Breaking News

16 February, 2012

Menguap, melayang, namun tak juga menetes


  Aku tak mengerti bagaimana ini bisa mempengaruhiku demikian besar...
Sejak kepergiannya menghadap sang khalik yang begitu mendadak,
Aku bak air yg secara kodrati menguap jika sampai pada saat  hukum alam menuliskannya,
melayang di udara sebagaimana mendung bergayut,
Namun tak juga menetes selama dua setengah tahun kepergiannya...

Ia adalah teman kuliah yang tak pernah kutemui sejak ia lulus.
Semua teman kuliahku luar biasa,
Tiada satupun yang tidak punya prestasi akademis terbaik di kelasnya sebelum masuk jenjang kuliah,
tak terkecuali dirinya.

Yang membuat ia  spesial di mataku adalah,
Egoku yang terhempas merasakan
bahwa aku  biasa-biasa saja secara akademis  di bangku kuliah,
sebuah episode kehidupan roda bawah buatku,
dan ia adalah satu dari 5 siswa terunggul di angkatanku.
Di mataku saat itu ia terasa begitu... sombong!
Entah karena aku merasa kerdil,
ataukah memang ia merasa bukan tandingan kami,
Perasaan itu begitu menekanku, dengan kuat...
Menghempas dan mencabik dan merusak ...

***

"Yanti, tulisanmu sangat mengesankan, kamu berbakat menulis", di sela menunggu jeda perkuliahan Rangkaian Komponen Digital, ditengah kegalauan akan pemahaman materi kuliah yang tercecer, membuyarkan laju rutukan dan perasaan marah dan putus asaku pada diriku sendiri... Sebuah kompliment pada saat aku merasa begitu rendah dan terpuruk!

Leherku berputar menuju arah suara, mendapati Pak Harry,
dosen Bahasa Pemrograman Dasar berdiri di belakangku, tegak.
Beberapa detik aku merasa tak tahu dimana aku berada atas kejadian yang 180 derajat berbeda persepsi atas pandanganku terhadap diriku sendiri.
Di tangannya ia memegang gulungan cikal bakal buletin jurusan yang dicetak seukuran tabloid.
Ia membaca tulisanku! Ia mengapresiasi tulisanku!
dan ia melakukannya dengan sengaja,
turun dari lantai dua demi melihatku berada di lantai satu.

Berikutnya kalimatnya menghunusku
setelah belaiannya membuatku tak mengerti dimana kakiku berpijak,
"Apa kamu gak salah jurusan ?"
dan aku mati suri...

Aku tak tahu sejak kapan ia ada di sana, sampai tiba-tiba...
ia yang minim kata-kata,
ia lebih sering sering tersenyum, dengan sinis padaku,
mengeluarkan pendapatnya,
"Ia pak, ia salah jurusan"

Mahluk pintar itu ada di sisi kananku... entah sejak kapan ia ada di sana,
Dan serangan itu terasa sungguh menyakitkan,
Masuk lurus langsung ke pusat penyokong kehidupanku,

Hatiku berkeping-keping...
Sendiku terasa lepas semua, lemas...
"begitu bodohnya kah aku ??"
Aku tidak cocok di dunia IT menurut mereka,
Aku tak berpotensi.
Dan menurutnya manusia pintar dengan senyum sinis itu aku salah jurusan!

Ingin ku berlari pulang, menumpahkan semua tangis di pelukan ayah ibuku,
Yang selalu menganggap aku putrinya cerdas luar biasa,
Yang selalu menggenangiku dalam kolam pujian,
Yang membuatku sulit memahami mana yang nyata dan mana yang lip service...
Tapi aku selalu yakin bahwa mereka menyayangiku selalu,
apapun yang terjadi padaku...

Puas sudah kau lecehkan aku,
setelah kemarin kumendengar tulisan ulasan teknologinya di kolom harian Jawa Post muncul,
dan semua teman membicarakan kehebatan tulisan itu tembus di harian terkemuka,
ia menjatuhkanku untuk sebuah tulisan tentang motivasi diri yang kutulis di sebuah tabloid yang masih berkategori "dalam percobaan" dan di kelas Jurusan!

