Breaking News

16 February, 2012

MEUGANG





       Pagi tadi, tiba-tiba aku dikagetkan ketukan yang berkali-kali di pintu.  Setelah dibuka oleh Rini, Asisten Rumah Tanggaku, ternyata seorang ibu yang sudah cukup tua, dengan memakai sarung dan sandal jepit kumal berdiri di muka pintu rumah kami.  Dalam bahasa Aceh ibu berkat-kata pada  Rini. Tentu saja dia bingung, wong dianya dari Cilacap, si ibu nyerocos pake bahasa Aceh, Au ah Gelap!.  Rupanya Rini cukup pandai menangkap bahasa isyarat, dia segera tahu kalau ibu tadi minta sedekah.  Dia segera memanggilku di kamar dan aku memberikan uang sekedarnya untuk sedekah.
       Rupanya urusan belum selesai. Rini memanggilku lagi,
            “Bu, itu neneknya manggil Ibu,”katanya.  Nenek siapa?  Perasaan nenekku satunya orang Sunda, yang satu orang Jawa, gak ada nenek di Aceh :).  Kuhampiri juga ibu tua tadi.
            “Ada apa ya bu…?”Tanyaku.
Dan keluarlah kata-kata dalam bahasa Aceh disertai derai airmata dan keluhan yang panjang, tapi tak kumengerti.  Namun berdasarkan indera keenamku nenek tadi meminta sumbangan lebih untuk membeli daging, karena dua hari lagi di Aceh akan merayakan tradisi Meugang.  Dari kata-kata yang berhasil ditangkap telinga supranaturalku…lebay ini mah…, nenek itu dari Sigli, sudah tiga bulan kakinya sakit dan gak bisa kerja.  Dia berjalan pun susah.  Akhirnya tak tega mendengar ratapannya yang panjang dan tak kumengerti, kuberi dia tambahan sedekah untuk membeli daging menyambut Meugang.
       Nenek itu berlalu dengan jalannya yang susah payah, ternyata ia menghampiri supirku yang sedang duduk di garasi.  Waktu kutanya pada supirku, rupanya si nenek masih meminta sedekah darinya. Kemudian dia menjelaskan bahwa saat menjelang  Meugang, hal seperti ini kerap terjadi.  Ini membuatku penasaran, mengapa Meugang ini menjadi sesuatu yang begitu hebat di Aceh.  Setiap daerah mempunyai tradisi tersendiri menyambut Ramadhan, tapi di Aceh sangat terasa perbedaannya.
       Agak siang, aku berangkat ke pasar seperti biasa.  Baru memasuki jalan menuju pasar, kami sudah disambut kemacetan, karena begitu banyak mobil dan motor yang parkir.  Di dalam pasar, suasana lebih meriah lagi.  Pembeli lebih ramai dari biasanya, dan mendadak kios-kios ikan menjadi penjual daging sapi.  Hanya beberapa penjual ikan yang berjualan di pasar dan kebanyakan mereka sepi  pembeli.  Kasihan melihat tukang ikan yang memandangi penjual daging yang ramai, aku membeli ikan tongkol dari penjual langgananku.  Beli daging kan bisa besok lagi, kupikir.
       Saat membeli sayur kudengar ibu-ibu membicarakan harga daging dan ayam yang melambung tinggi.  Daging hari ini mencapai Rp. 100.000/kg, menurut mereka besok bisa sampai Rp. 120.000 dan puncaknya bisa sampai Rp 130.000/kg.  Pikiranku melayang pada nenek yang tadi pagi datang ke rumahku.  Aku yakin dia bukan satu-satunya orang yang bersedih karena tidak punya uang untuk membeli daging.  Bila harga daging begitu tinggi, bagaimana mereka bisa menjalankan tradisi yang sudah berjalan secara turun temurun.
