yang penuh dengan bunga-bunga yang baru. Bunga yang memberikan keharuman selain bau bangkai yang mulai menyengat hidungku.

Sudah berapa lama aku berada dalam lemari ini? Handphone-ku pun sudah mati. Batrenya sudah habis sejak beberapa jam lalu. Aku tak tahu sekarang jam berapa? Hari apa? Berapa lama aku berkurung di dalam lemari ini. Tanpa makan. Tanpa minum. Tanpa apa pun. Aku benar-benar menghentikan semua kegiatan yang aku lakukan biasanya.

Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan selain menunggu keajaiban. Mayat-mayat di luar sana… apa kabar kalian? Aku mulai mencium bau yang tak sedap dari kalian. Apakah mulai banyak ulat yang mengegerogoti daging-daging kalian yang basah oleh darah? Pasti sudah sangat tak enak dipandang mata keadaan kalian yang demikian itu. Aku pun pasti tak mampu mengenali yang mana bangkai dan yang mana mama, yang mana papa, yang mana Tairo dan yang Sahara.

“Gilda...”

Suara.. ada suara yang memanggilku. Apakah itu  suara mama yang bangkit dari kematian? Telingaku masih aku tutup karena aku takut mendengar namaku sendiri disebut. Aku tak ingin ada yang memanggilku. Mereka semua sudah mati. Itu terlalu menyeramkan untuk anak perempuan sendirian yang baru berusia 13 tahun sepertiku.

“Gilda...”

Suara itu begitu jelas. Itu sangat menakutkan buatku. Aku tak mau berubah dari gadis (yang harusnya cantik) menjadi zombi. Berjalan dengan susunan tubuh yang tak simetris. Keadaan jasad yang mengenaskan. Memakan manusia. Hal terakhir itu adalah yang paling aku takutkan. Aku tak mau menjadi kanibal walaupun mungkin nanti malah aku sangat menikmatinya.

“Gilda…”

Apakah mereka memang sudah bangun semua? Apakah lapar mereka sungguh tak tertahankan sehingga mereka memburuku? Satu-satunya saksi mata yang hidup dalam pembunuhan mereka. Aku hanya ingin bertanya satu hal pada mereka. Kenapa aku diselamatkan padahal aku tak punya siapa-siapa lagi? Kenapa aku tak dibunuh saja sama seperti yang lainnya? Setidaknya aku mati tanpa beban ketakutan seperti ini. Apa rasanya kematian itu? Maniskah? Pahitkah? Atau asamkah? Aku ingin tahu rasanya. Namun aku tak mungkin bertanya pada jasad-jasad yang bergelimpangan di luar lemari ini.

Mereka sudah mati. Suara itu tak pernah ada. Aku terlalu lapar dan haus hingga mendengar suara-suara mereka memanggilku. Aku terlalu banyak berhalusinasi. Harusnya aku sedikit berani
menghadapi kenyataan tentang mereka. Kenapa aku harus bersembunyi sementara mereka sudah mati semua? Kenapa aku harus takut? Aku yang sempurna malah bersembunyi seperti seekor tikus yang ketakutan dari kucing-kucing. Padahal kucing itu jelas-jelas sudah menjadi bangkai.

“Gilda...”

Aku membuka mata yang sedari tadi aku pejamkan. Aku merasa ada tangan yang menyentuhku. Tangannya begitu dingin dan basah. Mungkin ini tangan mama. Tangan yang pastinya penuh dengan lumuran darah dan ia ingin mencekikku tentu saja. Agar aku tetap menjadi anaknya. Anak harus mengikuti kemana pun orang tua pergi bukan?

Itu baru namanya bakti seorang anak. Walaupun harus menyerahkan nyawa yang tinggal satu-satunya. Menyakitkan tidak ya mati dibunuh oleh zombi? Aku hanya berharap bahwa mama akan membunuhku tanpa rasa sakit.

