Breaking News

21 February, 2012

MELEPAS IMPIAN


           Hari ini kulepaskan kau dari hatiku…justru setelah kita bisa berjumpa kembali. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat untuk terus memaksakan diri menganggapmu tak ada, karena sosokmu begitu terpatri pada jiwa mudaku.
            Hadirmu yang singkat namun mengesankan mengusik lubuk hati seorang remaja usia belasan yang tengah haus kasih sayang. Caramu mendekatiku dengan senyum tulus dan tegur sapa yang sopan menunjukkan betapa berwibawanya dirimu dan sangat pantas kelak kau memanggul jajaran melati di pundak.
            Lima belas tahun yang lalu diselingi debur ombak pantai Putihdoh, Lampung . Kaki-kaki telanjang kita tak henti berlarian menyongsong senja setelah kita selesaikan bangunan istana pasir yang megah, semegah istana Buckhingham kataku bangga dan dengan lembutnya kau protes, tak usahlah sejauh itu cukup seanggun keraton Jogyakarta. Aku mengangguk, kamu mengangguk dan kita saling berpandangan, tersenyum, kemudian tertawa lepas menyadari kekanak-kanakan kita.
            Perasaan melambung, bangga, dan bahagia menyeruak begitu saja tanpa terkendali ketika hari-hari selanjutnya kulewati bersamamu. Jiwa remajaku seakan begitu cepat kau racuni dengan kedewasaan dan kelembutanmu. Saat kupandangi cermin, hampir saja aku tidak mengenali sosok diriku yang telah banyak tersentuh olehmu, ah bukan sentuhan fisik yang kumaksud karena tentu saja pemuda berbudi sepertimu tak kan pernah melakukannya. Sentuhan hati, sentuhan jiwa, dan sentuhan pemikiranmu yang dewasa sudah terlalu jauh membuat aku yang sangat muda, aku yang ceplas ceplos, aku yang cupu menjadi seorang aku yang menawan, aku yang dewasa dan mau mengerti orang lain. Ah….saktinya dirimu .
            Kebersamaan kita yang singkat sungguh kuyakini tak akan bisa hilang dari ingatanku, bagaimana tidak? Aku yang tak begitu suka cerita cinderella atau putri salju karena menyadari betapa standardnya penampilanku, ternyata sanggup kau putar balikkan semua. Berjalan di sebelah kananku, membukakan pintu kendaraan, mengambilkan makanan dan minuman di saat pesta, mengajariku berdansa, dan memberikan kado mungil ketika akan pamit saat mengantar pulang. Semua kau lakukan dengan sangat sempurna dan dengan senyum manis yang tetap tersungging sepanjang waktu. Hati gadis mana yang tidak akan terpikat dan memujamu dengan semua perlakuan istimewamu itu wahai pemuda?
            Hari demi hari kulalui dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan sejuta kata-kata sampai suatu saat aku menyadari bahwa semua cerita indah itu harus berakhir. Yah, harus berakhir memang justru bukan karena dirimu yang telah berubah tetapi karena ternyata keadaanku yang tak mungkin meneruskannya. Pemuda dengan profesi sepertimu harus mendapatkan pendamping yang sepadan dan tentu saja dari keluarga yang bisa dibanggakan. Sedangkan aku….tidak ada yang salah memang dengan diriku dan aku mensyukuri semua yang kudapat dan kualami, tetapi kali ini logikaku harus jalan bahwa aku harus menjauh darimu. Ibu yang sangat kusayangi dengan segenap hati dan jiwaku adalah seorang Schizophrenia, pengidap salah satu jenis gangguan jiwa akut. Aku tak bisa berterus terang padamu, aku tak berani kecewa karena pasti kamu akan meninggalkanku . Seringkali aku mendengar cerita sendu tentang calon istri perwira sepertimu yang harus rela mundur setelah gagal dianggap sepadan oleh lembaga profesimu.
            Lima belas tahun telah berlalu, dan aku telah bahagia dengan keluargaku. Suami yang tulus menyayangiku dengan apa adanya diri serta keluargaku. Anak-anak kami yang sehat, lucu, dan pintar. Dua hal yang bisa mengikis habis keberadaanmu dari hatiku meski masih tersisa setitik kekaguman pada sosok sempurnamu sampai suatu saat kudapati permintaan teman di facebook darimu, ya benar dari masa lalu yang indah itu. Bukan untuk membuka lembaran lama memang tapi untuk bercerita tentang  keluarga masing-masing dan percayalah….seketika itu juga aku benar-benar bisa melepaskanmu dari hatiku karena kutahu kamu juga berbahagia sepertiku bersama istri dan anak-anakmu.

                                                                       TAMAT

0 komentar:

Post a Comment