Breaking News

09 February, 2012

MANFAAT KAMUS BAGI PENULIS




Artikel oleh Octaviana Dina

Hutan terbangun dari nidera. Halimun menghirap dalam sinau mentari. Seekor kekah mengerising menatap sambang yang tergantung sendirian pada lengan petaling. Dari kejauhan, terdengar nyanyian silampukau...”

Sebagian kata-kata dalam paragraf di atas barangkali tak kita pahami artinya. Kata-kata tersebut memang jarang digunakan dalam bahasa yang umumnya kita pakai sehari-hari. Namun jika kita sering membuka-buka kamus, pasti kita kata-kata tersebut tak asing.
Bagi kaum penulis, kamus merupakan buku yang penting. Setidaknya, penulis harus sering-sering menelusuri dan membaca kamus. Mengapa? Sebab kamus adalah markas besar kata-kata. Segenap kata-kata yang diketahui dan diakui dalam khazanah suatu bahasa berhimpun dan berdomisili di dalam kamus. Tentu saja, kamus yang dibicarakan di sini adalah kamus yang lengkap seperti misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka. Sementara, kata-kata adalah senjata kaum penulis. Ide sehebat apa pun atau inspirasi sebesar apa pun tak akan punya arti tanpa kehadiran kata-kata. Tanpa kata-kata, ide atau inspirasi tak ubah bak bayangan gelap yang menghantui benak. Hanya mengganggu, tanpa manfaat. Ide maupun inspirasi harus dipintal menjadi kata-kata, dijalin ke dalam kalimat, lalu ditenun menjadi lembaran pesan yang disampaikan kepada pembaca.

Memang,  kamus lengkap seperti KBBI itu harganya tergolong mahal. Tak semua penulis mampu membelinya. Namun hal itu tidak perlu menjadi kendala. Toh kita bisa membacanya di perpustakaan. Atau, jika kita berniat memilikinya tapi dengan dana terbatas, kita mungkin bisa mencarinya dan memperolehnya dengan harga miring di tempat penjualan buku seken.
 Bagi saya, membaca kamus tak ubahnya laksana menjelajahi kebun raya kata-kata di mana saya kerap dibuat berhenti sejenak untuk takjub menikmati setiap kata yang baru pertama kali saya temui. Ada beragam kata-kata yang eksotis, yang terdengar begitu puitis saat dilafalkan. Kata-kata yang indah untuk dirangkai jadi puisi. Barangkali, para penyair adalah orang-orang yang paling rajin menimba kata-kata dari dalam kamus. Ada berlaksa kata-kata yang menyampaikan pencerahan, yang memperluas cakrawala wawasan pengetahuan.

Membaca kamus membantu penulis menjadi kreatif. Alih-alih menuliskan “Pohon cemara itu meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan ditiup angin”, kita bisa menulisnya menjadi “Pohon cemara itu melayah ditiup angin”. Seorang penulis sudah selayaknya senantiasa memperkaya kosa katanya agar ia tidak menjadi penulis yang miskin dalam variasi bahasa. Membaca kamus akan menolong penulis menjadi kaya dalam perbendaharaan kata.

Kekuatan seorang penulis terletak pada kata-katanya. Kata-kata yang dipilih dengan seksama dan dirangkai dengan cermat akan menghasilkan kekuatan tak terduga. Seorang penulis dituntut untuk selalu memikirkan pilihan kata-katanya. Penulis harus mencari dan menggunakan kata-kata yang bertenaga agar tulisannya menjadi kuat dan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca. Ia juga harus berusaha sejauh mungkin menghindari kata-kata atau frasa atau kalimat usang yang sudah terlalu banyak dipakai orang sehingga tak lagi menarik perhatian.

Kamus menyediakan begitu banyak kata untuk dipilih dan dipergunakan. Namun demikian, penulis juga tidak boleh asal pilih tanpa mengetahui latar belakang kata yang akan dipakainya.  Setiap kata dalam kamus memiliki asal-usulnya (etimologi) sendiri dan sebagian telah mengalami perubahan makna sehingga penulis harus berhati-hati. Sebagai contoh, kata ‘kakek’, ‘aki’, dan ‘opa’ merupakan kata yang lazim dipakai untuk menyebut orangtua laki-laki ayah kita. Namun pada pemakaiannya, kita tak bisa sembarangan. Misalnya, kita membuat cerita di mana ada tokoh kakek yang berasal dari etnis Sunda tengah berbicara dengan cucunya. Pada konteks ini kita tak bisa memakai kata ‘opa’ dalam kalimat ujaran tokoh cucu untuk memanggil sang kakek. Sebab kata ‘opa’ tidak lazim dipakai masyarakat etnis Sunda untuk menyebut kakek. Kata ‘aki’ lah yang seharusnya kita pakai. Contoh lainnya, perhatikan ketiga kalimat di bawah ini.

Perempuan itu tengah mengandung tiga bulan.
Perempuan itu tengah hamil tiga bulan.
Perempuan itu tengah bunting tiga bulan.

Kata ‘mengandung’, ‘hamil’, dan ‘bunting’ adalah kata-kata yang serupa tetapi tak sama. Di antara ketiganya, kata ‘hamil’ adalah yang paling umum dan bermakna denotatif, yakni tak memuat perasaan  tambahan (asosiasi) lain. Kata ‘mengandung’ terasa lebih formal dan sopan, sementara kata ‘bunting’ justru sebaliknya.

Membaca kamus juga membantu mengingatkan penulis untuk bersetia pada ortografi, yaitu aturan  ejaan yang benar. Kita seringkali lupa membubuhkan garis hubung satu (-) pada pengulangan kata seperti ‘centang-perenang’, ‘susul-menyusul’, ‘mondar-mandir’, ‘bintang-bintang’, dan sebagainya. Kita terkadang keliru menuliskan, misalnya, ‘di antara’ menjadi ‘diantara’  , “di mana’ menjadi ‘dimana’, atau ‘di atas’ menjadi ‘diatas’ (tanpa spasi). Kita juga tak jarang ragu-ragu memilih menulis antara, misalnya, ‘mencampuradukkan’ ataukah ‘mencampur adukkan’, antara ‘kasatmata’ ataukah ‘kasat mata’ (dengan spasi), dan seterusnya.  Kamus akan memandu penulis menemukan jalan yang benar.

Kamus memperbesar otoritas penulis atas kata-kata. Timbunan kata-kata dalam kamus membuat penulis leluasa dan berkuasa penuh menentukan kata-kata mana yang hendak digunakannya sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan pada publik pembacanya.
Kata-kata yang merimbun dalam kamus melarungkan pesan bagi kaum penulis: “Kami menanti engkau mengangkat kami untuk bicara dan berarti. Kami menunggu engkau memilih, agar tak selamanya kami mendekam dalam diam”.

***

1 komentar:

Yunniadiah said...

aahhh makasih infonya.... Betul juga ya, dengan membuka kamus maka bahasa yang dipakai menjadi kaya,berwarna, dan lebih menarik untuk dibaca.

Post a Comment