“Gilda...”

Aku menggerakkan kepalaku ke atas secara perlahan. Aku sudah siap mati. Mati di tangan mama pasti tidak semenyakitkan kematian di tangan orang lain bukan? Mama tidak akan membunuhku dengan menyakitkan kan, Ma?


Bersambung....

·         Novel: Memamah Jantungmu
Chapter One

MATI

http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/384754_10150389012872482_760482481_8331050_1924720486_a.jpg
 Sudah terlalu larut untuk membiarkan mata ini terbuka. Harusnya sudah kulekatkan kedua kelopaknya menjadi satu dan berlayar ke alam mimpi dalam hitungan detik. Namun entah mengapa kejadian yang tepat telah sepuluh tahun berlalu melalu-lalang di kepalaku. Berseliweran tanpa henti. Seperti kendaraan yang berada di jalanan tanpa hambatan sama sekali. Ditambah dengan suara klaksonnya memekakkan telingaku.  Apakah mereka tak sadar itu membuat deras aliran darah di jantungku? Aku masih merasa semuanya begitu segar dalam ruang kepalaku. Aku masih berusia 13 tahun waktu itu. Hanya seusia anak SMP. Seingatku hampir kelas dua. Dan rambutku juga panjang seperti sekarang. Hitam dan berkilau. Mungkin kalau di kota besar aku sudah terpilih menjadi bintang iklan shampoo. Mendapatkan banyak uang dan hidup damai bersama keluarga.

“Gilda....”

Aku menahan napasku yang memburu. Aku memeluk kedua kakiku rapat-rapat. Aku tak menyahut mendengar namaku dipanggil. Suara mama. Itu suara mama. Aku masih betah bersembunyi di dalam lemari. Aku tak mau menjadi korban berikutnya. Aku masih tak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi aku tahu jiwaku terancam. Bukan dengan analisis yang tak beralasan tapi dengan  melihat kenyataan di luar lemari dari lubang-lubang kecil yang bisa kutembus dengan mataku. Aku menyapu keringatku yang bercucuran. Gerah di dalam sini. Namun aku tak berniat keluar dan berada di sisi mama yang sudah terkulai berlumuran darah.

 Aku mendengar langkah yang lumayan ramai. Langkah yang besar dan sama sekali tak pernah aku kenal. Wajah mereka juga sangat asing. Rata-rata bertato dan berkumis tebal. Mataku mulai perih melihat dari lubang sekecil ini. Aku masih berkeringat. Aku menahan napas yang terus memburu. Apakah mereka akan menemukanku? Apakah mereka akan memperlakukanku seperti mereka memperlakukan mama?

 “Mana lagi anaknya?”

 “Sudah mati semua.”

 Aku mendengar suara mereka yang sangar. Aku  gemetar. Mereka mencariku. Ada apa? Siapa mereka? Kenapa mereka menghabisi keluargaku? Apa salah kami?

“Masih ada satu orang.”

 “Anaknya?”

 “Sepertinya anaknya.”

“Kamu ragu-ragu begitu, mungkin kamu salah.”

 “Aku rasa mendengar namanya disebutkan, Hilda... kalau tidak salah namanya Hilda.”

 “Tak ada yang namanya Hilda.”

 “Surat-surat penting sudah diambil?”

 “Aku tak menemukannya.”

 “Seharusnya surat-surat itu ada di rumah ini.”

 “Bagaimana sekarang?”

 “Kita harus mencarinya.”

 “Lemari kayu ini sudah kamu buka?”

