Breaking News

17 February, 2012

Lima Belas Kilometer Untuk Handuk Tigapuluh Ribu


 By Rima Farananda  

Pernah tidak para bunda memikirkan barang sejenak sebesar apa usaha yang harus kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu?. Kalau saya sih kebetulan sering....Terkadang sambil memandang laptop satu-satunya yang walaupun sudah agak ketinggalan jaman baik model maupun kualitasnnya,tapi tetap jadi barang rebutan di rumah (yang berebut tentu saja saya dan anak-anak),saya masih teringat betapa susahnya dulu rasanya mengumpulkan cukup uang ekstra agar dapat membeli barang impian kami (lagi-lagi saya dan anak-anak) itu. Terbayang bulan demi bulan yang harus dilalui sampai akhirnya uang yang dikumpulkan cukup buat membeli laptop idaman...

Tetapi sampai saat ini belum pernah rasanya saya menemukan satu barang dalam kehidupan saya yang membutuhkan usaha  seberat usaha yang dilakukan anak dalam  cerita yang akan saya sampaikan ini ...

Tiga tahun yang lalu ketika kami sekeluarga masih tinggal di kota kecil Padang Sidempuan (di Tapanuli Selatan , Sumatera Utara, ) di tahun pertama kami mengontrak rumah di satu Kelurahan miskin di pinggiran kota bernama Sidangkal. Rumah kontrakan kami yang berkamar tiga sempit-sempit dan bercat biru itu merupakan satu-satunya bangunan rumah yang berdinding tembok. Rumah lainnya semuanya terbuat dari papan atau bahkan tepas. Kebanyakan penduduk Sidangkal bahkan masih menggunakan sungai yang terletak tak jauh dari rumah kami  sebagai MCK,karena kamar mandi masih dianggap sebagai satu kemewahan. Tetapi walaupun kehidupan di Sidangkal sangatlah susah (banyak tetangga saya yang hanya sanggup makan dua kali sehari) kami penduduk di sana cukup periang, dan hampir tidak ada yang mengeluhkan keadaan ekonomi rumah tangga masing-masing yang morat-marit.... Hampir setiap sore sambil menonton anak-anak bermain bola di lapangan bola kelurahan, kami para ibu biasa berkumpul di warung Ibu Rangkuti, yang terletak persis di belakang rumah saya, sambil menggendong balita masing-masing dan asyik mengobrol dengan riangnya tentang tugas-tugas rumah tangga, anak-anak yang bandel dan sebagainya aktifitas sehari-hari para ibu rumah tangga...

Sayangnya hanya satu tahun kami tinggal di Kelurahan Sidangkal, karena kemudian suami medapat jatah rumah dinas dari kantor dan kamipun dengan berat hati terpaksa pindah ke Kelurahan Losung Batu, yang suasananya ternyata amatlah berbeda jauh dengan Kelurahan Sidangkal...

Di Losung Batu, kehidupan rata-rata penduduknya sudah s
angat baik secara ekonomi. Beda jauh dengan keadaan Kelurahan Sdangkal yang masuk daerah miskin...

Nah kurang lebih tiga bulan setelah kami tinggal di Kelurahan Losung Batu itulah kami mendapat tamu, tetangga kami dari Sidangkal, seorang ibu bersama tiga orang anaknya datang menjelang maghrib. Keringat mereka masing-masing,ibu dan anak yang bercucuran membasahi dahi langsung menarik perhatian saya. Ada apa gerangan Mamanya Uci  maghrib-maghrib begini datang ke rumah kami ya.....dalam hati aku bertanya-tanya.

"Aku mau minta tolong sama Mamanya Thoriq...",akhirnya keluar juga pengakuan mantan tetanggaku ini. "Si Uci anakku sudah beberapa hari ini tidak mau sekolah,karena dia malu mandi di sungai di dekat rumah...., malu sama teman-temannya,handuknya kan sudah sobek-sobek,jadi dia selalu diejek sama teman-temannya,karena  masih memakai handuknya itu...".

"Karena malu mandi di sungai...sudah dua hari ini dia tidak sekolah...bagaimana mau sekolah, kalau tidak mandi....", tambah mamanya Uci dengan memelasnya.

Oalah......geli campur sedih aku mendengar cerita mamanya Uci ini. "Aku minta tolong sama mama Thoriq, pinjami aku uang tiga puluh ribu untuk membelikan si Uci handuk baru....,karena kalau tidak bisa-bisa dia tidak sekolah-sekolah nanti.....,"ucap mamanya Uci lagi.

Tercenung aku memandangi mantan tetanggaku ini...alangkah hebatnya usaha yang dilakukan oleh ibu dan tiga orang anaknya  ini...berjalan kaki hampir lima belas kilo meter untuk mendapatkan pinjaman uang demi sebuah handuk.....

0 komentar:

Post a Comment