Breaking News

16 February, 2012

Menyambut Ramadhan....


By Santi Nurhayati  

Shaum...Dapat Imbalan???...Mmhhh Senangnya
Ingatanku kembali ke puluhan tahun lalu, senang rasanya jika Ramadhan tiba.  Ibu bapakku selalu mengajak kami anak-anaknya untuk shaum.  Walaupun kami kelaparan, lemes tapi kami tahan, karena segala imbalan dijanjikan waktu itu.  Siapa yang tidak senang!  jika tiap sore bapak mengajak aku dan kakakku yang masih usia anak sekolah dasar  diajak berkeliling pakai motor, setidaknya rasa lapar yang mendera terlupakan sejenak karena terpaan angin semilir yang meniup-niup wajah kami saat menaiki motor.  Dan setiap akan menjelang maghrib, kami sudah disiapkan dengan aneka makanan yang jarang ada di bulan-bulan lain dan kontan bisa menghentikan bunyi kriuk...kriuk  di perut yang sudah sejak siang tak  karuan bunyinya.  Ditambah lagi janji akan dibelikan baju baru yang beberapa stel jumlahnya bila shaumnya sebulan penuh, waah hal itu bagi anak seusiaku sangat excited dan sayang kalau dilewatkan.
“Yuk, sekarang sudah jam setengah lima, siap-siap pakai jaket! Kita keliling.” Ajak bapak waktu itu. “Yeaah!” aku dan kakak perempuanku bersorak kegirangan, ternyata saat yang ditunggu-tunggu sudah tiba.  Bila bulan Ramadhan, bapak sepulang kerja setelah beristirahat sebentar, selalu mengajak kami yang baru berumur enam dan sembilan tahun, jalan-jalan pakai motor.  Karena orang tuaku tahu jika kami tak dihibur dan tak dialihkan perhatiannya pasti akan merengek minta makan.  “Sepanjang perjalanan keliling menjelang adzan maghrib itu, bapak selalu menawarkan kepada aku dan kakakku makanan yang dijajakan orang di jalan atau mainan yang ngetren di bulan Ramadhan diantaranya, balon sabun, kembang api dan mainan monopoli. 
Dari usia TK, aku sudah dibiasakan untuk shaum oleh kedua orang tuaku.  Walaupun bisa dihitung jari dalam sebulan, shaumku penuh sampai maghrib. Tapi aku bangga karena anak seusiaku jarang melakukan shaum waktu itu.  Mulai kelas satu sekolah dasar, Alhamdulillah aku selalu tamat shaum, sampai aku mencapai usia baligh.
Kegiatan yang dilakukan saat setelah saur waktu masih TK, aku ikut kakak-kakakku, terutama kakakku yang perempuan yang pautan usia kami hanya tiga tahun,  Jadi ga terlalu jauh berbeda mainan yang dimainkannya.  Setelah masuk sekolah dasar, tepatnya aku kelas tiga, kegiatan sehabis saur bertambah, ada tugas dari sekolah untuk dikerjakan saat bulan ramadhan, diantaranya menuliskan isi ceramah di mesjid sekitar rumah, shalat tarawih, dan shalat lima waktu serta tak lupa untuk meminta tanda tangan ustadz yang isi ceramahnya kita tuliskan di buku tugas.  Terkadang males juga untuk nulis, anak SD, gitu lho!!  Selain mengerjakan tugas sekolah, kegiatanku saat bulan ramadhan adalah bermain bersama teman-teman di sekitar rumah.  Awal ramadhan sih masih bermain yang ringan-ringan seperti main monopoli, kwartet, ludo dan ular tangga, karena masih adaptasi tubuh, maklum masih sering merasa lemas.  Sekitar seminggu kemudian, permainan mengisi ramadhan bertambah seru, karena kami merasa sudah biasa shaum jadi ga merasa lemas lagi, kadang ada sih perasaan haus, lapar, lemas, tapi karena asyiknya bermain jadi lupa tuh!