 Aku terkesiap. Lemari kayu yang ada di rumah ini  hanya lemari yang aku tempati sekarang? Apakah mereka akan menemukanku? Tolong lindungi aku Allah. Jangan sampai mereka membukanya dan menemukanku. Aku masih ingin hidup. Papa susah payah menyembunyikanku di sini. Jangan... mereka tak boleh menemukanku. Mereka akan membunuhku. Aku masih terlalu muda untuk mati dengan cara seperti itu.  Tubuh-tubuh itu mulai berkumpul di depan lemari. Jarak kami hanya sebuah pintu kayu. Aku tepat di depan betis kekar mereka. Pintu lemari menjadi batasnya. Kalau tak ada pintu ini mungkin aku sudah melihat betis mereka. Betis yang sangat besar tentunya. Aku menyimpulkan begitu karena bunyi dentaman kakinya begitu kuat. Dari betis-betis yang besar dan kekar baru bisa menghasilkan bunyi seperti itu. Menyerupai bunyi beduk kematian yang akan menjemputku.

Aku melihat senjata yang mereka gunakan. Senjata itu sebuah pisau yang bagus. Pisau untuk menghabisi segenap keluargaku itu terlihat dari lubang-lubang kecil yang menghiasi lemari. Mereka sudah mati. Mama. Papa. Tairo, abangku. Sahara, adik perempuanku. Senjata itu masih memerah. Aku mencoba untuk melakukan sebuah keajaiban kalau memang bisa dilakukan. Aku hanya punya sebuah handphone. Aku hanya punya sebuahhandphone yang entah ada pulsanya atau tidak. Apa yang bisa dilakukan sebuah handphone? Aku masih terlalu kecil untuk mencari cara yang cerdas untuk membuat nyawaku selamat.

Aku mungkin bisa menghubungi polisi. Namun itu membuat aku ketahuan bersembunyi di sini. Sebelum polisi-polisi itu datang aku akan kehilangan nyawaku. Aku juga tak tahu nomor telepon polisi. Duh… bodohnya aku. Harusnya aku menguasai ilmu pengetahuan umum mengenai nomor telepon darurat seperti itu. Aku masih berada di dalam lemari ini tanpa punya ide yang cemerlang. Sementara tangan-tangan itu bergerak memutar pegangan pintu lemari untuk membukanya. Habislah riwayatku. Mereka sudah membukanya.

Aku hanya berlindung di balik pakaian mama yang tergantung memenuhi ruangan dalam lemari. Satu gerakan tangan saja mereka akan menemukan wajahku yang pucat pasi. Wajah mereka begitu menakutkan bagiku. Aku hanya sendirian sementara mereka begitu ramai. Dari jumlah saja aku sudah kalah telak. Apalagi dari kekuatanku. Aku hanya seorang gadis kecil tanpa keberanian untuk memberikan sedikit perlawanan pada mereka. Apakah mereka akan menebas leherku hingga putus? Menusuk perutku sampai terburai? Atau mereka akan memperkosaku beramai-ramai.

Aku tak mampu membayangkan cara tersadis mana yang akan mereka pilih karena aku tak menginginkan kematianku hari ini. Aku tak mau kehabisan darahku karena mereka menyobek perutku. Aku juga tak mau kehabisan napas karena mereka menebas leherku. Aku bahkan tak ingin kehilangan jantungku yang bisa mereka comot keluar tanpa rasa jijik sedikit pun.

Uuuopppppssss... aku ingat sesuatu. Mungkin sedikit kekanak-kanakkan tapi tak ada salahnya mencoba untuk menakut-nakuti mereka dengan sirene polisi yang digunakan Tairo sebagai nada dering panggilannya. Apakah mungkin handphone-nya menyelamatkanku? Tak ada salahnya mencoba. Toh aku sudah berada di titik krisis nyawa seperti ini. Aku menekan tombol handphone-ku dan memanggil nomorhandphone Tairo. Benar saja. Handphone-nya berteriak  nyaring. Nada dering yang ia gunakan memang selalu yang tingkat tertinggi. Aku hanya berharap mereka tertipu.

“Suara sirene polisi…”

“Hah???”

“Kita musti kabur…”

“Cepat!!!”

