Breaking News

02 February, 2012

LEGISLATIFKAH AKU?

 
By Pradita Fia 
Bunda, ide menulis ini muncul sejak saya berada disimpang empat lampu merah ketika mau menuju tempat kerja, rasanya sayang kalau hilang begitu saja. Mohon kritik dan sarannya

 LEGISLATIFKAH AKU ?
Orang memanggilku Sri Wedari, sudah satu tahun belakangan ini aku menduduki jabatan sebagai anggota legislative di tinggkat pusat. Perjuangan untuk mencapai sukses seperti sekarang ini kulalui dengan banyak tantangan dan rintangan. Berpacu dengan orang-orang yang penuh ambisi, dan rivalku adalah kaum hawa yang punya jam terbang tinggi didunia politik, kemampuan mereka dalam membuat strategi kadang-kadang membuatku harus ekstra hati-hati dan lebih cerdas dalam menyikapi semua itu. Hari ini setelah siding-sidang yang menyita waktu dan menguras pikiran kami mendapatkan libur satu hari untuk istirahat. Kesempatan yang baik ini tidak kusia-siakan, sudah lama aku tidak melihat kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan pakaian santai dan melepaskan semua atribut kebesaran aku berniat untuk pergi menggunakan bis kota yang dipakai oleh masyarakat kebanyakan.  Aku pergi kesebuah halte bis dipinggiran kota saat sedang asik menunggu bis yang datang tidak jauh dari tempatku berdiri terdengar 2 orang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 dan 10 tahun.
“Dul, kamu nggak sekolah ya, hari ini?”
“Nggak,Met aku sudah nggak sekolah lagi, sudah 6 bulan aku nggak bayar SPP jadi aku dikeluarkan dari sekolah.”
“Lho, kok bisa begitu , Dul, uang hasil penjualan koran mana ?”
“Met, ibuku sudah 6 bulan ini sakit-sakitan, sejak ayah meninggal 7 bulan lalu ibu menjadi murung dan penyakit maagnya sering kambuh. Uang jualan Koran yang dulu untuk bayar SPP jadinya buat beli obat ibu”
“Dul,apa nggak ada keringan dari sekolah kan kita-kita anak miskin ini juga anak bangsa yang punya hak akan pendidikan, katanya sekolah gratis,dana bos ada, buku nggak usah beli, spp nggak usah bayar tapi apa buktinya, kita selalu teraniaya.”
Duk, terasa berhenti sejenak jantungku mendengar percakapan dua orang anak tadi. Tapi aku hanya diaam saja menunggu kelanjutan percakapan mereka.
“Iya, met, orang-orang penting diatas seperti anggota dewan, para menteri apa nggak tahu ya, kalau banyak orang-orang miskin kayak kita yang juga punya hak untuk mendapat pendidikan.Katanya program wajib belajar 9 tahun kayak di spanduk diatas itu , tapi belum selesai Sekolah Dasar saja, karena nggak mampu bayar spp aku dikeluarkan.”
Lagi-lagi aku hanya terdiam mendengar percakapan dua orang anak tadi. “Brak,tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara riuh dipinggir jalan. Kulihat seorang ibu jatuh dari motornya karena menambrak lubang jalan yang belum ditambal. Orang-orang lalu mengangkat ibu itu kepinggir.

0 komentar:

Post a Comment