Breaking News

22 February, 2012

Misteri Lipstik Merah Jambu

By Sri Ratna  
Adi, nanti sepulang sekolah kamu mampir ke rumah ya!
Dari Nenek Odah

Demikian tertulis sms di hape Adi. Saat itu ia sedang duduk di kantin sekolah menikmati sebotol es teh segar sepulang sekolah.
Adi langsung menuju ke rumah Nek Odah. Ia menduga sesuatu hal penting telah terjadi. Ternyata benar saja. Nek Odah telah menunggu di depan pagar rumahnya dengan raut wajah cemas.
“Ada apa, Nek?” tanya Adi penasaran.
“Sesuatu telah terjadi, Adi. Ayo, ikut Nenek!”
Nek Odah mengajak Adi masuk ke dalam kamarnya. Adi memerhatikan Nek Odah membuka pintu lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati. Nenek lalu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari dan memberikannya kepada Adi.
“Kotak apakah ini, Nek?” Adi bertanya. Ia mengamati kotak kayu berukir itu dengan rasa penasaran.
“Bukalah,” Nek Odah berkata.
Adi membukanya tapi kotak itu kosong melompong.
“Sebelumnya ada sebuah cincin berlian di sana. Tadi pagi sebelum nenek pergi ke pasar cincin itu masih ada di sana,” Nek Odah menjelaskan.
“Cincin berlian?” Adi bertanya heran. Setahu Adi, Nek Odah bukanlah tipe orang yang suka mengoleksi barang mahal seperti itu.
“Itu adalah cincin dari almarhum Kakek,” Nek Odah menjelaskan.
“Oh, ya!” Adi baru teringat bahwa suami Nek Odah almarhum adalah seorang penjabat di sebuah lembaga pemerintahan.
“Lalu kemana cincin itu sekarang, Nek?”
“Cincin itu hilang...” pelan suara Nek Odah menjawab.
“Hilang? Maksud nenek?” Adi bertanya kaget.
“Benar, cincin itu hilang,” Nek Odah meyakinkan. “Nenek baru tahu saat pulang dari pasar tadi siang dan menemukan pintu kamar nenek terbuka. Tapi ada satu hal yang aneh.”
“Apa itu, Nek?” tanya Adi.
“Pintu rumah tetap terkunci.”
Adi merenung mendengar penjelasan nenek. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa masuk ke dalam kamar nenek tanpa melewati pintu depan terlebih dulu. Apakah mungkin penjahatnya masuk lewat jendela?
Adi buru-buru memeriksa. Tetapi semua jendela itu dipasangi terali besi jadi tidak mungkin ada orang yang bisa masuk lewat sana.
“Kamu pasti lapar karena baru pulang sekolah. Ayo kita ke dapur dulu. Nenek akan menyiapkan makan siang untukmu,” Nek Odah berjalan ke dapur diikuti oleh Adi.
Adi duduk sembari menunggu Nek Odah menyiapkan makanan. Mendadak pandangan matanya tertuju pada sebuah cangkir yang terletak di atas meja makan. Ia merasa ada yang aneh pada cangkir itu.
Ruangan itu begitu rapi dan bersih. Nek Odah baru saja pulang dari pasar tapi kenapa sudah ada satu cangkir yang kotor?
Adi meraih cangkir itu dan mengamatinya lebih detil. “Ada noda lipstik berwarna merah jambu yang menempel di bibir cangkir,” ucapnya lirih.
Ia mengamati bibir Nek Odah. Tidak ada apa-apa di sana.
“Apakah, Nenek memakai lipstik?” tanyanya.
Nek Odah menggeleng pasti,” Nenek kan tak pernah pakai lipstik, Adi.”
“Apakah tadi nenek menerima tamu?” Adi kembali bertanya.
“Tidak,” nenek menggeleng heran.
“Lalu siapakah orang yang suka memakai lipstik merah jambu?” Adi memperlihatkan cangkir itu ke arah nenek.
Nek Odah mengamati cangkir itu sembari berusaha mengingat-ingat . “Hmm, ya. Nenek ingat sekarang! Itu warna lipstiknya si Marini, anak tukang cuci nenek yang memang agak centil.”
“Apakah Marini punya kunci masuk rumah ini?” tanya Adi.
“Tentu saja. Nenek memberikan satu kunci pada ibunya, supaya saat nenek pergi mereka tetap bisa masuk membawa pakaian bersih atau mengambil pakaian kotor.”
Adi menyimpulkan, “Kemungkinan besar Marini tadi datang dan sepertinya dia merasa haus setelah membongkar lemari Nenek.”
“Benarkah?” Nek Odah terkejut mendengar perkataan Adi.
“ Untuk memastikan hal tersebut, mari kita periksa dulu apakah semua pakaian bersih sudah diantar?” Nenek dan Adi masuk kembali ke dalam kamar.Ternyata dugaan Adi tepat sekali.Setumpuk pakaian bersih milik nenek telah tersusun rapi di dalam lemari .
Nenek dan Adi bertatapan seraya tersenyum.
“Apakah kita harus menelepon polisi, Nek?” tanya Adi.
“Tidak perlu. Nenek akan menemui ibunya besok!” tegas Nek Odah.
Tamat

0 komentar:

Post a Comment