Breaking News

22 February, 2012

Malaikat Maut Itu...

By Yuli Ashar  
Udara malam itu begitu dingin meski aku menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal. Entah kenapa suasana malam ini begitu mencekam. Tak seorangpun yang keluar dari kamarnya, padahal waktu masih menunjukkan pukul 10 malam. Waktu terasa begitu lama. Aku memandangi wajah ibuku yang tertidur disampingku. Ada gurat-gurat lelah di sana. Lalu aku beralih memandang bapak yang mulutnya tak henti menyebut nama Allah. Ya...hampir satu bulan bapapk masuk rumah sakit.

Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sekejap. hawa yang dingin ini begitu menusuk tulangku. Padahal di luar angin sama sekali tidak berhembus. Menurutku suasana malam ini begitu aneh. Binatang malampun tiada terdengar suaranya. Sunyi, sepi, dan entah..aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.

Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dari kamar yang ada di ujung. Dua orang perawat berlari menuju ke sana. Aku, dan beberapa orang dari kamar yang lain ikut berlari ke sana. Seorang gadis, yang kata orang-orang di dekatku masih duduk di bangku SMP, berjuang melawan penyakitnya. Napasnya tersengal-sengal. Seorang perawat menggenjot dadanya berkali-kali memberinya napas buatan.Tapi rupanya Allah menghendaki yang lain. Gadis cilik itu pergi dan ibunya menjerit-jerit memanggil namanya. Aku dan yang lain hanya memandanginya dengan rasa iba.

Dengan langkah gontai aku kembali ke kamar. Aku menarik jaketku lebih rapat lagi. Suasana yang aneh itu masih terasa. Ya...malaikat maut itu baru saja ada di sana mencabut nyawa gadis cilik itu. Aku menutup pintu kamar dengan rapat. Dari balik tirai aku melihat keranda mayat itu lewat. Setelah gadis cilik itu ditaruh di dalamnya dan keranda mayat itu di dorong keluar, hawa yang dingin menusuk tulang itu perlahan-lahan mulai menghangat.
***
Karena tidak ada perkembangan yang berarti tentang kondisi bapak, akhirnya ibu memindahkan bapak ke rumah sakit di kota. Selama dalam perawatan intensive, aku dan ibu sama sekali tidak istirahat. Secara bergantian, beberapa dokter menanyai kami tentang riwayat penyakit bapak. Rasa letih sudah tidak kami hiraukan lagi. Semua kami lakukan demi bapak.

Di ruang khusus penderita penyakit dalam yang sudah parah, bapak berada di sana. Vonis yang diberikan dokter kepada kami adalah bapak menderita gagal jantung. Rasa letih itu makin membuat kami berada di bawah titik nadir. Aku dan ibu menangis.

di dalam ruang intensive itu, ada sekitar 10 pasien termasuk bapak. Tubuh mereka tidak bergerak. Hanya suara napas mereka yang dibantu oksigen yang terdengar serta alat-alat kedokteran yang lain yang aku tidak tahu namanya. 

Tengah malam aku menyambangi bapak. Melihat tubuh bapak yang terbaring tak berdaya membuatku makin tidak kuasa menahan tangis. Kusebut nama Allah berkali-kali di telinganya. Ya Allah...jika Engkau mengijinkan, sembuhkanlah bapakku. Tapi jika Engkau menginginkan bapak ada di samping-Mu, aku akan ikhlas menerimanya.

Tanpa sengaja aku melihat pasien yang ada di samping bapak. Napasnya putus-putus. Aku melihat ujung kakinya yang mulai memucat. Benarkah malaikat maut itu ada di sini?batinku. Aku segera meninggalkan ruangan itu. Dan benar saja. Satu jam kemudian seorang perawat memanggil keluarga pasien dan memberitahukan perihal kematian keluarganya.

Satu persatu pasien yang ada di ruangan itu mulai menemui ajalnya. Ya Allah...benarkah Engkau mengutus malaikat mautMu di sana? Tidakkah engkau menyisakan beberapa orang agar bisa kembali ke keluarganya?. Aku dan ibu mulai dikecam rasa was-was.
***
Aku melangkah keluar dari masjid. Di tengah perjalanan menuju ruang dimana bapak sudah dipindahkan, seorang keluarga pasien yang ada di kamar sebelah tergopoh-gopoh menghampiriku, mengabarkan sesuatu yang membuatku merasa dunia ini seperti runtuh. Bapaaaakk!!!!!!

Ya Allah...ternyata Engkau telah mengutus malaikat maut-Mu untuk menjemput bapakku.
                                                          ~selesai~

0 komentar:

Post a Comment