Breaking News

10 February, 2012

Narsisnya Seorang Ibu


 
Sebenarnya daku gak bisa narsis,tapi dicoba deh....
Narsisnya Seorang Ibu
Beberapa hari yang lalu aku berteman dengan kawan lamaku, kami berteman dekat saat kuliah. Saat kami bertemu aku membawa Razan (7 tahun), Pasha (3 tahun 6 bulan ), dan Sheila (1 tahun 7 bulan). Temanku tersenyum melihat kerepotan melayani ketiga "krucilku" dan hanya menggelengkan kepalanya saat kami makan siang bersama. "Ribet banget ya bu punya anak tiga?", katanya. Aku tersenyum dan kujawab," Mau punya anak 1, 2 atau 3 bahkan 5 sama saja ribetnya, tergantung kitanya".
Tahun 2007, aku mengundurkan diri menjadi pegawai kantoran karena aku pindah rumah sehingga lebih banyak waktu yang kuhabiskan di jalan. Bulan-bulan pertama menjadi ibu rumah tangga membuatku stres. Pekerjaan rumah itu tak ada habisnya. Setelah A, lalu B, berlanjut C, kembali ke A.  Pada awalnya aku terlalu memaksakan keinginanku, agar semua pekerjaan selesai tepat waktu. Aku malah stres sendiri, sungguh melelahkan. Kalau dulu sewaktu kerja kantoran, aku hanya bekerja 8 jam, datang jam 8 pulang jam 5. Setelah jam 5, aku pulang dan tak melihat lagi wajah bos yang manyun atau tumpukan kerjaan. Dibayar pula. Sedangkan kalau pekerjaan rumah, sudah tidur paling akhir dan terbangunpaling pagi, tak dibayar pula. Lalu bos-bosku dirumah lebih sulit ditaklukan, aku harus punya argumen yang tepat atas pertanyaannya. Aku juga tidak bisa memaksanya mengikuti jadwal yang telah kususun. Kupaksa sedikit saja, urusannya bisa panjang.
Belum lagi soal menu masakan, setiap hari minggu sudah kurancang aku akan memasak apa pada hari senin sampai minggu. Menunya yang tidak itu-itu saja, bergizi, dan yang pasti anak-anak harus menyukainya. Benar-benar berat menjadi ibu rumah tangga itu.