 Aku melihat kepanikan di wajah mereka. Beberapa  menit mereka sudah meninggalkanku. Mereka lari begitu saja. Aku lunglai dan berselonjor di dalam lemari. Kakiku menjulur keluar. Aku menyibakkan baju yang menutupi pandanganku dan menemukan beberapa pasang mata yang sangat aku kenal menatapku lekat-lekat. Pandangan mereka begitu dingin. Pandangan orang mati. Tubuh mereka berlumuran darah. Darah dimana-mana. Aku tak mampu melanjutkan tatapanku kepada mereka.
Aku menarik kakiku pelan-pelan. Aku juga menarik pintu lemari. Mengembalikannya ke posisi semula. Aku tak sanggup menyaksikan tatapan mata mereka yang menusuk ke jantungku. Tubuhku masih gemetar walaupun napasku tak sememburu tadi. Keringatku masih bercucuran membasahi segenap tubuhku. Cahaya yang menyelinap dari lubanglubang kecil yang aku gunakan sedari tadi untuk mengintip terasa menusuk kulit. Aku benar-benar sendirian sekarang. Semua yang ada di sini tak ada yang memiliki nyawa.

Semuanya sudah mati. Terkulai tanpa nyawa setitik pun dalam raga. Aku tinggal sendiri. Tak berani untuk melangkahkan kaki meninggalkan lemari ini. Lemari yang semakin lama semakin terasa dingin. Membeku. Meluluhkan kehangatan tubuhku yang mulai berada di titik tak terdefinisikan. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Aku melihat jam di handphone-ku. Sudah pukul satu pagi. Aku masih terjaga. Aku semakin merapat ke dinding lemari. Aku ingin membakar semua ingatan ini. Aku ingin melupakan ingatan tentang wajah-wajah yang telah mati itu. Apakah aku bisa membuang kenangan buruk itu begitu saja? Atau aku hanya bisa terus berada dalam lemari ini dan mati pelan-pelan tanpa makan dan minum. Aku merasa duniaku runtuh.

Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Mereka yang membuatku menjadi bagian dalam sebuah keluarga kini terbujur kaku di luar lemari. Bagaimana kalau mereka bangun dan berbalik malah membunuhku. Agar aku membuktikan kesetiaan sebagai anggota keluarga.

 “Gilda... hantu memang wujud di dunia ini. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau kepada kita.”

Ucapan Sahara dulu membuatku bergidik ngeri membayangkan empat orang yang aku sayangi melakukan hal buruk padaku. Apakah tengah malam seperti ini mereka akan terbangun dan membuatku menjadi zombi seperti yang biasa aku tonton di televisi?

Apakah mereka sudah menjadi zombi? Aku tak mampu membayangkan mereka bangkit dengan tubuh penuh darah. Berjalan tertatih mendekati lemari. Langkah mereka begitu pelan. Tanpa napas sedikit pun. Darah tak henti mengucur dari tubuh mereka. Beberapa anggota tubuh mereka juga ada yang mulai lepas karena berkali-kali menerima tebasan senjata tajam dari gerombolan pembunuh tadi.
 Entah kupingku yang mulai berhalusinasi atau aku memang sudah gila, aku mendengar suara mereka. Suara mereka memanggilku. Terdengar seperti sebuah desahan. Aku menelan air ludahku yang hampir mengering karena aku sama sekali tak mengganti cairan tubuhku yang terus menetes dari pori-poriku. Aku haus tapi aku sama sekali tak bisa keluar untuk mencari setetes air agar kehausanku terobati. Aku ingin menghentikan suara-suara itu.

Suara-suara itu terasa semakin ramai terdengar. Aku tak punya kekuatan apa-apa seandainya mereka datang dan membuka pintu lemari yang melindungiku dari dunia luar sana. Dunia yang sama sekali tak pernah bersahabat lagi denganku.

 “Gilda... Bangun Gilda...”

