Breaking News

22 February, 2012

Mari Memikirkan Sebuah Nama (reposted from notes 22-11-2010)

2001, saya dan suami mengunjungi seorang kerabat yang istrinya baru melahirkan anak pertama mereka. Setelah berbasa-basi sana-sini, kami pun menanyakan siapakah nama putri mereka yang pertama itu.


“Namanya, Adinda Salwa Nurhatami Jufri ..”

Wow, alangkah indahnya nama itu, pikir saya. Nama belakang tentu yang dimaksud adalah nama si ayah. Adinda dan Salwa juga bukan nama yang aneh, terbilang banyak sudah orang menamai anaknya dengan nama seperti itu. Bagaimana dengan Nurhatami? Suami saya berpendapat seharusnya penulisannya “nurkhatami” karena ia ingat dengan kata “khatam”. Namun sang kerabat mengatakan “Engga kok, Nurhatami ..”

Ketika kami menanyakan apa artinya, dengan wajah tetap datar ia menjawab,
“Nur itu ‘cahaya’, nah kalo ‘Hatami’ singkatan dari “Hasil-Cinta-Kami”

Jika saja lengan suami tidak menyodok siku saya, mungkin tawa saya sudah meledak.
Ow .. ow .. indahnya menamai anak dengan sepenuh hati. (*senyum*)

Tapi itu belum selesai, karena si kerabat kemudian mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka ingin menamai si anak “BUCHERI” namun karena takut sama dengan merek sepatu, akhirnya nama itupun urung mereka berikan. Loh, memangnya kalo Bucheri artinya apa?

“Kalo itu sih .. singkatan dari “Buah-Cinta-Heri-dan-Popi”

Huahahahahaha.

Bertahun-tahun kemudian, baru sesiangan ini saya menceritakan kisah ini pada murid-murid saya yang selalu setia menanti ‘dongeng-sebelum-bobo-di-sela-pelajaran’. Saya katakan bahwa mau-tidak-mau, kita sebagai orang Indonesia memang senang sekali dengan yang namanya akronim atau singkatan. 

Contoh peristiwa di atas adalah yang paling sering terjadi. Orangtua, karena satu dan lain hal memutuskan menamai anak mereka dengan memadukan nama mereka berdua, atau memadukan peristiwa tertentu yang dianggap penting pada saat kelahiran si anak.

Seorang rekan saya di sekolah dianugerahi nama “Nurma Gerhanawati”. Tentu saja dari namanya kita tahu bahwa ia tidak lahir di musim kemarau, melainkan pada saat peristiwa bersejarah, yaitu gerhana (entah gerhana bulan atau matahari).

Teman saya yang lain, diberi nama Gini Gustiniwati. Dari namanya kita tahu bahwa ia pasti berasal dari etnis Sunda (yang sangat suka sekali mengulang kata). Sehingga seandainya orangtua saya konsisten dengan ke-sunda-an mereka, nama saya seharusnya adalah Irma Surirma, begitu. Nah, Gini dinamai begitu karena ayahnya berprofesi sebagai Ginekolog; atau dokter kandungan, hingga beliau menyematkan ke-profesian-nya itu ke nama sang anak. Sementara dua orang kakak Gini; diberikan nama Dera (desember-akhir) dan Demi Luna (karena lahir pas bulan sabit). Unik sekali bukan?

Di masyarakat Minang (yang konon merupakan etnis yang paling suka dengan singkatan), banyak ditemui nama anak ELIS. Ini juga singkatan, dari Engkau-Lahir-Ibu-Selamat. Sungguh merupakan kebanggaan dan kebahagiaan yang terasa dari sini, melambangkan cinta sejati seorang ibu.

Seorang teman kuliah saya, orangtuanya memiliki tiga orang anak. Anak pertama (yang merupakan teman saya tersebut) mereka berikan nama “Firstiany”, karena ia merupakan anak pertama. Sang nomor dua memperoleh nama “Deuxianto” (deux berasal dari bahasa Prancis, yang artinya ‘dua’), dan si bungsu bernama “Triana”.  Dulu saya sempat juga dapat ilham untuk menamai anak-anak saya dengan urutan seperti itu. Atau dengan urutan abjad seperti yang dilakukan salah seorang guru SMA saya. Guru SMA saya (Pak Agus) mempunyai 7 orang anak (kalau tidak salah) dan menamainya sesuai dengan alphabet; Abdi, Bakti, Cinta, Dian … dan seterusnya. Namun entah kenapa ilham luar biasa itu tak pernah benar-benar saya wujudkan.

Seorang teman di SD (dan SMP), bernama Perdamaian Sitompul. Mungkin orangtuanya berharap bahwa Ucok (panggilanku padanya) akan menjadi anak yang akan selalu membawa kedamaian pada sesamanya. Dan Alhamdulillah memang Ucok anak yang baik, pintar dan sabar. Terbukti kan memberi nama itu juga berarti memberikan doa.

Ada juga orangtua yang memberikan nama dengan menyematkan tanggal lahir si anak. Seorang rekan guru di sekolah memiliki nama “Dwi Eko Windu“ karena ia lahir pada tanggal 21 Agustus (Dwi=dua; Eko=satu; Windu=(bulan ke-)8). Alhamdulillah kami selalu ingat kapan Pak Eko ulangtahun karena namanya itu.

