Breaking News

16 February, 2012

Mangenang Masa Lalu.........


  Gak banyak teman  kuliah yang tahu, masa lalu yang sulit  sudah kulewati, asam asam manis....untuk diceritakan kepada anak cucu kelak, untuk menebar semangat pada anak-anakku, siswa-siswiku.... bahwa kesulitan hidup bukanlah alasan untuk putus sekolah.
         Selepas SMU aku diterima melalui jalur PPA, menjadi guru  Matematika memang sudah bulat kucita-citakan. Walaupun Papa  ku tidaklah terlalu setuju aku kuliah, betapa tidak dia baru saja menyelesaikan  teh  cica kuliah akper, langsung nyambung aku. Bukan apa-apa kami memang miskin bahkan boleh dibilang teramat miskin waktu itu, rumah tak punya hanya menumpang numpang di rumah kakak yang paling tua, tak punya tanah kebun dan juga pekerjaan. Haruskah aku menyalahkan kepindahan papa dari tapanuli selatan Yang sudah mulai mapan untuk merantau ke bengkulu????
        Aku memang sangat tergesa menyelesaikan kuliah, harus begitu karena tiap bayar SPP papaku harus ngutang pada mak noan dan dibayar 10 bulan dengan bunga yang selangit, belum selesai semester kemarin semester berikutnya sudah menyusul, belum lagi biaya kos, uang makan , poto kopi dan lain-lain. Allah........... setiap mau bayar SPP rasa tersedak tenggorokanku. Tidak...pernah terbersit untuk membeli pakaian yang cukup pantas untuk kuliah, demi bisa tetap bertahan. Tapi syukurlah Allah maha tau, aku(kita) banyak dapat besiswa, sehingga terbantulah keuanganku.
       Setiap minggu aku pulang ke rumah tetehku mengajar ngaji dengan mendapat bayaran 2.500 perbulan, aku mengajar anak-anak tetangga dan ponakan aku, kurang lebih sekitar 6 orang, lalu uang beasiswapun aku putarkan. aku belikan bahan -bahan pakaian lalu kujualkan di dusun. Tapi karena tak ada biaya makan jualan pun termakan modal.Susah lagi deh....Padahal teman teman kuliah yang kirimannya 250.000 ribu sebulan aja masih bingung ngaturnya. Kalau libur tiba, disaat teman-teman ngambil SP, aku sibuk merumput di lahan perkebunan karet dengan upah 5000 perhari. Aku ingat betul aku harus bekerja dari jam setengah delapan sampai jam lima sore, biasanya terkumpul uang sampai 80.000.
       Tidak, aku tidak iri sedikitpun dengan kelebihan teman teman ku, yang bisa makan enak setiap hari dikos-kosan, bisa gonta ganti jilbab terbaru, baju model baru......dan lainnya, Tapi kemiskinan ini membakarku..........satu isi kepalaku  "aku harus keluar dari kemiskinan".

         Mulai Semester 6 aku sudah mulai nge les anak pak Nur guru SMP 7 dan anak Pak Buyung, aku jadi punya masukan tetap  tiap bulan, hmmmm.... gajiku waktu itu 70 ribu dan 20 ribu. aku memang harus cepat tamat, kalau tidak...maka bener-bener tdak selesai. Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku, dengan tekad kuat aku selesai juga, barengan susi,taslim,Ellyan dan mariska, 3 tahun 10 bulan kami tempuh, 24 April 2002.........gelar sarjana resmi disematkan dibelakang namaku. Tapi semua belum selesai, selepas wisuda, aku ditinggali uang saku 5000 rupiah, bermodal pekerjaan sebagai guru les akupun masukkan lamaran-lamaran kesekolah, akupun akhirnya mengajar di SMK N 1 selama 3 tahun dan juga di Pesantren Pancasila, sampai akhirnya aku diangkat setelah kurang lebih3  tahun honor dan mengajar sampai 50 jam.  Kemiskinan perlahan menjauh dariku, dan  mulai kutularkan pada keluarga dan ponakan-ponakan ku. Sekarang aku tidak terlalu susah lagi kalau sesekali ingin makan enak........ atau sesekali ingin punya baju bagus, he...he... Dan teman.......... selama dalam periode kesusahan ku aku gak pernah namanya menghutang sekecil apapun gajiku, kecuali pada mak noan untuk bayar SPP. Ini sangatlah berbeda  dibandingkan dengan kisah teman-teman, yang melewati masa indah di kampus tercinta dan menyongsong  masa depan yang gemilang............... Semua ini tinggal masa lalu, semoga tidak terulang pada generasi-generasi setelah aku..... Kehidupan kami sekarang sudah mapan, Insa Allah karena kehendak Allah semata dan kerja keras diiringi doa.

0 komentar:

Post a Comment