 Aku merasa tubuhku terguncang hebat. Aku membuka mata yang sedari tadi aku katupkan kuat-kuat. Aku terlalu rapat menekannya hingga mataku agak memerah. Aku menemukan wajah Kitty, teman serumahku, di depan hidungku. Wajahnya terlihat cemas. Ada apa? Mataku menatap matanya. Bertabrakan begitu saja. Ternyata aku bermimpi tentang masa kecilku yang suram lagi. Masa remajaku menjadi kelabu dan tak banyak warnanya. Abu-abu semua yang terasa.

 “Kamu kenapa?” suara Kitty tak kalah cemas dengan wajah yang ia tunjukkan padaku.

“Aku kenapa?”

“Suara teriakanmu terdengar sampai di kamarku.”

 “Aku? Berteriak?”

Aku mendorong punggungku agar aku bisa duduk di ranjangku. Kitty menjawab dengan anggukan. Ia mengusap keringatku yang menetes tanpa henti di wajahku. Ia terlihat mulai tenang. Aku yang terlihat masih tak tenang.

“Kamu mimpi buruk?”

“Entahlah, aku tak tahu apakah itu mimpi buruk atau hanya ingatan buruk tentang masa lalu. Tapi rasanya aku berada di masa itu lagi.”

“Masa apa?”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak mau menceritakan tentang masa laluku yang suram pada temantemanku. Apalagi pada Kitty. Cukuplah itu menjadi ingatanku sendiri saja.  “Gilda?” suara mama membuatku terkesiap. Dari mana datangnya suara itu? Seingatku suara itu hanya milik mama.
Aku menatap seonggok mayat yang memanggilku untuk kesekian kalinya. Tubuhnya berlumuran darah. Masih merah. Napasnya tinggal beberapa helaan yang kulihat. Ia sekarat. Aku melihatnya begitu nyata sedang berbaring di lantai. Tidak! Mama sudah mati! Ini hanya halusinasiku saja. Tak mungkin mama berada di kamarku sekarang. Apalagi memanggilku.

 “Gil...” sekarang suara Kitty yang mengejutkanku. Ia mengguncang tubuhku sedikit dan menggenggam tanganku.

Aku mengalihkan pandanganku pada Kitty sesaat. Kemudian mencari mayat yang tadi memanggilku. Ternyata aku benar. Itu hanya halusinasiku saja. Mama tak ada lagi di sana. Aku memang terlalu banyak berkhayal.

 “Kembalilah ke kamarmu. Aku baik-baik saja.”

 Aku membiarkan Kitty pergi dari kamarku. Aku  mengusap wajahku beberapa kali. Keringat itu masih tak henti-hentinya menghampiriku. Menetes menganak sungai di kulitku. Entah kenapa malam ini terasa begitu gerah?

Padahal Agustus hampir berakhir. Harusnya aku kedinginan karena hujan mulai menitik di luar sana. Membentuk orkestra bersama sang kodok yang mengeluarkan kepiawaiannya berdendang. Suara-suara musik musim penghujan mulai terasa indah di telinga. Alunannya membuatku ingin tidur kembali. Gilda... kamu butuh tidur nyenyak malam ini. Setidaknya butuh beberapa jam untuk menyegarkan kembali pikiran ini.

Pikiran yang terlalu hanyut dalam kenangan masa lalu yang harusnya aku lupakan sejak pertama kali aku menjadi yatim piatu.

“Gilda...”

Suara itu lagi. Suara yang rasanya begitu aku kenal. Bukan suara mama. Sekarang suara papa yang menggema. Suaranya yang dulu sangat suka aku dengar. Kenapa sekarang menjadi sangat menyeramkan? Harusnya aku menjawabnya bukan? Atau aku pura-pura saja tak mendengarnya. Aku tak bisa melupakan suara itu. Aku ingin menutup gendang telingaku saja agar aku tak mendengar apa-apa. Rasanya terlalu menyakitkan mendengar suara orang yang sangat aku sayangi tapi tak ada lagi di dunia ini.

