Breaking News

15 February, 2012

LIFE IS TOO SHORT...


 
By Archa Bella 
by:ARCHA BELLA
Seperti status saya sebelumnya,yang udah kangen pengen nulis dimaree..setelah berjuta-juta tahun hibernasi (lebay dikit..:P).Maaf,tidak mengikuti saran bu Indari Mastuti untuk menulis yang gokil dan lucu-lucu, dan belum akan menuliskan cerita tentang (koleksi) pacar-pacar saya yang bejibun...#prangko kaleeee..:P ,seperti saran mbak Dydie Prameswarie.


Saya akan menulis yang sesuai dengan suasana yang melingkupi saya akhir-akhir ini ,dan memang penting untuk dituliskan setelah "mengendus-endus" sesuatu yang sedang "in".Maaf ,kalo tidak ada lucu-lucunya,kali ini Archa Bella sedang ingin serius. (Mengheningkan cipta mulai).....

Akhir-akhir ini beberapa teman saya kehilangan orang-orang yang mereka cintai untuk selama-lamanya, karena sudah mendahului pulang ke rumahNya Sehingga pergi ke rumah duka menjadi sesuatu yang sering saya lakukan. Dulu rasanya saya paling takut kalau membayangkan berada di rumah duka. Kalau bisa memilih mending nggak deh. Merinding rasanya berada dekat tubuh yang sudah terbujur kaku.
Tapi sekarang saya akan lebih memilih kerumah duka daripada pergi kepesta.Karena di rumah duka adalah akhir perjalanan seorang manusia di muka bumi ini. Dan di rumah duka juga kita bisa mengetahui apakah seseorang berhasil atau tidak mengakhiri pertandingan dengan baik.
Saya berkata begini bukan berarti kita menghakimi seseorang saat berada di rumah duka.
(Walaupun pernah saya menjumpai seseorang yang meninggal dunia,sedikit yang berkumpul dirumah duka,hingga mencari kyai yang mendoakannya pun sampai pontang panting kesana-kemari,padahal masih tengah hari,dan ada juga yang orang biasa saja,cenderung tak berpunya,tetapi yang datang  untuk melayat banyak sekali).

No way..... itu bukan bagian kita.
Bagian kita adalah belajar menyadari bahwa hidup kita ada akhirnya.
Dan 'bagian akhir' jauh lebih penting dari 'bagian awalnya'.
Di rumah duka juga kita menyadari betapa fananya kehidupan seorang manusia. Hasil survai sekilas mencatat paling banter sekitar 70-80 tahun.Walaupun sekarang mayoritas umur manusia menurun drastis menjadi rata-rata (cuma) 60 tahun.Penurunan kualitas hidup sepertinya menjadi kuncinya.(Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya tentang makanan yang kita asup).

Tetapi perjalanan hidup di tahun-tahun yang fana itu akan menjadi modal bagi kita untuk menjalani hidup dalam kekekalan. Apakah kita akan menjadi perabot yang mulia atau yang kurang mulia?
Semuanya ditentukan oleh 70-80 tahun yang fana.
Bila di tahun-tahun yang fana tersebut kita hanya sibuk mengumpulkan harta duniawi, hidup secara tak wajar,mencari sesuatu yang tidak perlu,dsb...semuanya itu tidak akan berguna saat kita pulang ke hadapanNya.

Selama dipercaya hidup di dunia, kumpulkan harta di surga dimana tidak ada ngengat dan karat yang akan merusaknya, atau pencuri yang akan membongkar dan mencurinya.
Bagi saya live it to the fullest ini bukan hanya apa yang bisa yang kita kerjakan untuk pencapaian pribadi, tapi juga apa yang bisa kita lakukan kepada orang-orang yang kita kasihi.
Buktinya,Di rumah duka banyak terdengar penyesalan dari kerabat yang ditinggalkan.

Ada anak yang menyesal kurang berbakti kepada orangtua, tidak menyadari bahwa dirinya tidak punya banyak kesempatan lagi untuk membalas kasih orangtua. Ada kakak yang menyesal kurang mengasihi adik, ada teman yang menyesal karena kurang bisa meluangkan waktu untuk bestfriendnya.

Saya juga pernah menyesal dengan sangat dalam, ketika teman sepermainan adik saya yang selalu saya isengin,gara-gara innocent banget alias nurut-nurut aja kalo saya kerjain,suruh ambil ini itu,kutinggal maen petak umpet ,tapi kutinggal tidur...,dsb.ketika itu saya masih SMP dan adik saya SD, harus masuk ke RS.

Beban itu begitu dalam sekali, karena begitu mendadak dia terkena kanker,tanpa kita sadari sebelumnya.Dia bilang ingin dibawakan boneka Teddy Bear,waktu saya menjenguknya.Karena sekolah saya waktu itu cukup padat,ekstra kurikuler yang bejibun,saya lupa amanat dia,hingga akhirnya ibu saya bilang sesampai dirumah ,kalo beliau mau layat Lusy..(namanya)-dia pergi begitu cepat tanpa merasakan kesakitan,krn ketika dia main dengan kami sehari-hari ,tidak tampak dia sedang sakit.
Saya hanya bisa menyesal, ... menangis, ... dan minta pengampunan kepada Tuhan ,saat itu juga saya bergegas membeli boneka yang dia mau,dan kerumah duka,serta menyertakan boneka itu didalam peti untuk bersama-sama dikuburkan.



Teman-teman.... hidup ini singkat.
Pastikan kita mengakhirinya dengan baik.