Ingin berkeluh kesah tapi tak ada tempat, seandainya Ibu masih ada tentu Ibu menjadi tempatku mengeluh. Kalau dengan teman atau suami sepertinya aku tak mau, tak pantas mengeluh hanya karena menjadi ibu rumah tangga full time. Lagipula sebagian besar teman dekatku adalah perempuan bekerja. Lalu aku mendengar cerita ibu mertuaku, Ibu mertuaku mempunyai delapan anak. Ibu mertua, Emi, begitu aku memanggilnya, bercerita bahwa dulu beliau harus membawa serta tiga anaknya, yang berumur 1 tahun dan masih menyusu, 3 tahun dan 5 tahun, untuk membeli barang dagangan ke kota. Saat itu kendaraan umum tidak sebanyak sekarang, Emi harus berebutan dengan orang-orang untuk naik kendaraan umum, tentunya denga ketiga anaknya. Kebayangkan bagaimana seorang ibu membawa 3 anak kecil dan barang dagagan, dan harus mengejar kendaraan umum. Hebatnya Emi tidak mengeluh. Satu lagi yang aku kagumi dari beliau adalah nasehatnya kepadaku, "senakal apa pun anak-anak, jangan sampai dipukul ya, namanya juga anak-anak ". Huaaa....aku langsung tertohok mendengar cerita Emi. Lalu mengapa aku tidak bersyukur dengan segala kemudahan yang telah diberikan.
Mendengar cerita dan nasehat Emi, aku seperti mendapatkan penerangan. Kalau Emi saja bisa kenapa aku tidak. Begitu banyak kemudahan yang aku dapatkan dibandingkan Emi dulu. Mengapa aku tidak mensyukurinya. Akhirnya aku mengalah dan tidak ngoyo untuk menyelesaikan kerjaan rumah. Anak-anak tetap aku buatkan jadwal kapan mereka harus mandi, makan, bermain, belajar, tidur dan seabrek kegiatan lainnya. Tapi tentu aku tidak  memaksa mereka, untuk razan dan pasha, mereka dapat bernegosiasi dan tahu konsekuensinya jika tak sesuai jadwal. Ada reward dan punishment. Kecuali untuk putriku yang baru berusia satu tahun, masih bisa dipaksa sedikit. Lambat laun aku menikmati peran ku sebagai ibu rumah tangga. Satu persatu aku selesaikan, kini aku pun mulai menikmati status ibu rumah tanggaku 
Sejak melahirkan anak kedua, aku memiliki asisten rumah tangga. Urusan bersih-bersih rumah dan cucian dikerjakan oleh asisten. Namun tak jarang aku pun ikut beres-beres, karena asistenku tidak menginap, jadi setelah ia pulang pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Apalagi kalau asistennya tidak masuk, praktis semua urusan rumah aku kerjakan. Belum lagi kalau dapat asisten yang makan hati, harus ekstra sabar. Memberitahu pelan-pelan, tidak asal marah-marah. Kecuali asistenya sudah kebangetan. Sudah diajari tidak mengerti juga, kerjaanya telepon, tukang gosip dan anak-anakku digalakin, tanpa A-I-U-E-O, langsung you're fired.
Tak jarang aku mengalami kejenuhan berurusan dengan kerjaan rumah. Kalau jenuh datang, aku biasanya minta cuti sehari lepas dari rutinitasku sebagai ibu rumah tangga. Cutinya hari itu aku tidak masak, tapi jalan-jalan berdua sama suami makan diluar. Krucil-krucil aku tinggal dulu. Atau minta uang ke suami, jalan-jalan ke mal seorang diri. How refreshing...Pertama kali mendengar aku minta cuti, suami terheran-heran. "Minta cuti?Kayak karyawan kantor?", tanyanya. Aku hanya tersenyum dan menjawab, "boleh dong sekali-kali memanjakan diri sendiri. Aku kan juga karyawan. Karyawannya ayah sama anak-anak.  Kerjaku 24 jam sehari. Cutinya cuma sehari kok, gak seminggu."
Akhirna setelah sekian lama bergelut dengan urusan rumah, pertengahan 2010 aku mulai bekerja lagi.  Aku bekerja paruh waktu, dalam satu minggu aku hanya 3 hari masuk kantor. Sebenarnya aku malas untuk bekerja lagi, tak tega meninggalkan ketiga krucilku, tapi aku harus karena suami membutuhkan bantuanku. Beruntungnya lagi aku mendapatkan pekerjaan yang mengerti akan keadaanku sebagai seorang ibu.
Sekarang sebelum aku berangkat kerja, aku selalu sempatkan untuk memasak, memandikan dan menyuapi ketiga krucilku. Saat aku tidak bekerja aku menemani mereka bermain atau pergi jalan-jalan, tak harus jauh dan mahal, yang penting pergi bersama-sama. Terkadang aku merasa lelah karena harus bekerja dan mengurus pekerjaan rumah juga. Tapi semua itu aku nikmati, bersyukur bahwa aku telah diberikan kemudahan dalam menjalani tugasku. Sejujurnya aku tak dapat mengatakan aku adalah perempuan hebat, karena aku mampu melakukan pekerjaan rumah, mengasuh anak-anak, mengurus suami dan mencari tambahan juga. Masih banyak perempuan lain dengan kondisi yang lebih sulit dibandingkan aku dan mampu bertahan. Aku akan mengatakan aku adalah perempuan hebat jika dapat menerima kenyataan yang paling pahit dalam hidupku dan anak-anakku kelak menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Untuk saat ini aku hanya dapat mengatakan aku adalah perempuan yang mencoba untuk menjadi istri dan ibu yang hebat untuk suami dan anak-anakku.
Cibogo, 12 Juni 2011
tetep ga bisa narsis


0 komentar:

Post a Comment