Breaking News

16 February, 2012

MAMAHKU BHINNEKA TUNGGAL IKA


 By Bu Lan  

MAMAHKU BHINNEKA TUNGGAL IKA
oleh : Bu Lan

Aku merasa kalau mamahku termasuk salah satu  mamah  yang pantas mendapat gelar sebagai “Mamah  Gokil”. Sehari-hari kami anak-anaknya biasa memanggilnya “Mamah”. Bahkan anak-anak tetangga juga ikut-ikutan panggil “Mamah”, begitu juga dengan orang tua anak-anak tetangga, mereka juga ikut-ikutan panggil “Mamah”. Aku jadi geli kalau ingat ini....

Ini semua ada sebabnya. Dulu, di kampung kami mamah adalah orang yang pertama kali dipanggil “Mamah” oleh anak-anaknya, sedangkan anak-anak yang lain memanggil emaknya dengan sebutan “Ibuk” atau “Buk’e”. Dan meskipun beberapa tahun kemudian datang penduduk baru yang dipanggil “Mamah” oleh anak-anaknya, tapi mamah tetaplah mamah orang sekampung.

Mamah sebenarnya orang Jawa asli, tapi karena menikah dengan papah kami yang pria keturunan Cina, maka mamah dipanggil “Mamah”. Meskipun demikian mamah tetaplah orang yang sederhana, rendah hati, lugu, terkadang begitu lucu dan gokil. Kami anak-anaknya sering geli dengan tingkah laku mamah.

Suatu hari sepulang sekolah, adik laki-lakiku sibuk mencari kelerengnya.
“Kamu nyari apa sih Sin, kok tingak-tinguk gitu?” mamahku yang sedang sibuk menjahit penasaran dengan kebingungan adikku.

“Nyari kelerengku yang gede ,Mah. Tu, aku dah ditunggu Doni, mau diajak main,” kata adikku.

“Udah deh Sin, gak sah dicari,” sahut mamahku cuek sambil masih sibuk menjahit.

“Emang kenapa to, Mah?” aku jadi ikut-ikutan penasaran.

“Gak papa sih, tapi tu kelerengnya udah hancur lebur, tadi mamah pukulin pakai pukul besi...” Mamahku menjawab tanpa rasa berdosa. Aku dan adikku spontan memandang mamah dengan pandangan bertanya yang aneh.
Yang dipandang merasa, yang memandang tertawa, “Xi xi xi...”

“Gak papa to ya, tadi mamah itu penasaran, kelereng kok bagus banget, mamah pikir di dalamnya ada mainan apa gitu, kok warna-warni, ternyata di dalamnya juga beling. Udah Sin, gak papa ya, kamu maen pakai kelereng yang lain aja, ntar kalo mamah dapat ongkos jahitan kamu tak beliin kelereng lagi ya.” Mamahku menjawab panjang lebar sembari menghibur-hibur adikku.
Yang dihibur-hibur gak nggagas, malah ketawa geli berlalu meninggalkan mamah. Main kelereng sama Doni.

Aku sendiri juga ikut ngakak..”Mamah... mamah...”

Menjelang imlek, berbulan-bulan sebelumnya, mamah sudah heboh menabung. Uang hasil menjahit disisihkannya sedikit demi sedikit, tak lain dan tak bukan tujuannya adalah, bila uang itu sudah terkumpul mamah akan beli banyak kue ranjang untuk dibagi-bagikan pada tetangga. Bahkan untuk mencapai tujuannya yang mulia itu, mamah rela lembur habis-habisan siang malam, tidur cuma empat atau lima jam sehari. Aku sering tidak tega. Di saat-saat seperti itu, setiap malam aku selalu berusaha menemani mamah. Tapi kenyataannya aku malah lebih sering ketiduran di kursi. (Hi hi.. gak pa lah, yang penting dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah punya itikad yang baik ya... *membaladiri.com*)

“Udah deh Mah, gak usah ngongso gitu to, semampunya aja. Kalau gak punya uang ya gak sah ngasih kue ranjang ke tetangga kan juga gak papa to?” bujukku pada mamah.

“Husshh.. kamu tu gimana to Wuk, kalau imlek tu ya identiknya sama kue ranjang. Kalau bukan kita, ntar siapa yang bakal kasih kue ranjang ke tetangga? Kalau tempatnya Nonik kan gak mungkin, wong orangnya pelit gitu..?” sahut mamah.

Benar juga kata mamah. Di kampung kami, saat itu hanya dua keluarga yang merayakan imlek, yaitu keluarga kami dan keluarga Nonik. Tapi orang tua Nonik tidak akan mau bagi-bagi kue ranjang untuk tetangga. Meskipun kaya tapi pelitnya minta ampun. Mamah dan papahku ekonominya pas-pasan tapi juga tidak pelit seperti itu. Aku sering merasa bersyukur punya mamah dan papah seperti mereka. Dari mereka aku jadi mengerti bahwa beramal itu tak perlu menunggu kita kaya dulu. Asal ada kemauan dan niat, kita pasti bisa melakukannya.