“Kakak...”

Suara Sahara. Suara Sahara terdengar begitu jernih. Aku memejamkan mataku. Aku tak mau melihat mayat-mayat yang lain. Aku harus mematikan pendengaranku agar aku bisa menggunakan logikaku. Tak ada mayat apa pun di kamarku. Semuanya halusinasiku saja. Aku baik-baik saja. Aku mungkin terlalu banyak belajar untuk seminar besok. Otakku terlalu dipenuhi dengan hal-hal yang harusnya tidak perlu aku pikirkan sedikitpun. Tak ada hantu atau mayat hidup. Semuanya bullshit!

Aku mematikan lampu kamarku agar semua cahaya menghilang. Aku tak mau melihat apa pun. Aku ingin kembali ke alam mimpi. Aku ingin bermimpi yang indah. Setidaknya jangan mimpi buruk. Ataukah aku harus menghilangkan semua bunga tidur agar aku tidur lelap.Dalam...dalam...hanyut dalam tidur yang paling lelap yang pernah aku lewati sebelum aku kehilangan semuanya.

Aku membuka mataku dan menemukan aku berada di dalam lemari yang sempit yang dipenuhi dengan pakaian mama. Pakaian mama begitu banyak hingga memenuhi seisi lemari ini. Pakaian papa sampai harus mengungsi ke sudut yang paling bawah. Tak jarang pakaian papa juga harus mengungsi keluar dari lemari karena sesaknya pakaian mama.

Aku masih tak berani keluar dari dalam lemari ini. Aku menekan punggungku hingga menempel ke dinding lemari. Aku memeluk lututku erat-erat karena semuanya bergetar. Aku takut ada engsel tulangku yang lepas karena kuatku guncangan di tubuhku. Aku menyembunyikan wajahku di antara ke dua lututku yang ditutupi rambut panjang tergeraiku. Aku ingin berteriak pada seseorang yang mungkin bisa menolongku. Namun siapa? Aku tak tahu harus memintanya pada siapa sedangkan di sini hanya ada mayat-mayat yang bergelimpangan.

Mungkin sebentar lagi mereka akan menjadi zombi dan menghabisiku dan menjadikan aku zombi juga. Aku takut. Aku masih sangat belia untuk mencari cara agar aku tak takut lagi. Aku terus bersembunyi di dalam lemari ini. Aku baru 13 tahun. Namun aku sudah kehilangan begitu banyak hal yang masih aku butuhkan untuk kelangsungan masa depanku. Aku butuh mama sebagai contoh. Aku butuh papa sebagai tempat aku bersandar. Aku butuh Tairo sebagai penjaga. Dan aku butuh Sahara sebagai tempat aku bercerita dan berbagi. Kenapa mereka menghabisi keluargaku.

“Gilda...”

Aku menutup telingaku erat-erat. Aku tak mendengar apa pun. Tak ada suara apa-apa di sana. Di luar lemari ini tepatnya karena semuanya sudah menjadi mayat-mayat yang tak bersuara. Aku hanya ingin pergi dari lemari ini. Apakah aku bisa memejamkan mata dan membuat sebuah keajaiban? Aku ingin berada di sebuah taman bunga yang indah saja daripada di dalam lemari ini. Taman yang penuh dengan bunga-bunga yang baru. Bunga yang memberikan keharuman selain bau bangkai yang mulai menyengat hidungku.

Sudah berapa lama aku berada dalam lemari ini? Handphone-ku pun sudah mati. Batrenya sudah habis sejak beberapa jam lalu. Aku tak tahu sekarang jam berapa? Hari apa? Berapa lama aku berkurung di dalam lemari ini. Tanpa makan. Tanpa minum. Tanpa apa pun. Aku benar-benar menghentikan semua kegiatan yang aku lakukan biasanya.

Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan selain menunggu keajaiban. Mayat-mayat di luar sana… apa kabar kalian? Aku mulai mencium bau yang tak sedap dari kalian. Apakah mulai banyak ulat yang mengegerogoti daging-daging kalian yang basah oleh darah? Pasti sudah sangat tak enak dipandang mata keadaan kalian yang demikian itu. Aku pun pasti tak mampu mengenali yang mana bangkai dan yang mana mama, yang mana papa, yang mana Tairo dan yang Sahara.

“Gilda...”

Suara.. ada suara yang memanggilku. Apakah itu  suara mama yang bangkit dari kematian? Telingaku masih aku tutup karena aku takut mendengar namaku sendiri disebut. Aku tak ingin ada yang memanggilku. Mereka semua sudah mati. Itu terlalu menyeramkan untuk anak perempuan sendirian yang baru berusia 13 tahun sepertiku.

“Gilda...”

Suara itu begitu jelas. Itu sangat menakutkan buatku. Aku tak mau berubah dari gadis (yang harusnya cantik) menjadi zombi. Berjalan dengan susunan tubuh yang tak simetris. Keadaan jasad yang mengenaskan. Memakan manusia. Hal terakhir itu adalah yang paling aku takutkan. Aku tak mau menjadi kanibal walaupun mungkin nanti malah aku sangat menikmatinya.

“Gilda…”

Apakah mereka memang sudah bangun semua? Apakah lapar mereka sungguh tak tertahankan sehingga mereka memburuku? Satu-satunya saksi mata yang hidup dalam pembunuhan mereka. Aku hanya ingin bertanya satu hal pada mereka. Kenapa aku diselamatkan padahal aku tak punya siapa-siapa lagi? Kenapa aku tak dibunuh saja sama seperti yang lainnya? Setidaknya aku mati tanpa beban ketakutan seperti ini. Apa rasanya kematian itu? Maniskah? Pahitkah? Atau asamkah? Aku ingin tahu rasanya. Namun aku tak mungkin bertanya pada jasad-jasad yang bergelimpangan di luar lemari ini.

Mereka sudah mati. Suara itu tak pernah ada. Aku terlalu lapar dan haus hingga mendengar suara-suara mereka memanggilku. Aku terlalu banyak berhalusinasi. Harusnya aku sedikit berani
menghadapi kenyataan tentang mereka. Kenapa aku harus bersembunyi sementara mereka sudah mati semua? Kenapa aku harus takut? Aku yang sempurna malah bersembunyi seperti seekor tikus yang ketakutan dari kucing-kucing. Padahal kucing itu jelas-jelas sudah menjadi bangkai.

“Gilda...”

Aku membuka mata yang sedari tadi aku pejamkan. Aku merasa ada tangan yang menyentuhku. Tangannya begitu dingin dan basah. Mungkin ini tangan mama. Tangan yang pastinya penuh dengan lumuran darah dan ia ingin mencekikku tentu saja. Agar aku tetap menjadi anaknya. Anak harus mengikuti kemana pun orang tua pergi bukan?

Itu baru namanya bakti seorang anak. Walaupun harus menyerahkan nyawa yang tinggal satu-satunya. Menyakitkan tidak ya mati dibunuh oleh zombi? Aku hanya berharap bahwa mama akan membunuhku tanpa rasa sakit.

“Gilda...”

Aku menggerakkan kepalaku ke atas secara perlahan. Aku sudah siap mati. Mati di tangan mama pasti tidak semenyakitkan kematian di tangan orang lain bukan? Mama tidak akan membunuhku dengan menyakitkan kan, Ma?


Bersambung....

2 komentar:

Mel Ara said...

Bu, bacanya pusing euy, teksnya kontras bgt ama template, merah di atas coklat... lieur... hehehe

vera saputry said...

kalaau kirim cerita bisa gak bu?

Post a Comment