Nina adalah murid saya di sebuah tempat kursus dulu. Ia pernah bercerita mengapa ia diberikan nama seperti itu. Nina berarti “ditungguan-ku-nini-na” artinya ketika Nina lahir, sang nenek-lah yang rajin menunggui ibunya yang mau melahirkan. Luar biasa kan, padahal saya pikir Nina nama yang sangat umum, tapi ternyata di tangan orangtua yang penuh cinta; nama itu menjadi luar biasa.

Seorang" Meiryo" (rekan kuliah saya) dinamai begitu diambil dari bahasa Jepang (kalau tidak salah) yang artinya 'kenyataan yang jernih. Sementara "Alver" (rekan lainnya) diambil dari entah bahasa apa (saya lupa) yang artinya (kalau tidak salah) kebijakan. Juga "Dewi Sofia" yang jelas-jelas merupakan Dewi kebijaksanaan.

Dan berbeda dengan orang dari belahan dunia Barat, yang cenderung seperti yang ‘asal’ saja memberikan nama  misalnya’ John lagi, atau Jack lagi atau Stephanie lagi. Orang Indonesia (kebanyakan) sangat senang memberikan nama yang sudah mereka pikirkan dan mereka rancang dengan indah. Di masyarakat Sunda malah ada budaya “ngabubur beureum-bubur bodas” yang dilakukan setelah si anak mendapat nama yang baik. Adakala ketika si anak sering menderita sakit berkepanjangan atau kenakalannya sudah kelewatan, orangtua serta merta mengganti nama anak mereka dengan nama lain karena takut ‘namanya terlalu berat’ dan melalui nama yang baru, mereka berharap si anak akan jadi lebih baik lagi.

Juga berbeda dengan orang Arab (misalnya) yang hanya memperoleh sebuah nama depan diikuti oleh “bin” atau ‘binti” saja; orang Indonesia (termasuk saya) cenderung senang memberikan nama yang panjang, biasanya lebih dari dua kata kepada anaknya. Sehingga sering saya temui orang-orang yang memiliki nama panjang sekali hingga saya harus berpikir bagaimana namanya akan muat di STTB atau di lembar jawaban UN yang bulatannya mungkin tidak sepanjang itu.

Anyway, ketika Shakespeare mengatakan “What’s in the name?” saya pikir Shakespeare keburu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum sempat berkunjung ke Indonesia, karena tidak seperti Obama yang mengatakan “Pulang kampung niih ..” maka mungkin Mbah Shakespeare akan berkata “A name means everything ..” (Hebat kan orang Indonesia)

Maka berilah nama yang baik bagi anak-anak kita, dan berperilakulah baik sesuai dengan nama yang diberikan orangtua kepada kita.

salam :)







Bingung

BINGUNG

Malam sekali pokoknya… Entah jam berapa…

+ : “hai jo... Ada yg menarik tadi siang. Waktu aku lagi liat ada anak belajar berhitung di sekolah”

- : “Gitu ya... Apa menariknya han?”

+ : “Gurunya ngasih contoh begini, misalnya untuk soal penambahan 8+7, guru itu      mengajarkan seperti ini, 8 di simpan di mulut, dan 7 disimpan di tangan. Seraya memperlihatkan seluruh jarinya dan menekuk tiga jari tangan kanannya. Kemudian menghitung jari yg teracung 9,10,11... 15. Jadi jumlahnya lima belas. Begitulah sang guru mengakhiri penjelasannya.”

- : “ Lalu, kenapa? Bener khan?”

+ : “ Ya emang bener… Tapi si anak ini yang menarik. Sepertinya dia udah punya cara lain jo. Tapi sayang, sepertinya  dia belum mahir, jadi jawabannya salah. Pas disuruh memperagakan angka dengan jarinya, ia menunjukkan 3 jarinya untuk angka 8, 2 jarinya untuk angka 7. Si guru menebak bahwa anak ini sudah diajarkan jarimatika. Aku juga menebak, mungkin dia melakukan perhitungan lima lima seperti yang aku lakukan…”

- : “ Gak ditanyain ke si anak dia diajarinnya gimana?”

+ : “ Hehehe… Iya ya… Sayangnya enggak, waktu itu kami hanya menanyakan siapa yang ngajarin. “

+ : ” Di sini si anak kayaknya bingung jo. Mungkin karena beralih dari cara satu ke cara yang lain. Tapi konsep nilai dia dah ngerti jo. Kalo angka-angka itu dilambangkan dengan gambar (gambar delapan nanas di tambah tujuh nanas), dia mudeng. Karena mungkin lebih nyata kali.”

Beberapa saat kemudian diam…

Akunya haus soalnya, mau minum dulu…

+ : “Sebenernya cara dari sang guru tak begitu sulit, bahkan lebih dekat dengan cara pelambangan angka dengan gambar khan… Tapi dia mungkin sudah terjebak dengan cara yg lain… Jadi susah switchnya…”

Hmmmm…. Ada banyak cara berhitung… Semoga tidak  hanya menghafalkan cara, tanpa tahu bagaimana cara itu bisa menghasilkan kebenaran… pikirku dalam hati…

Hoammmm… Ku lihat bojoku sudah menguap… “Ya udah jo… tidur yuks…” ajak ku…

Sebelum tidur, aku masih memikirkan peristiwa tadi siang itu… Ingin rasanya menemukan dan menyebarkan missing link itu. Missing link yang menjadi jembatan konsep dasar berhitung dengan cara cepat berhitung… Agar mereka tak hanya menghafalkan cara, tapi memahami keindahan ide dimana cara itu terfikirkan…