Breaking News

06 February, 2012

Memotret dengan hati


  Jujur, saya bukan fotografer, saya cuma penikmat foto. Barusan lihat di Tesaurus Bahasa Indonesia, fotografer artinya: juru foto, tukang potret. Artinya itu sebuah profesi, pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius untuk mendapatkan penghasilan. Abang saya yang kedua, Fendi Siregar, memang menekuni pekerjaan itu, dan menjadi sangat profesional di bidangnya. Tapi saya? Saya juga menekuni sih, tekun memotret, hehe. Kemana-mana bawa kamera, minimal kamera ponsel, maksimal kamera poket, maksimal banget kamera hybrid. Tak lebih dari itu. Lho kok? Katanya tekun, berarti Anda senang motret ‘kan? Apalagi Anda bilang bahwa Anda penikmat foto, berarti Anda suka liat foto-foto bagus, dan gemas kalau lihat hasil foto Anda kurang bagus. Kenapa cuma pake kamera sederhana?
Satu hal yang jelas, kamera dengan kualitas baik harganya pasti tidak murah. Itu baru kit, hanya tubuhnya belaka plus lensa sederhana. Kalau sudah punya DSLR, pastinya tidak rela kalau tidak menambah lensa yang juga sepadan dengan kekerenan kameranya, maka mulailah deretan pembelanjaan yang pastinya akan cukup menguras kantong karena ingin foto berkualitas baik. Padahal sebuah foto –menurut saya pribadi- adalah sebuah karakter, sebuah cerita tentang manusia, sebuah rekaman tentang perjalanan yang menjadi kenangan, kepuasan diri yang tumpah dalam karya, sebuah gambaran nyata tentang perasaan seseorang saat menekan tombol di bagian atas kamera. Dan itu semua tidak terbayar oleh jumlah uang berapa pun karena tak ternilai. Artinya, sesungguhnya siapa pun, semestinya bisa melakukan itu semua dengan kamera apapun, termasuk dengan kamera ponsel 2MP.
Aduh, tapi gak pede dong, ‘kan kurang bagus hasilnya dengan kamera sembarangan?? Nih dengar baik-baik ya. Dulu setiap kali saya jumpa Fendi Siregar, saya sodorkan kamera poket milik saya, minta tolong beliau untuk memotret saya, atau memotret anak saya, atau memotret apapun. Dan selalu terpesona melihat hasil jepretannya, padahal dia pakai kamera saya yang jauh dibawah kelas kamera-kamera miliknya. Lho kok bisa begitu? Bisa dong, kata orang, tangan yang baik akan bisa menghasilkan sesuatu yang baik dengan perangkat sesederhana apapun. Kalau dengan alat sederhana bisa bagus, dengan sendirinya hasilnya akan lebih bagus dengan perangkat berkualitas baik.
Satu contoh lain, teman saya di Facebook: Rafiqul Islam Dulal. Si baik hati ini selalu melekatkan hasil-hasil jepretannya di dinding akun saya. Foto-foto yang dijepretnya dengan menggunakan ponsel N73 dan N95 (ketika semua orang sudah tergila-gila dengan seri N8 dan Galaksi Tab, wkwkwkwk). Hasilnya? Touchy! Saya selalu senang melihatnya, tetap indah kok meski hanya kamera ponsel belaka, ada sesuatu yang khas dirinya tertuang dalam karya-karyanya. Dan sekedar tambahan, Rafiqul ini rajin “bertamu” melihat-lihat galeri kawan-kawannya, artinya dia bukan hanya ingin dipuji oleh orang lain, tapi juga tak keberatan melangkahkan kaki untuk meng-apresiasi orang lain.
Nah itulah. Saya cuma ingin membuktikan bahwa “bagus itu relatif”. Bisa bagus karena perangkat yang canggih dan mahal, bisa bagus karena kesederhanaannya, bisa bagus karena komposisinya, bisa bagus karena ekspresi obyeknya yang pas, dan saya yakin bisa bagus karena kegembiraan si pemotret pada saat menekan tombol kamera.
Seperti juga menulis, untuk mendapatkan hasil yang terbaik bukan hanya dengan otak dan tangan, tapi dengan hati. Maka menurut saya, memotret juga demikian.
Jadi gak usah minder, keluarkan ponsel kalian, keluarkan kamera poket kalian.
Mari, memotret dengan hati. Saya akan ajarkan tehniknya J







0 komentar:

Post a Comment