       Dalam tradisi masyarakat Aceh terdapat tiga kali perayaan Meugang, yaitu Meugang Puasa (menyambut Ramadhan), Meugang Uroe Raya Puasa (menyambut Idul Fitri), dan Meugang Uroe Raya Haji (menyambut Idul Adha).  Seperti hari ini, satu atau dua hari menjelang Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, pasar yang biasanya sepi menjadi ramai sekali pembeli, dari situlah timbul istilah makmu that gang nyan (makmur sekali pasar itu), lalu menjadi Makmeugang.  Seiring waktu dan perkembangan bahasa, istilah itu lebih dikenal dengan kata Meugang.
       Menurut informasi dari supirku juga, bagi warga Aceh kalau tidak beli daging menjelang puasa dan hari raya seperti kurang lengkap dan malu.  Sedih rasanya kalau memulai puasa tanpa daging di rumah.  Bagi pria Aceh, kemampuan membeli daging bagi keluarganya menjadi salah satu bentuk pengakuan dan prestise. Tak jarang mereka rela menggadaikan emas demi bisa membeli daging untuk Meugang.   Dua hari menjelang puasa, bahkan di pinggir jalan kota Banda Aceh dipenuhi para penjual daging tahunan.
       Aku kembali teringat ibu tua yang tadi pagi mengunjungiku.  Apabila tradisi Meugang ini telah begitu berarti bagi masyarakat Aceh, lalu bagaimana mereka yang tidak memiliki kemampuan secara finansial. Apalagi harga daging selalu melambung tinggi setiap menyambut Meugang.  Tradisi ini membuat puasa Ramadhan tidaklah lengkap bila kita tidak memasak daging satu hari menjelang puasa.  Lebih gawat lagi kalau ini menjadi ajang prestise bagi seorang pria kepala keluarga. Kepala keluarga yang tidak mampu menghadirkan daging di hari Meugang bagi anak-anaknya adalah pria yang lemah.  Kemudian juga Meugang menjadi alasan bagi orang-orang seperti ibu tua tadi untuk meminta-minta  belas kasihan.
       Sebenarnya filosofi dari tradisi Meugang ini sangat baik.  Sesuai dengan contoh Rasul, umat Muslim seharusnya menyambut bulan Ramadhan dengan meriah dan suka cita.  Seperti kita menyambut kedatangan seorang sahabat yang hanya berkunjung satu tahun sekali ke rumah kita, tentu kita akan menyiapkan segala hal untuk merayakannya.  Demikian pula dengan tradisi Meugang.  Warga Aceh merayakan Ramadhan dengan suka cita dan menyediakan makanan istimewa bagi keluarganya.  Namun bila semua itu kemudian dilakukan hanya karena sebuah prestise, bukankah makna yang sakral itu kehilangan esensinya? Tidak ada yang salah dengan tradisi Meugang, namun kita perlu lebih pandai menangkap pesan moralnya.  Aku pun berpikir, bila di daerah lain qurban dan pembagian daging pada orang-orang yang tak mampu dilakukan saat Idul Adha, maka di Aceh kalangan yang mampu bisa berqurban tiga kali dalam setahun, setiap Meugang Puasa, Uroe Raya Puasa, dan Uroe Raya Haji. Melihat banyaknya kalangan yang beruntung secara finansial di Aceh, aku yakin hal itu sudah dilakukan di Aceh dan tradisi ini akan tetap menjadi ciri khas Aceh, yang tak dimiliki daerah lain di Indonesia.
       Setiap tradisi mempunyai keunikan tersendiri, itulah yang membuat Indonesia kaya akan keragaman budaya.  Tradisi Meugang Puasa menjadi salah satu kekayaan budaya Aceh, namun tujuan terpenting dari semua itu adalah menyambut datangnya Ramadhan dengan bahagia, menjemput sebanyak-banyaknya rahmat Allah, mengharap ribuan ampunan-Nya dan kembali terlahir pada fithrah kita sebagai seorang hamba yang suci.  Semoga kita bisa menjalani Ramadhan tahun ini dengan limpahan keberkahan Allah SWT.

SELAMAT BERPUASA DAN MOHON MAAF LAHIR BATIN.

- INGE DAN KELUARGA-


0 komentar:

Post a Comment