***

Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, dan kisahnya
setelah aku memutuskan menikah di usia muda,
bukan jadi urusanku, dan semakin mengukuhkanku di sisi hatiku yang lain
bahwa aku bukan siapa-siapa...

Yang aku tahu ia telah bekerja di perusahaan IT bertaraf internasional,
bukan hal yang mengherankan,
it's predictable!

Separuh egoku menyulutku memerangi kekerdilanku dengan mencoba meyakinkan sekelilingku bahwa aku bukan orang yang biasa,
bahwa aku cukup special...
Walau aku tak mau mengakuinya,
aku tahu.....
aku butuh pengakuan!

Harus berapa jauh diriku berlari untuk mengejar ketertinggalanku pada posisinya adalah pertanyaan yang selalu menggodaku,
Di sisi lain aku selalu merasa tak berdaya!

Saat kemudian ia menyapa dengan sapaan pendek, di dunia maya...
membawaku kembali ke perasaan kerdilku yang lama.
Di tambah posisiku sebagai full mom semakin membuatku kisut berkerut ...

Namun entah sejak kapan ia bisa memuji dengan lebih panjang,
Bercerita lebih detail,
Walaupun itupun masih 30% dari standard rata-rata manusia buatku.
Satu hal baru yang tak pernah ia katakan sebelumnya adalah satu kata saja,
yang ia ulang berkali-kali...
Dan ia rajin memberi komentar notes pendekku dengan antusiasme,
dan sebuah kalimat yang sama...
"You have to write a book"

Ya, ia seperti meneguhkan kata-katanya dulu,
bahwa aku semestinya kuliah di sastra Indonesia,
atau apalah,
yang memberikan kesempatan dan waktu eksplorasi menulis buatku *aku rasa*
karena ia tak pernah berkata lebih panjang dari itu...

Entah karena aku mengagumi kecerdasannya,
kepandaiannya,
atau konsistensi komentarnya,
Aku versi dewasa tak lagi menganggapnya sebagai pelecehan,
Tapi sebagai pujian, yang menyusun dan merekonstruksi ulang hatiku yang telah hancur,
Bahwa aku cukup baik,

Dan hari itu,
Aku begitu terpukul...
atas kepergiannya yang mendadak di usia sangat muda,
seminggu lalu ia masih memberi komentar tulisan pendekku,
Sekarang mahluk pintar itu berpulang!

Dua setengah tahun berlalu,
Aku masih juga merasa kehilangan,
Begitu kehilangan sampai mematikan syarafku untuk menulis,
Kegiatan yang selalu kunikmati,
Dalam diriku masih ada rasa dan rindu yang teramat pada aktifitas ini,
namun ujung-ujung jariku terasa mati,
kepalaku terasa buntu,

Yah, semakin aku sadari,
aku kehilangan mahluk sinis pintar luar biasa itu,
aku seperti air yang berubah menjadi mendung,
namun tak juga menetes,
menggantung, melayang,
seolah reaksi fisika tak berlaku padaku,
seolah aku tak terpengaruh gravitasi bumi.

Terimakasih sahabat,
Selamat jalan,
Maafkan aku yang selama ini mendudukkanmu sebagai mahluk sinis nan sombong
Aku merutuki diri mengenang dan mengingat,
aku belum sempat berterimakasih dan mohon maaf,
atas semua julukan-julukan buruk untukmu,

Ya Allah,
Ampuni khilaf dan dosaku, serta ampuni dosa sahabatku,
Lapangkan dan terangkan kuburnya,
sertai terimalah amalannya...
Cukupkanlah usiaku untuk bertemu Idul Fitri, untuk menambah dan menabung di bulan yang penuh rahmat dan ampunanMu...







0 komentar:

Post a Comment