Breaking News

10 February, 2012

Multivitamin Bernama Persahabatan


 
Multivitamin Bernama Persahabatan

Berada di tengah sahabat memang sesuatu yang membuat kita bisa merasa hangat. Minggu lalu merupakan minggu yang cukup melelahkan. Melelahkan secara fisik dan mental. Tenggorokanku bermasalah gara-gara patah hati dengan rumah idaman. Apa hubungannya patah hati dan sakit tenggorokan? Gara-gara patah hati dengan harga rumah idaman yang menjulang tinggi dan belum bisa terjangkau, aku mengajak suami untuk makan di luar. Padahal bulan ini seharusnya sedang pengetatan budget karena setelah gajian uangnya sudah dibelikan notebook untuk merintis mimpi kami. Tapi... rasa patah hati yang lagi-lagi dipakai sebagai excuse meloloskan proposal makan di luar kembali menang. Rasa patah hati yang menjadikan mood kacau balau juga kembali menjadi alasan untuk menenggak es yang kemudian membuatku sakit tenggorokan dan tidak nyaman selama satu minggu.

Tenggorokan yang tidak nyaman membuat mood semakin kacau, fisik jadi cepat sekali terasa capai. Jum'at, yang merupakan hari terakhir kerja dalam satu minggu menjadi hari puncak kelelahan mental dan fisik. Sore, menjelang malam hari jumat itu, pada suatu titik ketika kelelahan memuncak ditambah perut yang keruyukan dan macet di depan kantor yang tak juga terurai aku seperti tersentak dan menyadari sebuah kekosongan yang sangat besar. Lubang yang menganga di tengah kehidupan Jakarta ini. Aku bilang ke suami, Jakarta ini sudah benar-benar sakit. Orang-orang mengejar waktunya masing-masing yang tidak bisa mereka genggam. Maka... “urusanmu adalah urusanmu dan urusanku adalah urusanku” atau bahasa kerennya “emang gue pikirin?!”

Seperti sebuah oase di tengah gurun, teman-teman dekatku semasa kuliah tiba-tiba mengajak reunian karena salah satu dari antara kami yang bekerja di Kalimantan sedang dikirim untuk training di Jakarta. Alhasil, teman-teman yang ada di Bekasi, Cikarang, Cileungsi dan Depok berkumpul di Semanggi (posisis di tengah jika dilihat dari rumahku yang ada di Pamulang hehehehe). Di atas ketinggian sebuah mall, kami makan bersama. Masih seperti yang dulu dalam nuansa yang sederhana, oleh-oleh yang dibawa dari Kalimantan kami santap bersama... sepiring berbanyak hehehe. Kesederhanaan di atas sebuah mall yang terkadang diidentikan sebagai symbol kemewahan. Mengenang kembali kenangan masa kuliah saat siang-siang kami berjalan cukup jauh demi mendapatkan paket diskon dari sebuah restoran fast food. Masa-masa yang tidak bisa digantikan dengan makan makanan mewah di restoran berbintang sekalipun.

Sungguh luar biasa rasanya. Perlahan cerita mengalir. Mulai dari obrolan penambahan atau pengurangan berat badan saat satu per satu muncul, suka duka menjadi Ibu, suka duka hidup di Jakarta serta suka duka hidup di 'hutan”. Masing-masing saling pandang, melihat dari sisi yang berbeda. Menganggap yang lain lebih beruntung tetapi sekaligus mejadi cermin positif untuk memotivasi diri. Selalu ada sisi lain yang bisa disyukuri dari setiap keadaan ini. Seorang teman adalah sebuah cermin, beberapa orang teman berkumpul maka jadilah matahari yang menghangatkan. Sehingga, tidak peduli hujan sederas apa, rasanya nyaman dan hangat-hangat saja. Tidak peduli pergi naik motor, atau keesokan harinya harus bangun pagi untuk kerja, rasanya seperti punya waktu panjang untuk terus berbicara dari hati ke hati.

Secara logika, badanku ini seharusnya sudah eror malam ini. Capek yang terakumulasi di jumat malam belum juga pulih, hari minggu sudah ngelayap dan berkendara dalam dingin setelah hujan. Tapi... ajaib memang kehangatan yang ditimbulkan oleh sebuah pertemuan dengan sahabat. Pagi tadi saya bangun dengan segar, malam ini pun saya masih menuliskan cerita ini dengan semangat....

10 Oktober 2011


0 komentar:

Post a Comment