Breaking News

06 February, 2012

Nina Namanya


 
                                           *************************

                                                      NINA NAMANYA

       Perkenalanku dengannya terjadi saat kami sekeluarga baru saja pindah ke Medan.  Beberapa hari setelah kami tinggal di rumah kontrakan, Ibu Fat, pemilik rumah kami, mengirimkannya untuk membantu mencuci, menyeterika dan bersih-bersih rumah.
       “Aku kerja apa dulu ya bu ? Katanya hari itu mengagetkanku.
Gimana gak kaget, kalau tiba-tiba dia muncul di pintu samping saat aku sedang asyik mencuci.
       “Oooh…Ibu yang mau bantu-bantu itu ya…? Tanyaku.
       “Iya bu, aku dari tempat bu Fat, habis kerja cuci-gosok juga,”katanya.
Nina, begitulah ia perkenalkan namanya.  Awalnya aku agak heran mendengar cara berbicaranya seperti orang Jawa.  Lalu kudengar juga Ia bicara bahasa Jawa dengan pembantu di depan rumahku.  Rupanya banyak orang keturunan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Medan.  Pantas saja bahasa Jawanya  sudah beraksen Medan.

       Sejak hari itu, Bu Nina selalu datang ke rumahku jam delapan pagi.  Setelah selesai semua tugasnya, ia terburu-buru pulang dengan sepedanya.  Suatu hari aku tanyakan padanya,
       “Bu Nina, kok cepet-cepet sih kalo pulang…? Kan boleh bu, duduk dulu, makan dulu,”tanyaku.
       “Hehehe…, maunya sih gitu bu, “jawabnya sambil tertawa kecil.
       “Kalo aku duduk-duduk dulu di tempat ibu, bisa-bisa aku pulang malam ke rumah,”katanya lagi.
       “Lo, kok gitu? Tanyaku heran.
       “Dari sini kan aku masih kerja tiga rumah lagi bu,”jawabnya sambil cepat-cepat mengambil sepedanya.
       “Sebelum ke sini, aku jam enam pagi di rumah ibu Fat, baru ke rumah Ibu,”sambungnya sambil permisi pergi.
Aku masih terpana setelah bu Nina pergi.  Dari jam enam pagi? Sambung tiga rumah lagi?.  Ya Allah…apa gak capek ya?.  Dong dong banget sih…ya capek lah mak…!.

       Semakin lama aku semakin mengenal bu Nina.  Setelah shalat subuh, saat hari masih gelap, dikayuhnya sepeda bersama teman-teman seprofesi menuju kompleks perumahan tempat bekerja.  Dari rumah satu ke rumah yang lain, dijalaninya setiap hari.
Bu Nina, punya dua orang anak laki-laki, saat itu masih di Sekolah Dasar.  Suaminya seorang kuli bangunan yang lebih sering menganggur daripada bekerja.  Otomatis Bu Nina lah tulang punggung  keluarganya.  Mereka tinggal bersama ayahnya yang telah buta, karena katarak.

       Dari ceritanya,  aku tahu bahwa setiap hari jam empat pagi semua aktifitas di rumah sudah dimulai.  Menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anaknya, mengurus ayahnya, dan membereskan rumah.  Usai shalat subuh, ia berangkat ke rumah pertama dan rumah terakhir biasanya berakhir pada pukul satu siang.  Istirahat…? Bagaimana mungkin…?  Sampai rumah tugas selanjutnya adalah memasak untuk ayah dan keluarganya.  Selesai…? Tentu tidak!  Selanjutnya mencuci piring kotor dan pakaian.  Tak jarang jam 11 malam, ia baru selesai menyeterika pakaian.

       Mendengar cerita bu Nina, aku malu pada diriku sendiri.  Mengurus rumahku sendiri dengan tiga orang anak saja aku masih perlu asisten.  Bu Nina, dengan pekerjaan yang begitu berat masih sanggup mengurus semua tugasnya.  Hebatnya, dia jarang sekali sakit.  Mungkin hikmah dari bersepeda setiap hari ya…, membuat peredaran darahnya jadi lancar dan sehat.

       Tahun ke-6 aku di Medan, bu Nina masih setia membantuku.  Saat itu anaknya yang sulung akan masuk STM dan yang kecil masuk SMP.  Kata-katanya yang selalu terngiang di telingaku,
       “Aku boleh cuman buruh cuci, suamiku kerja bangunan, tapi anakku harus jadi orang sukses bu,”katanya.  “Paling nggak yang sulung bisa punya bengkel sendiri, yang kecil bisa jadi pembalap atau apa aja, yang penting gak kayak aku hidupnya.”
Sepenuh hati kuaminkan harapannya itu.  Harapan seorang Ibu yang berjuang untuk masa depan anaknya.

       Kini aku dan keluarga sudah pindah ke Banda Aceh dan tak pernah jumpa lagi dengannya.  Namun saat adzan subuh berkumandang, aku tahu pasti dia sedang bersiap meraih harapannya.  Bersepeda menyusuri dinginnya pagi, saat matahari pun masih enggan menyapa dunia.



0 komentar:

Post a Comment