Oh ya, aku dan kakakku bermain hanya sampai sekitar jam dua saja, selebihnya tidur siang dan setelah bangun tidur dan mandi sore, mmhhh adalah saat yang ditunggu juga! Waktunya berkeliling bersama bapak.
Ibuku, untuk memotivasi kami yang belum baligh untuk shaum dengan cara, membeli shaum kami dalam seharinya.  Dulu sehari tamat shaum diberinya aku seratus rupiah...waw...cukup menggiurkan, bisa empat macam jajanan yang didapat saat buka tiba.  “Rini, Santi kalau shaum kalian genap sebulan.  Akan ada bonus tiga ribu rupiah lagi!” begitu kata ibuku.  “Wuah... asyik!” seru kami waktu itu
Tiga puluh hari terlewati, Lebaran tiba! “Yeeaahh!” aku kegirangan, yang ada dibenakku waktu itu baju baru dan sejumlah uang pemberian orang tua.
Jadi saat lebaran menjelang, kami Rini dan Santi anak ke empat dan ke lima dari lima bersaudara, saatnya mendulang rejeki.  Nenek kakek, ibu bapak menunaikan janjinya membeli shaum kami dengan sejumlah uang dan beberapa stel baju baru lengkap dengan aksesorisnya, tas kecil dan sepatu.  Serasa senang deh... lebaran adalah saat yang ditunggu-tunggu.
Mungkin shaumku waktu itu hanya demi uang, hehehe.  Jauh dari hakikat shaum sebenarnya yaitu menahan diri dari makan dan minum serta nafsu agar kita bisa merasakan apa-apa yang orang papa rasakan.  Tapi tak apalah...yang terpenting sekarang pemahamanku berubah seiring waktu.
Kini aku pun jadi seorang ibu, ingin rasanya aku bisa menerapkan apa-apa yang orang tuaku ajarkan.  Mungkin anak-anakku masih karena imbalan melakukan shaum, karena dulu aku pun demikian.  Tapi mudah-mudahan seiring waktu pemahaman mereka berubah, bukan karena imbalan lagi. Anakku yang sulung kini berusia delapan tahun, Alhamdulillah shaum tahun kemarin penuh, ku janjikan pemberian seperti orang tuaku lakukan dulu.  Tentunya bukan sehari seratus rupiah lagi karena sudah gak jaman lagi, hehehe. Aku menjanjikan lima ribu rupiah sehari, belum eyang, nenek kakeknya.  Mmhh anakku yang sudah bisa berhitung, rela menahan lapar seharian untuk ikut shaum karena imbalan yang menggiurkan.  Agak sedikit lain kebiasaanku dulu dan anakku sekarang.  Sekarang anakku sekolahnya fullday, kadang aku ada rasa kasihan, duh kayaknya haus banget.  Tapi aku tahan, aku pura-pura tidak tahu, khawatir dia manja. Tapi aku cukup berempati padanya, apa yang dia mau, aku lakukan dehh, demi kesuksesan shaum anakku.  Sepulang sekolah, aku tawarkan untuk berendam di bak mandi.  “Teh, mau berendam? Sepertinya seger deh!” sudah itu pakai kayu putih lalu bobo.” Kataku. “Iya,Bunda, Teteh mau...!” jawab anakku.  Begitu kebiasaannya, tidak ada acara main sepulang sekolah, tidak seperti puluhan tahun yang lalu yang aku alami.
Jika lebaran tiba, Ima anakku sudah siap dengan baju baru lengkap dengan tas.   Sepulang shalat iedul fitri dan setelah sungkeman, dia siap menagih uang, uang yang dijanjikan.  Wajahnya sumbringah.... aku jadi teringat masa kecilku dulu.
Ahh... masa mungkin berganti, tapi kebiasaan baik bisa aku turunkan.  Semoga kelak cucuku pun bisa melakukan shaum sejak kecil dengan bahagia.

0 komentar:

Post a Comment