Breaking News

15 February, 2012

Masa Mengidam yang Aduhai



Ditujukan untuk mba Navita Kristi Astuti
Semoga terpakai, maaf kalau terlalu panjang. Kalaupun tidak terpakai, sekalian mejeng saja di sini dan berbagi dengan ibu2 yang lain :)

Sebelum hamil, aku mungkin salah satu perempuan yang salah kaprah tentang apa itu ‘ngidam’ pada ibu hamil. Yang aku tahu bila seorang ibu hamil mengalami ‘ngidam’ itu artinya si ibu sedang menginginkan sesuatu dan biasanya harus segera dikabulkan, walaupun permintaannya terkadang tidak masuk akal dan waktunya tidak tepat. Misalnya, ingin makan jambu monyet di tengah malam. Mau beli dimana coba? Belum lagi kalau lagi tidak musim? Haduh, sang suami pasti kalang kabut mencari. Tapi ternyata, mengidam tidak sesederhana itu. Saat tahu aku sedang hamil, aku mulai mencari-cari informasi tentang apa saja yang dialami oleh seorang ibu di masa kehamilannya. Dari situ aku tahu bahwa mengidam tidak sesederhana itu. Ternyata, cakupan mengidam itu sangat luas. Sederhananya, mengidam itu adalah masa dimana seorang ibu hamil mulai mengalami perubahan—yang biasanya tidak mengenakkan—yang biasa dialami di trimester pertamanya. Bisa mual, muntah, pusing jika mencium bau sesuatu atau gejala-gejala lain yang. Dan aku termasuk salah seorang perempuan yang mengalami masa mengidam yang cukup mengganggu.

Saat pertama kali mengetahui aku hamil, tentunya senangnya bukan kepalang. Apalagi setelah tahu aku mengandung bayi kembar. Saat itu suamiku tinggal di depok dan aku tinggal di bandung. Kehamilanku awalnya lancar-lancar saja. Menjelang usia kehamilan dua bulan, indera penciumanku mulai sensitif dengan bau-bauan, yang padahal sebelum hamil tidak menjadi masalah bagiku, seperti bau bawang goreng. Aku mulai sering merasa mual, mulai sulit makan. Kucoba menikmati pengalaman itu. Lagipula yang kubaca, jika ibu hamil mengalami mual muntah, itu artinya hormon kehamilannya bagus. Jadi, aku tidak terlalu merasa cemas. Aku pikir hal itu tidak akan berlangsung lama. Tapi lambat laun, aku semakin merasa tersiksa melalui masa kehamilan. Lama-lama aku makin sulit makan, gampang mual, minum air putih pun muntah. Melihat nasi saja aku sudah bergidik. Memasuki bulan ketiga, pilihan menu yang bisa kumakan dan kuminum mulai menyempit. Aku hanya bisa makan buah semangka. Tok, itu saja yang bisa kumakan hingga memasuki bulan keempat. Saat-saat seperti itu aku jadi berpikir, “Apapun akan kumakan jika aku tidak merasa mual menciumnya, daripada tidak makan sama sekali.” Pernah suatu saat aku melihat ada liputan tentang keripik singkong balado khas kota Padang dan tiba-tiba aku mengingkannya. Dua hari kemudian kiriman keripik datang dan kumakan dengan lahap karena dengan memakannya aku tidak merasakan mual. Keripik aku makan dengan lahap walau pada akhirnya sama saja seperti makanan yang lain… berakhir di kamar mandi setelah aku muntahkan tidak lama kemudian. Duh, frustasi rasanya. Nafsu untuk makan ada tapi tubuh tidak mendukung. Apalagi sebelum hamil aku termasuk orang yang tidak berpantang-pantang dalam hal makan. Apa saja kumakan asal aku suka. Jam 10 malam pun jika aku lapar aku akan makan.

Puncaknya adalah saat aku menjalani chek up bulanan, yang biasa kujalani sendiri karena suamiku bekerja di luar kota. Seperti biasa, jumat pagi itu aku berencana mengunjungi dokter kandunganku di salah satu rumah bersalin di bilangan Margahayu Bandung dengan mengendarai motorku sendiri, karena setelah chek up, aku akan langsung pergi bekerja dan pergi ke kantorku yang berada di daerah Buah Batu Bandung. Oh iya, selama hamil, aku masih mengendarai motorku sendiri bila akan berangkat ke kantor. Logikaku, daripada naik angkot yang suka tiba-tiba berhenti atau tidak kita tahu kapan akan melewati jalan berlubang, lebih baik aku mengendarai motorku sendiri karena aku bisa mengantisipasi jalan yang jelek dengan berjalan perlahan atau duduk setengah berdiri saat melewati polisi tidur. Walau kadang aku merasa pusing di jalan, tapi masih bisa kutahan. Sebelum memasuki ruang praktek, seperti biasa suster memeriksa tensi dan berat badanku. Hasilnya? Tensiku normal walau sudah memasuki rendah, dan berat badanku turun. Aku lupa berapa, yang pasti jika dijumlahkan dengan berat badan yang turun saat kehamilan umur tiga bulan, berat badanku turun hingga 8 kg. Ya ampun, banyak banget! Setelah dokter memeriksaku, dia berkata aku harus chek lab untuk memastikan apakah aku harus diopname atau tidak.Alamak, aku harus diopname? seumur-umur aku belum pernah diopname atau dirawat di rumah sakit. Ya sudah. Aku pun langsung pergi ke lab yang ada dekat rumah bersalin dan menunggu hasilnya. Setelah itu, aku kembali menemui dokter, dan setelah melihat hasil lab dia mengatakan aku harus diopname saat itu juga karena aku kekurangan nutrisi dan ada benda asing yang terlihat dari tes urinku. Saat itu juga aku diinfus dan harus bedrest selama dua hari. Semua administrasi aku urus sendiri: mulai dari memilih ruangan, mengisi formulir, tidak lupa memastikan motorku sudah aman di tempat parkir karena akan berada di sana untuk dua hari ke depan.

Tadinya aku sangat menolak untuk diopname, mengingat biayanya yang tidak sedikit. Tapi mau tak mau aku menuruti saran dokter karena aku berpikir ini baik untuk bayi kembar yang ada dalam kandunganku. Sepertinya merekalah alasan mengapa aku mengalami masa mengidam yang cukup sulit. Tapi tak mengapa. Saat kupikir aku mengalami masa kehamilan yang sulit, aku berusaha mengingat bahwa ada ibu hamil yang mengalami masa kehamilan yang lebih parah dariku, harus bedrest bahkan selama beberapa bulan karena kandungannya yang lemah misalnya. Dibandingkan dengan perjuangan mereka, perjuanganku mendapatkan bayi tidak ada artinya. Itu yang membesarkan hatiku. Dan ternyata, selama diopname, aku bisa makan dengan lahap. Apa karena makanannya yang enak atau karena aku diberi vitamin yang bisa mengurangi mual muntahku ya? Yang pasti semua makanan yang disediakan rumah sakit aku makan. Ya iyalah, sayang dong, udah bayar mahal gitu lho :)



0 komentar:

Post a Comment