Breaking News

06 February, 2012

KORUPSI KELAS TERI


  Saat saya masih duduk di bangku kuliah dulu, atas saran dan ajakan seorang teman, kami mendaftar untuk menjadi panitia PON XIII (Pekan Olahraga Nasional) yang waktu itu diadakan di Jakarta.  Alhamdulillah setelah mengikuti seleksi kami diterima. Saya mendapat tugas di bagian pengolahan data sedang teman saya bertugas di lapangan. Sebagai petugas pengolah data saya dan panitia yang lainnya ditempatkan di salah satu ruangan di KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat. Sebetulnya kurang seru sih...! karena suasananya agak monoton... nggak bisa lihat atlit-atlit berlaga di lapangan... Pekerjaan di bagian data entri ini sebetulnya tidak terlalu sulit hanya memasukkan data-data atlit dan nama para  atlit yang mendapat medali ke dalam komputer.

Suatu hari ketika sedang memasukkan data, tiba-tiba saya dan teman-teman yang lain disodorkan selembar kertas yang isinya nama-nama seluruh panitia yang ada di ruangan tempat kami bekerja. Ada apa sebetulnya dengan kertas itu? Waktu itu kami diharuskan menandatangani form di kertas sesuai dengan nama dan nomor urut masing-masing. Ketika giliran saya, terbaca dengan jelas tulisan Rp 10.000 persis di samping kiri kolom tanda tangan. Sebagai orang awam yang juga baru pertama kalinya bergabung di kepanitiaan ini, seketika itu juga saya menanyakan kepada salah seorang teman yang sudah berpengalaman beberapa kali menjadi panitia.  Apa maksud selembaran kertas itu?  Menurutnya, itu berarti masing-masing dari kami akan mendapat bonus Rp 10.000 ... Sebenarnya bonus apa juga saya nggak mengerti? pokoknya alur jalannya begitu... ya saya ikut-ikut saja. “Ya Alhamdulillah dong!”  Gumam saya dalam hati... namanya juga rejeki siapa yang mau nolak…!

Hari demi  hari terus berganti. Rasanya hati ini sudah nggak sabar menanti  kedatangan itu bonus. “Wahai bonus… cepatlah kau keluar dari singgasanamu…" gumam saya saat itu. Biasa lah... namanya juga mahasiswa urusan uang urusan perut... lumayan buat beli nasi bungkus hehehe...

Kira-kira enam hari dari proses penandatanganan, barulah kami dikejutkan dengan sebuah amplop kabinet berwarna putih yang dibagikan langsung kepada kami. "Akhirnya... setelah penantian beberapa hari dapat juga nih bonus..."  girang rasa hati saat itu.  Jari-jemari  pun  turut sibuk, secepat kilat menerima sinyal dari otak untuk cepat-cepat membuka amplop.  Jreng-jreng apa gerangan yang terjadi?? Setelah dibuka saya cukup dikagetkan oleh isinya yang hanya  selembar uang lima ribuan dan dua lembar uang seribuan... olala...apa gerangan yang terjadi? Bukannya sewaktu tanda tangan jelas-jelas tertulis Rp 10.000... mata dan ingatan saya masih normal kok! Kemana larinya sisa uang itu? heran... terheran-heran, bengong... terbengong-bengong perasaan saya saat itu.  Ada rasa kesal, ada rasa kecewa dalam hati "kok cuma Rp 7000?" ucap saya tertuju pada teman  yang sudah berpengalaman itu. Namun si teman  nggak banyak komentar,  entah mengapa? mungkin memang sudah biasa begitu... atau memang dia tidak terlalu peduli.

Seketika itu juga saya langsung tersadar. Ini toh yang namanya korupsi...! Walau hanya Korupsi Kelas Teri.

Just sharing…
Nancy



0 komentar:

Post a Comment