Breaking News

02 February, 2012

LIVE MUST GO ON

 
Anak keduaku, Harits, 6 tahun, saat ini duduk di kelas I SD. Sejak di bangku TK, sudah menjadi kebiasaannya selalu menceritakan tingkah polah teman-temannya, dan segala hal yang dia temui di sekolah. Sudah menjadi kebiasaanku pula untuk mendengarkan dengan mimik “excited” setiap kali dia bercerita. Saking seringnya dia bercerita, meski jarang pergi ke sekolah anak karena kesibukan, saya tidak ketinggalan berita tentang karakter teman-temannya, prestasi-prestasi mereka, bahkan segala hal di sekitar mereka. Guru-guru, ibu-ibu yang lain, pun pengasuh-pengasuh mereka.

Tapi sudah sekitar lima bulan ini duduk di bangku SD, ada sebuah nama yang paling sering diceritakannya. Itupun tak pernah kudengar cerita positif tentangnya. Teman sekelas anakku itu sebut saja Arya (bukan nama sebenarnya).
Simak bagaimana anakku menceritakan sosok Arya, dari hari ke hari.

“Bunda, Arya tuh ga bisa baca tulis blas lho Bun, huruf-huruf aja ga tau,” untuk cerita yang ini aku masih maklum, karena tidak semua lulusan TK bisa baca tulis, meski di jaman sekarang ini, biasanya lulus TK sudah bisa baca tulis. Tapi tidak mengenal huruf? Sebenarnya aku agak heran juga, tapi kubuang jauh-jauh pikiran itu.

“Bunda, Arya gak mau disuruh nulis ma bu guru, bukunya dilempar, pensilnya dilempar, tasnya dilempar, semua dilempar…” sampai disini aku masih positive thinking, anak itu “hanya” berkepribadian agak sulit.

Dan hari-hari berikutnya:

“Bun, Arya mukulin si A, B trus teman-teman dipukulin semua…”
“Bun, Arya ngrebut uang jajanku…”
“Bun, Arya nglempar sepatu si A ke got…”
“Bun, Arya gak mau duduk dengerin bu guru, maunya ngaco-in kelas terus…”

Dan lain-lain, dan lain-lain, yang akhirnya membuatku penasaran. Mengapa anak itu nakal sekali? Anak siapa dia? Apakah dia anak orang kaya dan sangat dimanja? Atau sebaliknya sangat miskin sehingga orang tuanya berada dalam tekanan ekonomi dan mempengaruhi pola asuh? Atau jangan-jangan ortunya telah divorce? Beribu pertanyaan berkecamuk, dan…tiba-tiba saya menjadi peduli dengan teman anakku itu.

Dalam suatu kesempatan, aku datang ke sekolah untuk menjemput anak. Kesempatan itu kupergunakan  untuk ngobrol dengan ibu-ibu yang lain, termasuk mengorek keterangan tentang Arya, bak seorang detektif.

Dan begitu mendengar latar belakang Arya, berjenak-jenak saya terdiam, lunglai, campur aduk perasaan serba tidak nyaman beradu dalam hati.

Arya, hanya tinggal dengan kakeknya yang sudah sepuh. Bapak dari Ibunya. Ibu Arya sendiri anak tunggal. Neneknya telah tiada. Dulu Arya tinggal dengan kedua orang tuanya. Singkat cerita ketika Arya masih kecil, Bapaknya tergoda perempuan lain dan kemudian pergi dengan perempuan itu meninggalkan Arya dan Ibunya. Tak nampak batang hidungnya hingga kini. Sepertinya klise, seperti cerita roman picisan, tapi akibatnya tak sederhana sama sekali. Ibunya stress, linglung, dan suatu hari pergi dari rumah, menghilang hingga detik ini.

Ya Allah….

Aku memandang Arya sejenak dan segera berpaling karena betul-betul tidak tega. Anak itu tidak nakal, juga tidak bodoh, anak itu hanya tidak mendapatkan hampir semua haknya sebagai anak. Bahkan hak yang paling niscaya untuknya. Kasih sayang.

Karena aku seorang Ibu, bayangan Ibu Arya-lah yang lebih banyak melintas. Aku sungguh menyesali. Kenapa Ibu tidak kuat menerima cobaan ini? Andai Ibu lebih tabah, dan menjadikan Arya sebagai motivasi untuk terus struggle pastilah Arya tidak menjadi seperti ini.  Mengapa tidak Ibu ikhlaskan saja suami dan menyongsong hidup baru dengan lebih tegar bersama amanah Allah ini?

Aku, yang saat ini hidup terpisah dengan anak-anak, betapa mendambanya aku untuk hidup bersama lagi. Menunggu tahun ajaran baru untuk dapat memindahkan sekolah mereka serasa seabad buatku. Mengapa orang lain menyia-nyiakan kesempatan akan kebersamaan dengan buah hati yang begitu payah kita mengandung dan melahirkannya?

Aku memang tidak pernah (dan mudah-mudahan tidak akan pernah) merasakan apa yang Ibu Arya rasakan, dicampakkan seseorang yang menjadi “shoulder to cry on, someone to rely on”.  Alhamdulillah. Mungkin aku hanya “asal ngomong doang”….tapi apapun yang terjadi, bukankah ada Allah…tempat kita bersandar yang sesungguhnya?

Arya adalah korban. Dan mungkin Arya hanyalah satu dari seribu.  Semakin hari semakin banyak kita jumpai pemandangan yang lebih menyedihkan, anak-anak jalanan dan remaja-remaja liar. Peran seorang Ibu lah yang mutlak diperlukan untuk menyelamatkan anak-anak ini, masa depan bangsa ini. Seorang Ibu harus bisa terpaksa dan dipaksa untuk berjuang dan survive, menghadapi kondisi yang paling tidak terbayangkan sekalipun. Selalu ada jalan keluar dari kesulitan yang paling pahit sekalipun.

Bila kujauh dari-Mu
Akan kutempuh semua perjalanan
Agar selalu ada dekat-Mu
Biar kurasakan lembut Kasih-Mu
             (Lirik lagu dari Chrisye, judulnya lupa)

KEEP SPIRIT, Ibu-ibu Indonesia, live must go on, tak ada yang bisa menghalangi kita, untuk terus menghantarkan anak-anak di kesuksesan dunia dan akherat…