Kebiasaan mamah bagi-bagi kue ranjang sudah jadi tradisi selama bertahun-tahun. Sudah pasti setiap Imlek para tetangga selalu menanti-nanti kue ranjang dari mamah. Kalau sudah gitu, mamah jadi ke GR an, bangga setengah mati karena merasa berarti.

“Tu... tetangga suka to, ma kue ranjang pemberianku..,” katanya.

“Ya jelas sukalah, wong barang gratisan kok,” sahutku. Tentu saja sambil tersenyum geli melihat ekspresi mamah.

Namun, sekali lagi ajaran mamah terbukti, bahwa setiap kali kita menanam kebaikan, pasti kebaikan yang lain akan datang dengan sendirinya.

Atas kepedulian mamah terhadap para tetangga, setiap tahun mamah mendapatkan “pembalasan”.
Saat lebaran, para tetangga berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuk mamah. Berbagai macam makanan khas lebaran memenuhi meja makan dan meja tamu kami. Mulai makanan kecil, kue-kue kering, kue-kue basah, opor ayam, ketupat, kacang-goreng, krupuk dan banyak lagi. Bahkan tak jarang para tetangga memberi kami menu yang sama.  Kedobelan...

“Ya sudah, diterima saja, orang memberi kita dengan itikad baik, kita juga harus menerimanya dengan baik,” begitu kata mamah.

Banjir hadiah seperti ini juga berlaku saat hari raya kurban. Aneka menu bernuansa daging kambing dan daging sapi sudah pasti menghiasi meja kami. Ini semua karena ada beberapa tetangga yang mengirimkan daging untuk mamah.

Juga bila ada tetangga bepergian, entah ke luar kota, ke luar negri, atau ada sanak saudara tetangga yang berkunjung, sudah pasti mamah akan “kecipratan” oleh-olehnya.

Aku sebagai anak mamah sering tertawa sendiri, rasanya bahagia punya ibu seperti “Sinter   Klas.”Mamah suka menolong  dan memberi pada tetangga. Mamah itu bisa berteman dengan siapa saja, baik orang tua, orang muda maupun anak-anak. Baik orang kaya, orang miskin maupun orang sedang. Pokoknya mamah tidak memandang SARA. Mamah itu Bhinneka Tunggal Ika, begitulah mamah sering menjuluki dirinya sendiri.

Makanya, mamah mau menikah sama papah, yang WNI keturunan Cina. Jadinya aku ini anak yang punya dua sisi kehidupan. Bagaimana tidak? Orang tua mamah, yang kupanggil “Mbah kakung” dan “Mbah Putri” itu asli dari ndeso, rumahnya di pinggiran waduk Kedung Ombo. Sedangkan orang tua dari papah, yang kupanggil “Akung” dan “Ama”, asli dari  sebuah desa di Cina.

 Keren... aku jadi ikut-ikutan bangga.

Saat mamah sakit, para tetangga rajin menjenguk mamah. Ada yang membawakan makanan ringan, ada yang membawakan masakan, juga ada yang menyelipkan amplop yang berisi sejumlah uang di bawah bantal mamah. Baik itu dari tetangga secara pribadi maupun dari perkumpulan ibu-ibu PKK. Mereka semua care sama mamah.

Saat mamah tidak mau makan, para ibu-ibu tetangga bergantian membujuk dan nyuapin mamah. Mereka tak henti-hentinya mendoakan mamah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Pokoknya diterima semua. Mamah percaya, siapapun yang mendoakan pasti mereka adalah orang-orang berhati mulia yang memang sengaja dikirim Tuhan.

Saat itu kampung jadi terasa sunyi. Tak ada lagi ibu-ibu yang ngobrol di depan teras rumah kami, tertawa, dan bercanda bersama mamah, menceritakan hal-hal lucu, setelah seharian mereka disibukkan oleh berbagai rutinitas dan permasalahan.
Yang ada mereka berbicara sambil berbisik-bisik menanyakan keadaan mamah. Tak ada canda, tak ada tawa, yang ada hanya wajah-wajah prihatin. Sedih, karena mamah, sahabat mereka sedang sakit.

Namun, saat seperti itu tak berlangsung lama.

Pagi  itu para tetangga sudah berpakaian rapi. Mereka berbondong-bondong menuju bis yang telah menunggu di ujung kampung.

Bukan! mereka bukan akan pergi piknik.

Tapi mereka akan pergi ke TPU. Mengantarkan mamah ke peristirahatan terakhir. Mata-mata sembab, mata-mata penuh embun, menjadi pemandangan saat itu. Sebagian orang membawa sapu tangan untuk menghapus air mata yang berderai. Tangis para tetangga mengiringi kepergian mamah.

Begitu juga dengan aku, anaknya.
Mataku basah, air mataku deras menetes,  karena aku menangisi kepergian mamah dan karena aku terharu oleh kepedulian tetangga kepada mamah.

Mamahku pergi saat bulan puasa. Tetangga bilang, saat itu pintu surga sedang terbuka lebar...  Amin, baik-baik di sana ya Mah...

Memory 20 Januari 1998
I miss you Mah...

0 komentar:

Post a Comment